detikHot

Cerita Pendek

Sekali Peristiwa di Tebet

Minggu, 23 Jun 2019 11:04 WIB Jimmy Gonggora - detikHot
Ilustrasi: Zaki Alfarabi/detikcom Ilustrasi: Zaki Alfarabi/detikcom
Jakarta - Saat itu umurnya empat belas tahun. Ia bertengkar dengan Joy, adiknya, yang baru duduk di kelas lima SD. Sebenarnya bukan bertengkar. Joy menumpahkan teh tanpa sengaja di atas buku yang baru saja ia beli. Halaman buku itu menjadi bergelombang dan tidak enak dibaca lagi. Lalu ia memukul punggung Joy hingga anak itu menangis. Mendengar Joy menangis, bapaknya mengambil kopel dan menghantamkannya pada pahanya sebanyak tiga kali sebelum dihentikan oleh ibunya. Kemudian ia meminta izin pada ibunya untuk pergi menginap di rumah pamannya di Tebet. Ia amat membenci Joy.

Pamannya memiliki seorang anak yang sedang kuliah di Los Angeles. Jadi di rumah itu hanya ada paman dan bibinya. Paman dan bibinya mengizinkannya tinggal di kamar sepupunya yang kosong itu di lantai dua. Kamarnya rapi. Ada beberapa poster musik menempel di dindingnya. Ia menggunakan meja belajar untuk membaca buku-buku sepupunya yang disimpan di rak bukunya.

Rumah pamannya berada di kompleks perumahan yang tenang dan damai. Jalanan di depan rumah itu baru saja diaspal beberapa minggu yang lalu. Setiap kali hujan datang, jalanan itu semakin terlihat bersih mengkilat. Kebanyakan keluarga yang tinggal di sana adalah orang ekspatriat dan juga orang keturunan Tionghoa. Pintu pagar rumah mereka selalu tertutup dan terkunci.

Sering ia berdiri di depan pagar memandang sampai ke ujung jalan yang lengang. Di lantai dua jika tidak sedang membaca, atau bersepeda keliling kompleks, ia suka melihat-lihat ke bawah. Dari sana ia bisa melihat bagian belakang rumah sebelah. Ada sepetak tanah berumput tempat berdirinya jemuran. Sebuah tangga kayu tersandar di pojokan. Ia tidak pernah melihat ada orang sedang menjemur baju di situ, atau mencuci. Tetapi kali lain ia melihat lagi, pakaian-pakaian basah sudah tergantung di jemuran dengan air yang menetes-netes ke tanah. Bagian belakang rumah itu seperti selamanya kosong.

Suatu siang ia melihat seorang perempuan muda keluar dari rumah depan. Perempuan itu berjalan ke ujung jalan lalu menghilang di belokan. Ia baru sekali itu melihat wajahnya. Ia memandangi rumah yang baru ditinggalkannya itu. Di depan beranda tumbuh tanaman agak menghalangi jendela. Pintu dan jendelanya bercat putih kusam. Lalu ada satu meja dan dua kursi. Garasinya kosong. Di atas garasi ada beranda kecil lagi dengan atap dan pagar putih kecil yang kotor dan tumbuhan-tumbuhan menjalar liar di sekelilingnya.

Penghuni rumah depan itu sedang pergi ke luar kota. Pembantunya yang menjaga rumah itu. Sorenya ia melihat lagi perempuan itu masuk ke rumah itu. Ia masuk lewat pintu kecil di samping pintu garasi. Ia mengeluarkan kunci dari sakunya, membuka pintu depan, menutup pintu dari dalam, lalu menguncinya. Sore yang lain, pada waktu langit sudah agak gelap, ia mendapatinya sedang bercanda-canda dengan dua orang pembantu lain di depan sebuah rumah tidak jauh dari belokan jalan. Mereka tidak melihatnya lewat. Mereka bercanda dan berbisik sendiri dalam bahasa Jawa yang tidak ia pahami.

Suatu pagi ia melihat perempuan itu berbelanja di tukang sayur di depan rumah. Perempuan itu membeli ikan basah, sayur kol, tempe, bumbu masak, dan buah duku. Perempuan itu menjatuhkan beberapa buah duku ke jalan. Ia membantu mengambilkannya. Saat itulah ia melihat kalung yang dipakai perempuan itu. Sebuah kalung bergambar Bunda Maria dengan pakaian merah biru. Kalung itu tampak serasi indah dengan kulitnya yang kuning langsat. "Terima kasih," katanya. Setelah membayar, perempuan itu masuk ke rumah dan mengunci pintu. Sore hari, ia biasa menyapu jalanan depan rumah dengan sapu lidi. Setelah itu ia masuk dan mengunci pintu. Ketika keluar lagi wajahnya kelihatan segar dan pakaiannya rapi dan bersih. Begitulah setiap harinya.

Perempuan itu --namanya Anna-- berpacaran dengan seorang kuli bangunan yang sedang membangun rumah di blok lain di sekitar kompleks perumahan pamannya. Kuli itu berbadan pendek tetapi kekar. Ia suka memakai celana warna hijau gelap atau loreng dan kaus oblong. Kadang ia melihat mereka duduk berdua di lapangan voli yang sepi atau berjalan sore menuju jalan raya. Ia pernah beberapa kali --kadang setelah maghrib, kadang pada malam hari-- melihat Anna membawa pacarnya itu masuk ke rumah majikannya. Ia heran, tapi mereka terlihat bahagia.

***

Di kamar sepupunya, ia menghabiskan waktu dengan membaca. Sejak ia memutuskan membenci Joy, ia menjadi tidak suka lagi menonton MTV. Sebelumnya ia dan Joy sering menonton MTV bersama. Sepulang sekolah mereka akan duduk di depan televisi dan ia akan menunjukkan kepada Joy musik yang menurutnya bagus dan musik yang menurutnya tidak bagus. Saat videoklip grup musik Pulp diputar, ia akan berkata kepada Joy, "Nah, ini Joy. Ini grup musik yang bagus. Lagu-lagunya enak semua."

"Iya ya, Bang?" kata Joy. Kemudian Joy akan mengangguk-anggukkan kepalanya menyerap perkataan abangnya barusan. Kali lain, ketika videoklip the Ramones diputar, ia akan berkata kepada Joy, "Ini juga bagus, Joy. Pokoknya, hampir semua grup musik Amerika dan Inggris itu bagus-bagus." Joy akan menikmati musik yang sudah dikomentarinya itu dengan tatapan senang, mencatat komentarnya itu di dalam kepalanya untuk dia gunakan sebagai petunjuk saat membeli kaset di toko musik di pasar.

Suatu siang Joy pulang dari sekolah dan menunjukkan kepadanya kaset album terbaru Pulp. Selama seminggu itu Joy memutar bolak-balik album itu setiap sore di kamarnya. Joy juga sering meminjam kaset-kasetnya. Praktis, seluruh pengetahuan adiknya itu tentang musik yang bagus berasal darinya dan dari kegiatan mereka menonton acara musik di MTV.

Saat di kamar sepupunya di Tebet, kadang ia memikirkan tentang kebenciannya kepada Joy. Ia masih merasa kesal. Uangnya terbuang percuma. Buku yang telah kena tumpahan teh itu sudah dibuangnya. Ia harus menabung lagi untuk membeli buku yang sama. Dadanya terasa sakit. Bekas sabetan kopel bapaknya masih terasa perih.

***

Pamannya juga suka musik. Pamannya memiliki banyak koleksi piringan hitam. Koleksinya itu disimpannya dalam lemari kaca di kamar kerjanya di lantai bawah. Kadang ia pergi ke kamar kerja pamannya itu dan diperbolehkan untuk melihat-lihat gambar sampul piringan hitamnya. Ia tidak banyak kenal dengan grup musik koleksi pamannya. Kebanyakan memang grup musik tua. Tapi yang masih ia ingat sampai sekarang adalah grup musik bernama Love. Karena saat peristiwa itu terjadi, pamannya sedang memutar album piringan hitam dari Love. Album itu berjudul Da Capo, produksi tahun 1966. Lagu yang paling ia suka di album itu berjudul Orange Skies. Lagu inilah yang ia dengar ketika peristiwa itu terjadi.

Jumat siang itu hujan turun deras. Suara azan terdengar sayup-sayup di kejauhan. Ia sedang di lantai atas memandang-mandang ke arah jalan. Sementara pamannya memutar album Da Capo di kamar kerjanya di bawah. Suara musik dari pemutar piringan hitam pamannya terdengar sampai ke lantai dua. Saat itulah ia melihat Anna dan pacarnya berjalan dari ujung jalan ke arah rumah majikannya. Mereka berjalan dalam satu payung. Dua kali ia melihat mereka berhenti di tengah jalan, bertengkar. Lalu, puncaknya, satu rumah sebelum sampai di rumah majikan Anna, pacarnya, yang kuli itu, melemparkan payung mereka ke jalan. Mereka langsung basah-kuyup. Kuli itu mengucapkan sesuatu yang terdengar seperti makian. Anna diam saja, mengacuhkan pacarnya dan berjalan terus. Si kuli mengejarnya. Begitu sampai di depan pagar, si kuli memukul punggung Anna hingga Anna terjatuh. Anna menangis sambil terduduk. Dadanya naik turun berusaha mengatasi tangisnya. Kuli itu berjalan pergi. Ia langsung turun ke bawah hendak menolong Anna. Tapi ketika ia membuka pintu pagar, Anna sudah tidak ada di situ lagi.

Selama dua hari setelahnya Anna tidak keluar rumah. Ia tidak menyapu jalan di depan rumah setiap sore. Ia tidak pergi keluar sehabis maghrib. Lalu suatu siang pada hari ketiga, seorang perempuan datang ke rumah itu. Umurnya sebaya dengan Anna.

Saat itu ia sedang di lantai atas, membaca. Ia mendengar suara musik dari rumah depan. Ia berdiri dan berjalan ke luar kamar, mencoba mendengarkan. Suara musik itu terdengar cukup keras, meskipun dengan pintu yang tertutup. Lalu ia mendengar sebuah suara melantunkan sebuah lagu dangdut dengan irama yang mendayu-dayu. Sampai hari ini, ia belum pernah mendengar suara seperti yang ia dengar siang itu --seperti suara lantunan tangis yang indah. Ia seolah dibawa ke dalam suatu penderitaan yang tak seorang pun kecuali dirinya pernah merasakan. Ketika lagu itu habis ia mendengar suara tepuk tangan.

Sore harinya, ketika pintu rumah itu terbuka, ia langsung turun dan mengikuti mereka dengan sepeda. Ia mengikuti mereka sampai keluar jalan kompleks. Mereka berdiri menunggu bus. Ketika bus yang ditunggu datang, mereka berpelukan dan Anna mengucapkan selamat jalan. Ia langsung berbalik dan pulang ke rumah.

Dari lantai atas ia melihat Anna membuka dan menutup pintu. Setelah itu tidak terdengar suara apapun lagi.

Hingga dua hari kemudian, Anna tidak keluar rumah. Ia berpikir, mungkin dia sedang bersedih seperti beberapa hari yang lalu ketika dia juga tidak keluar rumah. Mungkin besok dia akan keluar rumah. Lagi pula dia harus berbelanja di tukang sayur dan makan. Tapi besoknya, Anna tidak juga keluar rumah.

Pada hari keempat, karena khawatir, pamannya mengetok pintu rumah depan. Ia ikut dengan pamannya. Bibinya memandang dari pagar rumah, cemas. Diketok beberapa kali, tak ada jawaban. Dipanggil-panggil namanya beberapa kali, tak ada jawaban. Pamannya memutuskan untuk mendobrak pintu rumah itu.

Begitu sampai di dalam, mereka mencium bau menyengat. Di sebuah kamar, mereka menemukan Anna tergantung dengan leher terjerat tali. Lidahnya terjulur. Pamannya segera menyuruhnya kembali ke rumah.

Pamannya membungkus mayat itu dengan kain seprei lalu membawanya ke rumah sakit. Bibinya menelepon majikan Anna. Baru kali itulah ia melihat para tetangga berkeluaran dari rumah mereka masing-masing dan berkumpul di jalan.

Ia baru tahu keadaan sebenarnya setelah peristiwa itu. Hasil visum dokter rumah sakit mengatakan bahwa Anna meninggal dalam keadaan berbadan dua. Bibinya menelepon ke rumahnya dan menceritakan perihal kejadian yang baru saja terjadi. Tidak lama kemudian bapaknya datang menjemput. "Kamu nggak apa-apa?" kata ayahnya. "Nggak apa-apa," jawabnya. Dalam perjalanan pulang, ia memikirkan mengapa Anna melakukan perbuatan itu. Pikirannya yang masih muda tidak bisa memahami mengapa seorang perempuan mau menghabisi nyawanya sendiri hanya gara-gara dipukul. Ia merasakan suatu keheranan dan kesedihan yang mendalam. Walaupun ia tidak mengenal Anna secara dekat, tapi ia selalu melihatnya sebagai kakak perempuan yang tidak pernah ia miliki. Ia jadi teringat Joy. Pastilah Joy sedang kesepian di rumah. Menonton acara MTV sendirian. Tiba-tiba ia menyesal karena telah berbuat jahat kepada adiknya itu. Ia telah membuatnya menangis dan menderita.

Di tengah jalan, ia meminta bapaknya untuk berhenti sebentar di toko kelontong. Ia membeli satu toples kue salju. Di rumah, seperti yang ia duga, ia melihat Joy sedang duduk di ruang tengah menonton MTV. Begitu melihatnya, Joy langsung berdiri menyambutnya dengan wajah girang, "Bang!" Ia mengusap rambut adiknya itu dan memberikannya kue salju yang tadi ia beli, kue kesukaan Joy. Mereka duduk menonton. Joy membuka toples kue saljunya dan menyodorkannya padanya. Ia mengambil sebuah dan memakannya. "Bang, tadi ada videoklip Blur yang judulnya The Universal. Waktu Blur manggung di acara MTV Awards!" kata Joy, bersemangat. Lupa bahwa punggungnya pernah dipukul.

Jimmy Gonggora alumnus FSRD-ITB

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com


(mmu/mmu)

FOKUS BERITA: Cerpen detikHOT
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikhot.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com