detikHot

Cerita Pendek

Atas Nama Kehilangan dan Rasa Bosan Penuh Amarah

Sabtu, 30 Nov 2019 12:30 WIB Susanto Polamolo - detikHot
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta - Lelaki paruh baya itu membuka kaosnya sambil tertawa dan memperlihatkan dua tatonya di lengan atas sebelah kiri dan kanan. Gambarnya sulit dimengerti, terlihat seperti jenis old school tattoo: segi empat dengan garis-garis tebal, bloking kasar, ada gambar wajah suku Indian terselip di sana.

Ia juga menunjukkan satu tatonya lagi di bagian punggung. Sebuah gambar lingkaran tak teratur membentuk garis wajah dengan mata yang besar sebelah dan mulut menganga tanpa hidung. Melihat tato yang terakhir ini aku hampir mati menahan ketawa. Orang yang menggambarnya pasti punya masalah serius dengan imajinasinya sendiri.

Usu, begitu lelaki tua berkumis tebal itu biasa dipanggil. Ia bilang tatonya didapat dari seseorang yang baru belajar menggunakan mesin tato. Saat itu ia percaya saja karena teman baiknya sendiri-yang tak lain adalah bapakku --yang mengenalkan si tukang tato ketika mereka sedang minum-minum di belakang terminal lama. Rek, nama si tukang tato itu. Sesudah berhasil meyakinkan Usu dengan menggambar pola tato di kertas, ia menyuruh Usu menenggak lebih banyak Cap Tikus agar tidak terlalu merasakan perih saat ditato. Dan tak lama kemudian dua orang yang tengah mabuk terlihat sedang menikmati proses kreatif mereka.

Hasilnya menjadi semacam kenangan buruk bagi salah satu pihak. "Keparat itu membuatku menanggung malu dengan gambar-gambar sialan ini seumur hidupku!" kenang Usu menggeleng-gelengkan kepalanya dan tersenyum kesal sambil mengenakan kembali kaosnya.

Cerita belum selesai di situ. Usu bilang, pada keesokan harinya ia mencari bapak dan Rek dan menemukan kedua makhluk itu sedang asik ngopi-ngopi di warung dekat terminal baru. Dengan cepat Usu berlari ke arah warung dan langsung melayangkan kombinasi hook dan oppercut ke bagian wajah dan rusuk Rek. Mendapatkan serangan mendadak Rek hanya meringkuk pasrah. Bapakku melerai dengan cara menarik badan Usu lalu membantingnya, saat itulah Rek lari lintang pukang sambil memegang hidungnya yang mengeluarkan cairan berwarna merah segar.

Emosi Usu telah naik sampai ubun-ubun melihat bapak menghalanginya menghajar Rek. Seketika Usu mengirim cakaran ke muka bapak seperti seekor macan tutul betina yang sedang masa puber. Bapak membalasnya dengan menjambak rambut Usu dan memberikannya serangan dengkul ala muway thai (yang ini aku mendengarnya dari bapak). Mereka kemudian berkelahi sampai tak tersisa lagi tenaga.

"Dulu, aku dan bapakmu memang sering berkelahi tapi itu membuat pertemanan kami menjadi kuat. Kami terbiasa membabat persoalan di antara kami dengan berkelahi. Lebih memuaskan. Setelah itu selesai. Tak ada yang disimpan dalam hati."

"Ya, bapak juga mengatakan hal yang sama. Tapi cerita tentang tato-tato itu, baru hari ini aku mendengarnya, Om."

Usu tersenyum. Di luar hujan mulai turun rintik-rintik. Aku suka hujan.

"Tunggu sebentar, kubuatkan kopi untukmu."

Oh, lelaki tua lucu dan baik, batinku. Sambil menunggu aku memperhatikan rumah Usu. Sejak aku datang tadi rumah ini sepi sekali. Hanya terdengar suara gemericik air dari aquarium berukuran 80 x 40. Di dalamnya cuma ada seekor ikan cupang yang berenang ke sana kemari dengan wajah bingung. Aku yakin ikan malang itu pasti ingin bunuh diri.

Tak lama kemudian Usu telah kembali dengan segelas kopi di tangannya. Sesudah meletakkannya di hadapanku ia mengambil bungkus rokok di saku celananya, melolos sebatang dan membakarnya. Seakan ia tahu yang kupikirkan, ia berkata, "Ya, aku tinggal sendirian di rumah ini. Dulu aku pernah menikah. Tapi rumah tanggaku hanya bertahan tiga bulan. Aku menceraikannya."

Terus terang aku agak terkejut pengakuan Usu ini. Bapak memang tak pernah menceritakan tentang kehidupan asmaranya. Tak kusangka ternyata suram juga. Tiba-tiba sebuah pertanyaan kepo dan konyol meluncur begitu saja dari mulutku.

"Kenapa? Apa Om tidak mencintainya?"

Usu menatap wajahku sebentar, lalu menyeringai. "Ah, sudahlah, lupakan saja. Itu semua masa lalu," ujarnya sambil menghisap rokoknya dalam-dalam.

Kalau boleh memilih, aku lebih suka mendengarkan kisah-kisah mengasyikkan pengundang tawa saja. Tetapi kisah hidup seseorang tak seperti dongeng yang mudah ditebak. Cerita bisa berbelok kemudian terjungkal. Cerita Usu tentang pernikahannya yang gagal sangat mengundang rasa penasaran. Ada sesuatu yang belum terjelaskan di sana: jika ia tidak bisa mencintai perempuan yang dinikahinya artinya ada seorang perempuan yang melekat dalam hatinya dan tak tergantikan. Siapakah dia?

Usu kembali menatap wajahku, lalu menyeringai lagi, "Ya ampun, bapakmu memang keparat. Dia pasti tidak berani menceritakannya padamu. Baiklah, baiklah. Aku akan menceritakannya."

Tiga puluh lima puluh tahun silam, Usu jatuh hati pada seorang perempuan tapi tak berani mengemukakan perasaannya. Suatu saat perempuan itu berkenalan dengan sahabat karibnya. Makin hari keduanya makin dekat dan Usu merasa makin galau menjalani hari-harinya. Suatu hari sahabat karibnya datang memberitahu kalau ia akan menikah dengan perempuan itu. Usu tidak menunjukkan wajah kecewa apalagi marah. Waktu telah menguji persahabatan keduanya. Usu hanya merasa ia tak berguna dan tak mampu memperjuangkan apa-apa yang tumbuh dalam hatinya. Sedikit pun Usu tidak keberatan perempuan yang ditaksirnya sejak lama menikah dengan sahabat karibnya.

Oh, lelaki tua lucu, baik, dan tegar, pikirku.

"Kedua pasangan itu kelak adalah bapak dan ibumu. Tak masalah. Bapakmu sahabatku. Dan aku sangat menyayangi ibumu sejak pertama kali melihatnya. Keduanya pantas mendapatkan kebahagiaan. Aku harus pastikan itu. Lalu kuputuskan pergi."

Suara Usu terdengar bergetar. Dan kerongkonganku terasa kering. Jujur saja aku kaget dengan pengakuannya ini.

"Bapakmu pasti mengira aku marah padanya karena aku tak datang saat dia dan ibumu menikah. Aku juga tak datang melayat saat ibumu meninggal. Dan aku yakin dia menyuruhmu datang kemari untuk memastikan itu kan? Asal kau tahu, aku sudah kehilangan orang yang kusayangi dua kali. Pertama, dia menikah dengan bapakmu. Kedua, dia meninggal. Alasan apa yang kumiliki untuk menghadiri pernikahan mereka, dan apa yang membuatku cukup kuat berdiri menyaksikan ibumu dimasukkan ke liang kubur. Aku rasa Tuhan benar-benar adil sekarang. Dia membuat bapakmu merasakan apa yang menyiksaku selama ini: kehilangan."

Aku menangkap kilatan luka di mata Usu --yang tak berapa lama kemudian berkaca-kaca. Ia berusaha menutupinya dengan memasang senyum dan menghisap rokoknya.

Pikiranku masih berusaha keras mencerna apa yang baru saja kudengar, mencocokkannya dengan apa yang membawaku kemari. Cukup lama aku tercenung, sebelum akhirnya kukatakan pada Usu kalau yang menyuruhku datang bukan bapak, melainkan ibu.

"Ibu tahu Om tinggal di sini. Ibu yang memberiku alamat Om. Ibu menyuruhku datang kemari untuk mengajak Om bertemu bapak," kataku pelan.

Usu terkejut. Ia menatap wajahku lekat-lekat, seperti menunggu sesuatu. Mungkin semacam pesan lain dari ibu, tapi tak ada pesan lain. Lelaki bertato dan berkumis tebal itu mengalihkan pandangannya ke luar rumah. Di luar hujan telah tumpah lebih deras. Itu adalah senja yang muram.

Dan aku baru tersadar, seperti itukah rasanya kehilangan?

***

Tiba-tiba aku merasa kerdil. Cerita tentang tato-tato Usu, persahabatannya dengan bapak, dan kisah murung tentang betapa ia sangat mencintai ibuku-yang baru saja kudengar, tentu saja tak bisa dibandingkan dengan kisah persahabatanku bersama Jeksen, karibku di SMA lima belas tahun lalu. Kami berdua pernah baku pukul gara-gara ia tak bisa menjaga rahasia dan mengaku kepada wali kelas kalau siswa yang sering merokok di belakang sekolah adalah aku dan dirinya. Pengkhianat!

Karena pengakuannya, kami berdua kena tempeleng bolak balik oleh bapak kepala sekolah-yang jari-jarinya penuh dengan cincin-cincin batu, lalu dipaksa menghabiskan enam batang rokok kretek yang disumpal ke mulut kami sekaligus. Dan bertahun-tahun kemudian, belum lama ini, kami memutuskan persahabatan, persis satu jam sesudah Jokowi menunjuk Prabowo sebagai menterinya. Selain cerita-cerita menyedihkan ini, aku dan Jeksen tak punya kisah apa pun lagi untuk dibanggakan.

Ternyata hidup jadi lebih terlihat bermakna setelah seseorang melewati kecelakaan-kecelakaan dalam persahabatannya. Aku rasa begitu. Aku sedih kenapa baru menyadarinya. Tak tersisa apa-apa selain kemarahan dan rasa bosan yang mengendap.

Dan aku baru tersadar kalau aku sudah tak lagi punya ibu. Dan teman baik.

Seperti inikah rasanya kehilangan?

***

Hari itu aku langsung pulang naik bis malam. Usu tak mau kuajak menemui bapak. Esoknya aku pergi ke makam ibu dengan kepala agak pening. Di sana aku menceritakan pertemuanku dengan Usu. Sesudah itu meluncur ke kos Jeksen. Sesampai di sana kulihat anjing kesayangannya sedang tidur di depan pintu kamar. Aku menendang perutnya. Anjing itu kaget lalu menggonggong. Jeksen keluar dari kamarnya. Belum lagi ia bicara aku langsung menghadiahinya dollyo chagi andalanku!

Susanto Polamolo founder Sabua Buku

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com



Simak Video "Gerakan Relaksasi Beragama ala Penulis Feby Indirani"
[Gambas:Video 20detik]
(mmu/mmu)

FOKUS BERITA: Cerpen detikHOT
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikhot.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com