detikHot

Cerita Pendek

Bulan Cinta

Sabtu, 07 Des 2019 11:12 WIB Acik R - detikHot
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta - November yang dingin, suatu pagi jelang subuh, Naema duduk diam di langgar kuno peninggalan buyutnya yang dinding-dindingnya terbuat dari anyaman bambu. Di atasnya, tergantung neon kecil redup seperti mata seorang yang menahan kantuk semalaman. Ia mencangkung saja. Pikirannya terbang kemana-mana; pada anak bungsunya yang jauh di ibu kota dan sudah tiga tahun ini tidak pulang dan suaranya hanya dapat ia kenali dari dalam telepon; pada cucunya yang cantik dan menggemaskan di umurnya yang masih empat tahun dan menyukai kucing dan bunga mawar; pada emaknya yang genap seribu hari kepulangan; pada suaminya yang tergolek lemah di atas pembaringan oleh penyakit tak habis-habis menggerogoti.

Nun jauh dalam ingatannya, ia teringat emaknya pada suatu petang yang gerimis, bulan maulid yang basah, di umurnya yang entah ke berapa, mendedahkan kisah seorang pemuda yang sangat mencintai dan setia pada baginda Rasul. Pada suatu malam yang gulita dan angin berembus dari penjuru padang pasir dan dingin, ia rela tidur di tempat pembaringan Rasul mengenakan selimut yang biasa digunakan beliau dan mengikhlaskan dirinya jika kaum jahiliyah yang mengepung tempat itu membunuhnya sebab mengira kalau yang berada di tempat tidur adalah Rasulullah.

"Pemuda itu bernama Ali. Pemuda yang berani. Kelak ia menjadi menantu Rasul dengan mengawini putri tercintanya, Fatimah. Dari mereka berdua lahir cucu-cucu kesayangan, yaitu Hasan dan Husein," demikian kata emaknya.

"Bagaimana aku bisa menjadi seperti Ali, Mak? Sedang aku bukan Ali dan tidak hidup bersama Nabi?" ia ingat pernah menanyakannya suatu hari pada emaknya. Ia lupa sedang apa saat pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibirnya.

Ia juga mengenangkan suatu kisah yang diterangkan emaknya dengan tekun tak ubahnya perlakuan seorang guru sejarah islam pada murid-muridnya di sebuah ruang kelas atau bahkan melebihi itu. Pernah suatu waktu, saat keluar rumah pada hari raya, Rasul melihat anak-anak bermain bersama, kemudian Rasul mendapati seorang anak 'berbeda' menangis seorang diri. Ketika ditanya kenapa ia menangis, si anak menjawab kalau ayahnya terbunuh saat perang bersama Rasulullah.

Pada saat itu, si anak tidak tahu kalau yang berada di hadapannya dan bertanya padanya ialah Rasul. Ia tidak memiliki ayah. Ibunya menikah lagi dengan laki-laki lain. Rumahnya diambil, ia tidak diberi pakaian dan makanan. Ia kelaparan dan kedinginan. Ia diusir dari rumahnya oleh ayah tirinya itu. Jadilah ia yatim yang sendirian, dekil, kotor, telanjang, tak ada yang peduli. Makanya ia menangis.

Mendengar penuturan yang polos itu, Rasul pun memeluknya dan menawarkan diri sebagai ayahnya, Aisyah sebagai ibunya, Ali sebagai pamannya dan Fatimah sebagai saudarinya, Hasan dan Husain sebagai saudaranya. Anak kecil itu menganggukkan kepala dan berhenti menangis. Barulah ia tahu siapa yang berdiri di hadapannya itu.

"Kita tidak memiliki apa-apa, Nak selain kerinduan yang panjang dan pengharapan yang indah, kita tidak memiliki apa pun untuk dipersembahkan. Pada bulan cinta ini, emak hanya berharap kalau kelak dapat berjumpa dengan Rasul. Berjalan di sisinya atau di belakangnya sebagai umatnya yang beruntung. Aku ingin sekali mencium tangan yang pengasih itu. Waktu subuh, hari Senin dua belas Rabiul Awal tahun Gajah, ketika Abrahah dengan gajah-gajahnya ingin menundukkan kota Makkah tetapi berakhir binasa, Sang Rasul lahir."

"Beliau lahir yatim, selama hidup tidak pernah berjumpa dengan ayahnya, Abdullah. Kakeknya, Abdul Muthalib, sangat gembira mendengar berita kelahiran cucunya, ia bergegas masuk ke kamar Aminah dan mengambil cucunya itu kemudian menggendongnya mengelilingi Ka'bah. Ia memberinya nama Muhammad. Kita mesti bersuka cita, Nak. Bahkan pohon-pohon, dedaunan, tetumbuhan, buah-buahan, ikan-ikan di laut, dan semesta menyambut dengan suka cita peristiwa lahirnya Kekasih."

Pikiran Naema terus mengembara. Ke puncak-puncak gunung, menelusuri lembah dan bebukitan, hutan-hutan, melintasi laut, ke awan-awan, merayap pada lorong-lorong berkelok; ia hanya mendapati dirinya yang sendirian di langgar kuno itu.

Dua hari lalu si bungsu menelepon dari ibu kota. Ia menanyakan apakah di bulan Maulid ini orang-orang sama merayakannya dengan melantunkan barzanji dari rumah-rumah atau musala-musala di desanya. Si bungsu juga bertanya, apakah di masjid besar akan diadakan maulid agung seperti halnya yang sudah-sudah?

Memang begitulah, setiap tahun pada bulan cinta itu, di desanya ramai orang-orang membaca barzanji bersamaan dalam suatu tempat. Itu bergilir dari satu rumah ke rumah lainnya. Kadang cuma beda menit pada jam di dinding. Sedang hari atau tanggalnya sama. Tergantung di mana tempat dan siapa tuan rumahnya. Kadang, beberapa di antaranya yang memiliki kecukupan atau bahkan lebih dari cukup, mereka mendatangkan seorang penceramah dari kota seberang untuk menyemarakkan maulid. Mereka bilang, supaya lebih khidmat dan pesan-pesannya ngena, katanya.

Jika diadakan di masjid besar, masjid paling besar di desanya itu terletak tidak begitu jauh, sekira lima puluh meter dari rumahnya, biasanya anak-anak sehabis barzanji dibaca, ketika talam-talam penuh buah dihidangkan, mereka dengan cekatan memungutnya tanpa sungkan. Dan memang begitu yang diharap. Jangan sampai di talam itu ada sisa. Apel, delima, mangga, jeruk, salak, pisang, banyak lagi, jambu-jambu sebesar kepala, dan kue-kue seperti serabi, kukus, kue lapis, kue nanas, beserta aneka lainnya harus dibawa pulang oleh mereka.

Ayah-ayah atau paman mereka, atau siapa pun yang melihatnya di masjid besar itu akan tertawa atau tersenyum begitu saja melihat polah mereka. Para orang tua merasa menemukan diri mereka dalam diri anak-anak berebut isi talam di hadapannya. Mereka juga pernah mengalami hal-hal menyenangkan seperti itu, dulu, di masa yang sudah lampau. Anak-anak itu bahagia. Orang-orang tua bahagia.

Tapi sebetulnya ada yang urung ia katakan pada si bungsu, ketika masih bercakap dalam telepon, perihal yang terjadi di perayaan maulid dua tahun belakangan di masjid besar itu. Bahwa beberapa kelompok orang seolah ingin memperlihatkan kalau mereka lebih berhak mengadakan perayaan Maulid dan paling pantas mencintai Kanjeng Nabi ketimbang yang lain. Itu diperlihatkan dengan laku mereka 'yang lain'. Sesuatu yang dirayakan bertahun sebelumnya dengan gayeng, penuh rukun, saling jaga, mengutamakan isi ketimbang bungkus, berubah menjadi keinginan pamer, kesombongan yang dipertontonkan, munafik.

Naema khawatir dengan kenyataan itu. Ia khawatir jika hal itu berlanjut terus menerus. Ia lebih-lebih khawatir pada dirinya, takut-takut kalau keakuan itu menimpanya. Ia tidak mengatakannya pada anaknya itu, "Baiknya aku tidak perlu mengatakan apa-apa," katanya. Dan percakapan terus saja berlangsung tanpa menyinggung sesuatu yang menurutnya sensitif.

***

"Kapan kita dapat menyelenggarakan pembacaan barzanji di rumah dengan mengundang tetangga, kerabat, dan para guru, Mak?"

Naema masih duduk di langgar kunonya seorang diri. Ia menimbang-nimbang percakapan dengan si bungsu itu. Sebetulnya ia juga ingin merayakan bulan maulid seperti yang ditanyakan si bungsu. Sekali saja dalam hidupnya sudah cukup, pikirnya. Tapi mana mungkin? Melihat kondisi dirinya terlebih suaminya yang tidak bisa melakukan apa-apa.

Sudah sepuluh tahun lebih suaminya menderita sakit. Melangkahkan kaki pun begitu susahnya apalagi hendak kerja. Dan penyakit itu seolah tidak mau pindah tempat atau menghilang dari tubuh suaminya. Meski sudah dicarikan obat untuk itu, seolah percuma saja. Tak ada kesembuhan. Meski begitu, bukan tidak mungkin jika nanti akan menemukan jalan bagi kesembuhan itu.

Begitulah Naema senantiasa menenangkan diri tiap kali menyadari kondisi suaminya itu dan tersenyum seperti bunga pagi hari yang terkena limpahan sinar matahari. Tak ada yang menginginkan itu terjadi; Naema tidak, suaminya pun tidak. Naema kerap kali bingung sendiri dan teramat kasihan pada suaminya yang seolah hanya tergolek pasrah.

"Coba saja bilang ke kakak, Mak, kalau di rumah kita mau merayakan Maulid. Kakak pasti dapat membantu. Iya kan?"

Tentu saja. Tapi itu tidak dilakukan Naema. Ia tidak mau membebani anak sulungnya itu. Bukankah selama ini yang sering mengirim uang untuk keperluan emak dan berobat bapak adalah anaknya itu. Belum lagi bila ada keperluan-keperluan lain yang mendesak. Mungkin begitulah yang dialami orang tua terhadap anak-anaknya, termasuk Naema.

Meski sebetulnya ia pantas meminta apa pun pada anak-anaknya, apalagi cuma sekadar beberapa lembar uang untuk keperluan perayaan Maulid, ia tidak melakukannya kali itu. Naema mencegahnya. Ia merasa tidak enak hati. Ia tidak melakukan itu. Bisa mungkin ia hanya menyusahkan anak sulungnya, begitu pikirnya. Ia akan terus menyembunyikan keinginannya itu, persis seperti cara emaknya dulu yang menyembunyikan hasratnya itu, supaya si bungsu tidak perlu merasa cemas dan tidak perlu menyusahkan si sulung. Lagi, si sulung sudah punya anak. Tentu beban hidupnya makin bertambah pula. Biarlah nanti saja, katanya dalam hati.

"Sudahlah, bisa tahun depan. Atau tahun depannya lagi. Barangkali nanti kedapatan rezeki kita. Atau bisa juga sepulang kamu dari ibu kota. Bukankah kamu bakal punya uang simpanan?" barangkali hanya itu yang dapat dikatakan olehnya pada si bungsu. Telepon itu kemudian putus setelah saling berucap salam.

Dalam dada Naema, kerinduan pada anak-anak terutama sekali terhadap cucunya yang cantik dan menggemaskan itu makin membelukar. Dan barangkali hanya seorang emak yang dapat menampung segala bentuk kerinduan dalam dadanya. Wajah-wajah mereka ngambang satu persatu di pelupuk matanya.

***

"Kamu tidak perlu menjadi Ali. Dan sesungguhnya kamu tidak mungkin menjadi Ali kan? Tapi kamu dapat menjadi seorang yang seperti Ali dengan caramu sendiri. Menjadi layaknya sahabat-sahabat Rasul yang terkenal itu tidaklah mungkin seperti para assabiqunal awwalun demikian pula dengan generasi berikutnya yang sangat setia. Tetapi, kamu dapat melakukannya seperti orang tua-orang tua kita mencintai kanjeng Nabi."

"Ingatlah ini baik-baik, Na, jika kau memiliki harta yang cukup, berbagilah pada orang lain lebih-lebih tetangga. Jika pun tak ada yang dapat kamu bagikan, berbaik-baiklah dengan mereka sebab begitulah lelaku Rasul. Jangan memusuhi mereka. Jangan menyakiti mereka dengan lisan dan tanganmu. Beliau juga sangat menyayangi anak-anak kecil dan kaum lemah."

Naema nampak kaget. Emaknya seperti berbisik padanya kali itu. Ia kemudian bangkit menuju kamar. Ia masih menyimpan setoples manisan gula di lemarinya. Ia akan membagikannya nanti pagi pada anak-anak kecil yang datang mengaji di musala dekat rumahnya itu. Matanya mulai menampakkan binar-binar kebahagiaan. Tentu kebahagiaan amat sederhana yang ia rasakan jelang subuh itu.

"Bukankah sekarang bulan cinta?" bisiknya pelan seraya tersenyum dan kedua tangannya dengan kuat menggenggam toples berisi manisan gula.

Setelah Rasul membawa anak kecil yang sudah berhenti menangis itu ke dalam rumah, demikian sepotong kisah yang membuat dada Naema berdesir, begitu indahnya akhlak Rasul, katanya, Rasul memberinya makanan dan memakaikan baju untuk hari raya pada anak kecil itu. Jadilah yang semula lapar, kenyanglah ia. Semula telanjang, berpakaianlah ia. Yang paling membahagiakan baginya ialah Rasulullah menjadi ayahnya, dan keluarga Rasul menjadi keluarganya. Maka ia kemudian keluar sambil berlari dengan riang gembira. Tak ada lagi kemurungan dan rasa sedih di wajah dan ke dua matanya itu. Anak-anak sebayanya tampak heran mendapati perubahan itu.

Naema berucap, "Talaa al badru 'alaina...." begitu lirih, sangat lirih. Ketika itu fajar di langit nampak megah. Langit begitu bersih, anggun.

Pulogebang, 2019

Acik R kelahiran Sumenep, Madura. Suka menulis cerpen dan puisi. Kini tinggal di Jakarta

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com



Simak Video "Gerakan Relaksasi Beragama ala Penulis Feby Indirani"
[Gambas:Video 20detik]
(mmu/mmu)

FOKUS BERITA: Cerpen detikHOT
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikhot.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com