detikHot

Cerita Pendek

Indah pada Waktunya di Piazza San Marco

Sabtu, 10 Agu 2019 11:50 WIB Tunggal Pawestri - detikHot
Ilustrasi: Denny Pratama Putra/detikcom Ilustrasi: Denny Pratama Putra/detikcom
Jakarta - Semestinya matahari sudah muncul dengan lebih serius, tapi pagi ini begitu gelap. Angin dingin menerpa wajah saat kubuka jendela kamar. Ah, musim panas yang aneh.

Sebuah pesan masuk, "TUNGGU SAYA DI PIAZZA SAN MARCO, PUKUL 14:00."

Langsung kujawab, "Oke, tapi di mana persisnya, Bung? Piazza itu begitu luas. Capslock rusak?"

"KAMU CARI PILASTRI ACRITANI, DUA PILAR BESAR DEKAT GEREJA BASILICA SANTO MARCO, KAMU TUNGGU SAYA DI SITU. SAYA AKAN WA LAGI NANTI. CIAO. IYA CAPSLOCK RUSAK."

Manusia satu itu memang brengsek. Kenapa sih titik temunya bukan di salah satu kafe atau depan pintu masuk utama gereja misalnya? Kenapa dia minta aku cari dua pilar, di sebuah tempat, yang isinya pilar semua? Tapi aku terlalu gengsi menyahut pesannya untuk bilang bahwa aku tidak tahu tempat itu.

Sambil menyeduh kopi, aku google si Pilastri Acritani. Sialan, ternyata itu nama lain Pillars of Acre, dua pilar indah yang kemarin sempat aku selfie di depannya dan kuunggah di Facebook. Lucu juga, dua pilar yang berasal dari gereja Hagios Polyeuktos di Istanbul ini pada awalnya sempat dianggap trofi kemenangan orang-orang Venesia karena mengalahkan Acre, sebuah kota di distrik utara Israel pada abad ke-13. Namun mereka kecele.

Penggalian arkeologi pada 1960 di Istanbul menyingkap fakta bahwa dua pilar itu ternyata memiliki kemiripan arsitektural dengan temuan para arkeolog di sana. Besar kemungkinan pilar itu dibawa pada masa Perang Salib Keempat saat tentara salib dan kaum Venesia menaklukkan Konstantinopel (Istanbul sebelum berganti nama) pada 1204. Produk jarahan.

Kutunjukkan pesan dari Jay kepada Lingga, teman perjalananku yang masih meringkuk di tempat tidur.

"Kamu bilang kalau kamu sedang di sini bersamaku?"

"Ya enggaklah. Gila apa? Pingsan nanti dia kalau tahu aku jalan ditemani politisi, pimpinan partai pula, kayak kamu. Aku cuma bilang kalau sedang plesir dengan teman-teman eks tempat kerjaku. Eh, tapi semoga kamu nggak keberatan ya kalau nanti siang aku bertemu dia, sebentar saja kok, kasihan dia sudah datang dari jauh."

Aku tahu, Lingga tak pernah bisa bilang tidak kepadaku dan aku memang tidak hendak meminta persetujuannya. Ia menatapku lalu nyengir.

"Oke, aku akan tunggu kamu di sini saja kalau begitu," dengan lembut ia menarikku masuk lagi dalam selimut.

Lingga teman lamaku. Ia punya banyak bisnis dan salah satunya memasok mebel-mebel antik dari Indonesia untuk orang-orang kaya di Eropa. Jaringannya luas, duitnya banyak. Tak heran, meski masih muda, ia ditawari memegang posisi penting di salah satu partai di Indonesia.

Beberapa bulan terakhir kami sering kencan. Dia mengaku baru putus pacaran. Sejujurnya, aku tidak peduli dengan kisah asmaranya. Tidak begitu penting juga dia punya pacar atau tidak, toh aku juga tidak berminat jadi pasangannya. Aku tahu betul, dia bukan tipeku, tapi setidaknya dia baik, lumayan asik saat bercinta dan tidak main medsos! Yang terakhir ini penting buatku. Aku tidak suka dengan laki-laki yang menghabiskan waktunya berkomentar di medsos.

Maka saat aku mendapat undangan mengikuti konferensi media di Jerman, aku iyakan permintaannya untuk memperpanjang tinggal di Eropa, menemaninya ke Italia untuk urusan bisnis.

Jadilah sekarang aku terdampar di Venesia, kota yang mahalnya minta ampun. Kota yang tidak akan pernah mampu aku kunjungi dengan penghasilanku sebagai wartawan medioker sebuah media online.

Sementara Jay, aku baru mengenalnya tujuh bulan lalu saat ia sedang berada di Indonesia menemani ayahnya yang jatuh sakit. Ya, Jay tidak tinggal di Indonesia. Sudah berbelas tahun ia tinggal di beberapa kota di Eropa untuk bekerja. Ia ke Indonesia paling banyak setahun sekali untuk memastikan anaknya mengenal akar keluarganya.

Aku dan Jay berkenalan saat salah seorang mutual friend kami mengadakan pesta ulang tahun. Aku terkejut saat ada suara di sampingku.

"Tato di punggungmu bagus, boleh saya lihat lebih dekat?"

Refleks aku menggeleng. Dia tersenyum lebar lalu menjulurkan tangannya.

"Ah, maaf kita belum berkenalan. Saya Jay."

Dengan agak segan aku menjulurkan tangan. "Ayana."

Malam itu Jay jadi bintang pesta. Dia tidak canggung mencari sendiri lagu untuk diputar lalu berjoget. Dia pun kerap melontarkan lawakan-lawakan usang yang herannya masih saja membuat orang tertawa terguncang-guncang.

Di ujung pesta dia mendekatiku lagi.

"Hai, Ayana maafkan saya ya, sudah begitu kurang ajar. Mau melihat tato kamu, padahal kita belum kenal."

Melihat senyum dan permohonan maafnya yang tulus saya luluh.

"Iya, dimaafkan. Santai saja."

Semenjak itulah kami jadi berteman baik. Selama dua bulan lebih dia di Jakarta, kami beberapa kali bertemu, makan malam, atau sekadar minum kopi. Dia teman ngobrol yang asik dan hangat. Saat ia harus kembali ke Eropa, pertemanan kami tetap berlanjut.

Lima bulan berlalu sejak pertemuan terakhir kami di Jakarta, sampai lima hari lalu Jay tiba-tiba mengirim pesan, "Saya lihat foto-foto kamu di Facebook, lagi di Eropa ya? Kok tak beri kabar? Somse."

"Iya, saya di Eropa, tapi nggak ke Belanda, cuma keliling Itali nih. Malas saya kasih tahu kamu, ntar disuruh bawain tolak angin pula!"

Tidak berapa lama dia menjawab, "Haha... Kurang ajar. Sekarang kamu di mana?"

"Verona. Tapi lusa, hari Kamis, akan ke Venesia."

"Eh, Venesia? Kebetulan lagi ada biennale, saya samain deh jadwal liputan saya dengan jadwal kamu."

Aduh. Sialan banget memang si Jay ini, tak pakai tanya dulu aku ke Venesia sama siapa, sembarangan saja dia mau menyusul.

"Ya silakan saja, ayo...tapi saya di sana cuma empat hari. Senin sudah harus balik."

Lama tak ada jawaban, lalu dia membalas, "Ah, oke saya juga kayaknya baru bisa tiba hari Minggu. Cewek saya ulang tahun beberapa hari lagi soalnya."

"Oke, saya juga cuma bisa ketemu sebentar ya sama kamu. Nggak enak kalau tinggalin teman-teman kelamaan soalnya."

"Tidak masalah. Bisa ketemu sebentar sama kamu saja sudah senang. Oke saya cari tiket dulu ya, nanti berkabar lagi. Tengkyu," Jay membalas.

Maka bertemulah kami siang ini di Piazza San Marco, depan Pilastri Acrini. Kami berpelukan dan berbagi kabar. Dia mengajakku berjalan ke beberapa paviliun seni dari berbagai negara, lalu mengajak berkeliling ke Giardini della Biennale, sebuah area historis di Venesia, area taman yang dibuat oleh Napoleon Bonaparte. Jalan-jalan yang asyik.

Selesai mengunjungi Paviliun Turki, waktu menunjukkan pukul empat sore. Jay mengatakan bahwa informasi yang dibutuhkannya untuk hari itu sudah selesai.

"Ayo cari tempat minum kopi, setelah itu kita ke hotelku ya untuk taruh tripod. Berat" ujarnya.

Kami menemukan sebuah kedai kopi kecil di sebuah calle (gang) dekat hotelnya. Kami terus berbincang ngalor ngidul.

"Eh, kamu tahu cara terbaik menikmati Venesia?" sambil menyeruput double espresso-nya ia melanjutkan. "Kita harus membiarkan diri kita tersesat di gang-gang kecil itu, yang berkelok-kelok seperti labirin. Membiarkan diri kita bersiap untuk kejutan-kejutan kecil...atau besar. Seperti hidup."

Kami ngobrol banyak hal, termasuk bertanya-tanya kenapa kami dulu tidak pernah bertemu meski lingkaran pertemanan kami sama. Aku ngoceh juga soal kejengkelanku terhadap situasi politik Tanah Air, bergunjing mengenai tingkah laku beberapa teman kami di Jakarta yang sekarang menjadi politisi. Untung saja nama Lingga tak dia sebut.

Aku mulai gelisah soal waktu. Hari sudah semakin sore dan aku merasa tak enak pada Lingga yang menungguku. Jay bertanya, "Kamu buru-buru? Sudah ditunggu teman-teman?"

"Iya nih," jawabku.

Dia memandangiku, lalu ia tersenyum dan mencondongkan wajahnya ke wajahku. Tanpa aba-aba ia menciumku. Masih belum sadar betul dengan apa yang terjadi dan karena bibirnya begitu hangat, wangi kopi, aku balas ciumannya. Kami sempat berhenti, saling berpandangan dan tersenyum, lalu berciuman lagi. Spontan dan menyenangkan, berkali-kali.

"Ayo ke hotelku!"

"Oke, aku kirim pesan dulu ke teman-teman."

Aku kirim pesan untuk Lingga, "Aku tidak pulang. Maaf. Besok aku jelaskan."

"Besok jam tujuh pagi kita harus sudah berangkat ke bandara, jangan terlambat," Lingga membalas.

Aku kembali ke hotelku setengah tujuh pagi. Lingga sudah rapi dan aku lihat koperku masih berantakan, tapi barang-barangku sudah terlipat rapi di sampingnya.

"Maafkan aku," aku kecup bibirnya, tapi tak berani lama-kama memandang wajahnya.

"Ayo segera bereskan kopermu, itu aku belikan satu botol wine enak. Kamu bisa taruh dalam koper," ujarnya lembut.

Aku berkemas tanpa bersuara. Kami berjalan keluar hotel menuju dermaga. Kami berdua masih terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Di dalam perahu yang membawa kami ke bandara, nyaris tidak ada obrolan juga, kecuali pertanyaan bagaimana kabar Jay dan akan berapa lama dia di sini.

Saat tiba di bandara, waktunya sudah mepet. Aku harus segera boarding. Sementara Lingga tetap tinggal di Italia hingga dua minggu ke depan menyelesaikan urusannya.

Setelah beres urusan check-in, Lingga memeluk dan mengecup bibirku.

"Kamu hati-hati balik ke Jakarta. Aku akan segera menemuimu jika urusan di sini sudah selesai. Nanti kita bicara."

Aku cuma bisa tersenyum, minta maaf lagi, dan bergegas masuk ke dalam gate.

Ponselku bergetar. Dua pesan masuk dari Jay.

"Ingat, semua akan indah pada waktunya. Tunggu saya, secepatnya akan cari cara ke Jakarta."

"Cium. Hati-hati di jalan. Ciao Bella."

Aku tersenyum lebar, lebar sekali.

Sekali lagi kutengok ke belakang, Lingga masih berdiri di depan gate. Kulambaikan tanganku kepadanya. Aku bergumam ke arahnya, "Merci, Venesia, Merci! Semua akan indah pada waktunya."

Di balik kaca aku lihat Lingga membalas lambaianku Selamat tinggal Lingga. Arrivederci.

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com




Simak Video "Gerakan Relaksasi Beragama ala Penulis Feby Indirani"
[Gambas:Video 20detik]
(mmu/mmu)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed