detikHot

Cerita Pendek

Keroncong Payung Teduh

Minggu, 17 Nov 2019 11:04 WIB Wisnu Suryaning Adji - detikHot
Ilustrasi: Luthfy Syahban/detikcom Ilustrasi: Luthfy Syahban/detikcom
Jakarta - Kami tidak ingin membangunkan tetangga-tetangga akibat tengah malam menyanyikan lagu sedih tak henti-henti. Guitarlele, contra bass, gitar, trumpet, dan tentu saja suara berat seorang lelaki berambut nyaris kribo memainkan keroncong, jazz, bossa, atau entah apa.

"Ah, ini bukan lagu sedih. Makanya, berpotensi bikin tetangga bangun."

"Memangnya, lagu sedih bikin mereka tidur?"

"Ya, tidak juga. Intinya, ini ribut."

"Ini musik. Bukan ribut."

"Kalau mengganggu telinga, ya, ribut namanya."

"Yang ribut itu mereka yang mencoba mendefinisikan musik kita. Kita santai saja, mengapa mereka yang harus berdebat?"

Diaaam! Ada yang berteriak, disambut pekik kucing yang segera melompat dari atap dan klontang panci jatuh berdentang-dentang. Kami langsung diam. Apakah panci itu sebenarnya ditujukan pada kami? Kami tidak tahu, meski terpaksa kami harus iba pada kucing berlibido tinggi yang ikut jadi korban. Dia gagal bersyahwat. Untunglah kami menggunakan cajon, dan bukan drum.

"Apakah kita harus berhenti?"

"Sebaiknya."

"Sebelum kondensor pendingin udara yang dilemparkan kemari."

"Kita pindah ke taman saja. Di sana selalu ada orang-orang kesepian."

"Menghibur mereka?"

"Mungkin tidak menghibur, tapi minimal musik kita menunda mereka bunuh diri."

"Atau, malah mempercepatnya."

"Ah, bukan urusan kita. Tidak berarti musik sedih adalah ajakan bunuh diri."

"Sejak kapan kita main musik sedih?"

"Kita jadi main di taman?"

"Cabul!"

"Lah?"

"Aku pakai sarung saja ya."

"Terserah. Asal bukan tidak pakai celana."

"Memangnya kenapa kalau tidak pakai celana?"

"Urusanmu. Tapi... kalau sampai ada nenek-nenek kena serangan jantung, itu akan jadi urusan kita."

"Sejak kapan kita mengurusi urusan orang?"

"Cajon-nya perlu dibawa?"

"Bawa saja. Biar rancak. Biar tidak dikata kita sedang main lagu sedih."

"Memangnya lagu rancak tak bisa sedih?"

"Bisa-bisanya yang dengar saja, ini mau dikata apa."

"Biarkan saja musik kita dikata apa. Bukan urusan kita."

"Apa kau akan membiarkan nenek-nenek kena serangan jantung gara-gara melihatmu tidak pakai celana?"

"Tas cajon-nya di mana?"

"Ah, nenek-nenek sudah biasa lihat orang tidak pakai celana."

"Tapi, bukan alasan untuk tidak pakai celana."

"Mana aku tahu. Tanya sama yang pakai."

"Siapa yang pakai?"

"Pakai sarung sajalah."

"Siapa lagi yang main cajon di sini?"

"Cajon-nya dibungkus pakai sarung?"

"Aku yang pakai sarung. Cajon ya dibawa pakai tas."

"Mana?"

"Mana aku tahu. Siapa yang buka?"

"Tadi aku taruh dekat sofa."

"Mana?"

"Kalau lihat pakai mata."

"Memang bisa lihat pakai hidung?"

"Terserah kau."

"Ini dia."

"Yuk, turun."

"Yuk."

"Yuk."

"Yuk."

"Yuk."

***

Taman tak pernah gelap meski tengah malam. Pemerintah sudah memasang lampu sorot besar-besar supaya tempat ini tak jadi lokasi mesum gratis. Mesum tidak boleh gratis. Minimal sewa hotel, atau pakai kamar sendiri, asal tidak takut ketahuan orangtua atau istri yang sah. Kalau dengan istri atau suami jadi bukan mesum namanya, tapi cinta. Mesum dan cinta-yang di tengah-tangahnya ada nafsu-ternyata punya batas di antaranya berupa surat legalisasi pernikahan. Buku nikah. Katanya, tanpa legalisasi, nafsu cuma jadi kemesuman; dan nyatanya, lampu halogen tak bisa menerangi otak yang sudah gelap dari asalnya.

"Ah! Kita sudah tua-tua. Untuk apa mengurusi permesuman?"

"Sudah, diam! Ambil alat masing-masing."

"Orang latihan band disuruh diam? Absurd."

"Kita akan mengiringi orang mesum?"

"Boleh aku yang pegang cajon?"

"Tidak ada orang mesum. Terang begini."

"Terus, aku pegang apa? Aku tidak bisa main trumpet."

"Kau pegang guitarlele saja. Aku yang main trumpet."

"Permainan trumpetmu jelek."

"Pokoknya, aku pegang cajon."

"Putar posisi, nih? Ya, sudah. Kau yang main gitar. Aku main contra-bass."

"Aku pegang apa?"

"Aku yang nyanyi."

"Ya, pegang apa yang sisa saja."

"Dari pada aku pegang perempuan itu?"

Serempak mata kami berputar, tampak seorang perempuan berkaki jenjang dengan rok pendek dan stiletto yang bisa dipakai sebagai alat pembunuhan. Tangan kanannya memegang telepon genggam, jari tangan kirinya yang lentik menjepit rokok yang abunya sudah kepanjangan, sementara matanya lurus menerawang, entah memandang apa.

"Perempuan patah hati."

"Sotoy!"

"Perempuan mana yang tengah malam merokok sendirian di taman, kalau bukan perempuan patah hati?"

"Mungkin dia sedang malas pulang saja."

"Malas ketemu suaminya yang hiperseks."

"Shit! Masa perempuan secantik itu sudah kawin?"

"Memangnya perempuan cantik tidak boleh kawin?"

"Kucing yang kawin!"

"Jadi main di sini tidak sih?"

"Cabul!"

"Lah?"

Musik kemudian berbunyi tililiw-tililiw, karena bunyi guitarlele melenting-lenting di atas nada, seperti artis sirkus main trampolin dan mencelat-celat berakrobat di udara. Kami tidak tahu persis musik ini layaknya disebut apa, sudah bagus para kritikus itu menyebut ini musik, bukan sekadar keributan. Kategori sepertinya hanya dibutuhkan oleh para ilmuwan pintar, bukan untuk seniman.

Belum sempat keributan ini berlangsung lama, sudah kembali berhenti saja.

"Seniman juga kategori kan?"

"Kau seniman?"

"Perempuan itu bukan seniman."

"Jadi main di sini tidak sih? Ngomong melulu!"

"Tahu dari mana dia bukan seniman? Lagi pula, kalau perempuan, kategorinya seniwati!"

"Wan, Wati, Imah, Budi, Arman...."

"Jadilah. Asal kita tidak terus-terusan ngomong kacau begini."

"Dari penampilannya terlihat kan?"

"Lagu apa?"

"Memang kenapa penampilannya? Terlalu kantoran?"

"Ah, kau tidak mau dikategori, tapi mengkategori orang."

"Lagu kita sendiri?"

"Bosan. Lagu orang yuk!"

"Oke. Lagu lama saja. Lagu yang tentang kucing itu. Lupa judulnya."

"Kucing Kawin? Apa Kucing Garong?"

"Memangnya seniwati tidak boleh rapi kantoran?"

"Malu Sama Kucing? Itu bukannya lagu anak-anak?"

"Boleh. Terserah mereka mau pakai baju apa."

"Romaria!"

"Pemain bola?"

"Lagu kucing tidak cuma itu. Yang aku maksud lagu lama."

"Itu Romario, setan!"

"Jadi, tidak ada dasar yang bisa menguatkan bahwa ada hubungan antara penampilan orang yang berbaju rapi kantoran dengan profesi sebagai seniman atau bukan-seniman."

"Aih! Pak Dosen omongnya berat!"

"Kesimpulan yang gegabah."

"Aku ingat! Aksi Kucing!"

"Not fair."

"Ya, sudah. Aksi Kucing 1)."

Kucing beraksi di taman. Mengadu domba anjing dan tikus. Dua ekor kucing mesum di taman, tak ada larangan untuk mereka. Mengiringi mereka berbuat mesum membuat kami tertawa-tawa. Akhirnya, terjadi juga. Tapi, kegemerlapan Jakarta adalah cermin kepahitan yang gagal diredamnya 2). Di sela-sela gemerlap cahaya lampu sorot taman, sisa-sisa kerling di gedung-gedung tinggi dan lesatan-lesatan lampu mobil, seorang perempuan memegang telepon genggam di tangan kanan dan sebatang rokok yang abunya kepanjangan di tangan kiri, sambil merenung sendirian. Apa yang dipikirkannya? Apa yang tidak dipikirkannya?

"Pssst. Berhenti dulu!"

"Apalagi sih?"

"Perempuan itu menangis."

"Lalu?"

"Ah, bukannya tadi kita sepakat untuk tidak mengurusi urusan orang?"

"Dia sesenggukan."

"Sedang pilek kali."

"Sesenggukan? Aku jadi ingat Saur Sepuh."

"Sudah. Tidak usah diurus. Biarkan dia menangis."

"Apakah dia menangis karena dengar lagu kita?"

"Lagu Aksi Kucing mana bisa bikin orang nangis."

"Atau, permainan kita segitu menyedihkannya?"

"Menyedihkan bagaimana?"

"Sekalian kita kasih lagu sedih saja."

"Bukannya dihibur!"

"Mungkin dia menangis karena permainan kita...kacau?"

"Permainan trumpetmu seperti orang kena asma!"

"Atau, kita kasih lagu gembira?"

"Kau juga kacau!"

"Benar. Dia patah hati."

"Ya, sudah. Kita balik ke formasi awal."

"Formasi andalan Kai Pang!"

"Atau, kena LDR!"

"Tongkat pemukul anjing! Hiaaat!"

"Hush!

"Dia sedang rindu pada kekasihnya."

Angin semilir menembus rimbun taman, menegaskan kerinduan. Datang dari mimpi semalam. Bulan bundar bermandikan sejuta cahaya 3). Kami perhitungkan nada-nada yang berikutnya dirangkai jadi keroncong seadanya, namun lewat itu kami sedang mencoba bercerita. Dimengerti atau tidak dimengerti bukanlah sesuatu yang perlu dibicarakan lagi, karena pada akhirnya, semua kata dan cerita cuma kami yang rasa.

Pernahkah merasakan kerinduan yang teramat sangat pada sesuatu atau seseorang? Yaitu, ketika semua yang ada dalam dada dan pikiran tak kunjung terlampiaskan. Kerinduan adalah seni, maka cobalah dinikmati. Angin Pujaan Hujan berkunjung saat musim hujan tiba, menjadi waktu terbaik. Ketika matahari terik dan kita mencari tempat berlindung dari sengatnya, atau ketika langit mendung dan hujan turun. Angin Pujaan Hujan meneduhkan kita dari keduanya 4).

Lagu keroncong campuran, atau entah apa, melompat-lompat di taman. Perempuan itu bangkit dari kursi besi yang pasti sudah jadi panas, menatap kami. Apakah karena kami ribut? Tidak tahu. Kami jual mahal, cuma tersenyum pada taman. Lampu halogen putih gemebyar memperjelas rautnya. Sampai perempuan itu pergi, kami tidak tahu alasan perempuan itu merokok di taman sendirian tengah malam dan apakah dia seniman atau bukan. Kami juga tidak tahu apakah perempuan itu sedang patah hati atau sedang rindu. Yang kami tahu hanya: perempuan itu pergi dengan senyum lebar dan itu sudah lebih dari cukup.

Jakarta, ditulis pertama pada 2016, dan diedit ulang pada November 2019

Keterangan

1. Aksi Kucing adalah lagu yang diciptakan oleh Oey Yok Siang di sekitar tahun 50-an. Tidak diketahui dengan jelas siapa yang pertama kali mempopulerkan lagu ini. Terdapat banyak versi lagu ini. Namun, lagu ini kembali naik daun setelah dibawakan kembali oleh penyanyi Jetti dan dijadikan lagu tema dalam film Berbagi Suami arahan Nia Dinata. Kemudian menjadi semakin dikenal setelah band White Shoes and The Couples Company membawakannya ulang. Silakan baca laman Majalah Historia di tautan http://historia.id/film/meong meong-segala-zaman. Diakses pada 29 September 2016 pukul 05:16 wib.

2. Seno Gumira Ajidarma dalam Affair: Obrolan Tentang Jakarta.

3. Diambil dari dua bait pertama lirik lagu milik band Payung Teduh yang berjudul Angin Pujaan Hujan.

4. Paragraf ini diambil dari press-release "Angin Pujaan Hujan" yang sedikit saya edit untuk kepentingan cerpen ini. Diakses dari laman www.payungteduh.blogspot.co.id pada 28 September 2016 pukul 17:33 wib. Hak cipta dari paragraf ini kembali pada penulisnya.

Wisnu Suryaning Adji novelnya yang telah terbit berjudul Rahasia Salinem (Februari, 2019)

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com


Simak Video "Gerakan Relaksasi Beragama ala Penulis Feby Indirani"
[Gambas:Video 20detik]
(mmu/mmu)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikhot.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com