DetikHot

Cerita Pendek

Rumah Seribu Musim

Sabtu, 25 Mei 2019 11:15 WIB  ·   Yudhi Herwibowo - detikHOT
Rumah Seribu Musim Ilustrasi : M Fakhry Arrizal/detikcom
Jakarta - Akhirnya aku tiba.

Rasa lelah seperti lenyap dari tubuhku. Padahal dari omprengan di ujung desa, butuh waktu hampir satu jam berjalan ke sini. Tentu seharusnya aku bisa saja tak perlu berjalan, bila ada motor atau gerobak kuda yang lewat. Tapi entah kenapa sepanjang waktu tadi tak satu pun dari mereka yang lewat.

Desa ini semakin sepi saja. Aku mencoba mengingat-ingat kapan terakhir kali aku datang ke sini. Sepertinya sudah lama sekali. Mungkin hampir tiga tahun yang lalu.

Saat aku melangkah memasuki halaman, debar jantungku terasa lebih kentara dari sebelumnya. Kusapu pandanganku ke seluruh sudut halaman. Semua tampak masih seperti dulu. Kandang ayam yang kosong, rongsokan mobil yang terdongkrok di bawah pohon asem, juga beberapa mesin tua di salah satu sudut yang semakin menyatu dengan rimbunan rumput liar. Satu yang berbeda, aku merasa halaman ini tampak lebih lapang dari seharusnya. Itu mungkin karena tak ada lagi tanaman-tanaman yang ditanam di sudut-sudutnya. Padahal dulu, ayah dan ibu selalu menanam berbagai jenis sayuran di situ.

Aku mulai mengeluarkan kunci yang selalu kusimpan baik-baik. Suara putarannya masih sama seperti dulu, bahkan suara derit pintunya pun masih kukenali. Namun, baru saja aku ingin menghirup dalam-dalam aroma rumah yang kurindu ini, aku terkejut melihat seorang muncul dari balik kamar.

Ia Undari, yang juga langsung menatapku tak percaya. Sungguh, aku sama sekali tak menyangka adikku ada di sini. Bukankah ia seharusnya mengikuti suaminya di kota lain?

Seketika itu juga, terlintas di kepalaku pertengkaran-pertengkaran kami beberapa tahun lalu, teriakan-teriakannya yang melengking, dan tamparan tangannya di wajahku. Sungguh, mengingat itu membuatku ingin berbalik dan pergi. Namun Undira telanjur berkata dengan suaranya yang dingin, "Tak usah pergi! Ini toh rumahmu juga!"

***

Dari balik jendela kamar, langit terlihat muram. Awan hitam menggantung seakan mengikuti perasaanku yang tiba-tiba murung. Ini memang sudah memasuki musim hujan. Beberapa hari lalu hujan bahkan turun dengan deras di kota asalku. Itulah mengapa aku akhirnya menguatkan diri untuk datang ke sini, setelah beberapa kali aku mengurungkan niat. Bagaimana pun, kenangan terhadap rumah ini begitu kuat saat musim hujan, karena di rumah inilah hujan yang murung seakan lenyap berganti sesuatu yang menyenangkan.

Ya, saat kanak-kanak tak ada yang lebih menyenangkan dari tibanya musim hujan. Padahal sebelumnya aku selalu bersedih, karena hujan membuatku tak bisa bermain di luar. Tapi saat itulah ibu akan menggelar karpet di depan ruang tengah, tepat di depan jendela yang menghadap ke halaman. Di situ ia akan menciptakan musim-musim untuk kami: musim hujan tepung, musim mencari kue di sudut-sudut rumah, musim melukis singkong, dan lainnya. Semua tampak menyenangkan saat itu.

Tapi kehadiran Undira saat ini membuat perasaan terasa janggal. Sungguh, ini sesuatu yang sama sekali tak kubayangkan. Teriakannya saat itu, "Kau sudah membunuh ibu!" masih terus terngiang hingga saat ini. Sungguh, sebenarnya sejak hari itu aku sudah memutuskan untuk tak lagi berhubungan dengannya. Walau aku menyadari bahwa permasalahan ini memang bermula dari diriku sendiri.

Sekilas kejadian masa itu terbayang samar, saat aku bersama kawan-kawan bedebahku akhirnya tertangkap. Satu hal yang paling kutakutkan saat menerima tawaran mereka. Dan aku sama sekali tak menyangka itu berdampak sedemikian besar. Ibu sangat terkejut, dan membuatnya tersungkur dan tak lagi bangun. Itulah mengapa, Undira kemudian menyalahkanku.

Aku menghela napas. Pikiranku kembali pada Undira. Mengapa ia ke sini? Apa ia merindukan rumah ini juga? Rasanya itu tidak mungkin. Aku tahu ia sama sepertiku: ingin meninggalkan rumah ini sejak dulu. Sejak kecil matanya selalu berbinar bila menonton film tentang gadis-gadis muda yang bersekolah di kota.

Apa ini ada hubungannya dengan perceraiannya yang baru kudengar? Tentu aku tak yakin dengan kabar itu. Toh, selama ini yang kulihat kehidupannya harmonis. Tapi bila memang itu alasannya, kupikir ia kemari dengan alasan yang kuat. Bagaimana pun rumah ini, rumah seribu musim ini, memang punya hal lain yang selalu dibanggakan ibu: ia selalu menjadi penyembuh.

Ya, aku mungkin berlebihan. Tapi aku sendiri terlambat menyadarinya. Aku ingat, bila sedang menceritakan masalah di kampus, ibu akan berkata, "Pulanglah, rumah ini akan menyembuhkan semua masalahmu."

Tentu aku tak pernah benar-benar meyakini ucapan itu. Kupikir itu cara ibu agar aku pulang menemuinya. Tapi aku tak bisa mengingkari bahwa dulu aku memang tak pernah merindukan rumah ini, pun desa ini. Sejak lama aku tahu, desa ini sama sekali tak berkembang. Hampir semua penghuninya orang-orang tua yang memilih menjadi petani atau peladang kecil. Jadi bila semua masalahku akhirnya menjadi lebih ringan setelah pulang, aku tak pernah berpikir bahwa rumah inilah yang menyembuhkannya. Satu-satunya jawabanku tentulah semua itu karena ibu.

Barulah sejak ibu tak ada, aku mulai merasakan rumah ini memang berbeda. Itu kurasakan sejak aku keluar dari penjara. Kesedihan, rasa luka, dan kesendirian kadang membuatku ada di titik di mana tak tahu harus melakukan apa lagi. Dan itu yang membuatku datang ke rumah ini diam-diam. Aku akan tidur di kamarku, masak makanan instan yang kubawa, lalu duduk di ruang tengah, memandang halaman di luar. Bila hujan datang, akan kukenang semua musim yang diciptakan ibu untuk kami. Lalu, aku akan menangis sesaat. Namun setelah itu, tanpa bisa kupungkiri, keadaanku terasa menjadi lebih baik. Entahlah, hawa sejuk, aroma udara, air yang menyegarkan, dan mungkin kenangan kisah musim-musim itu seakan berpadu mempengaruhi apa yang ada di dalam pikiranku.

Aku menarik napas panjang.

Sekarang Undira tidur di kamar ayah dan ibu. Kamarnya yang dulu sebenarnya ada di sebelah kamarku, tapi kupikir ia memang lebih baik di sana. Setidaknya kami dipisahkan jarak yang lebar. Ada ruang keluarga yang luas di antara dua kamar ini. Ia bisa mengurus dirinya sendiri, dan aku bisa mengurus diriku.

Tapi dapur selalu menjadi milik bersama. Sejak dulu, kami suka berkumpul di sana. Merecoki ibu yang memasak, dan selalu menjadi pengutil makanan hangat yang baru jadi. Sialnya, sekarang aku tetap harus ke sana untuk mengisi perutku yang lapar.

Aku pergi ke dapur sambil mengeluarkan makanan instan yang sudah kusiapkan sejak berangkat. Tapi saat melewati meja makan, kulihat sepiring nasi goreng dengan irisan telur dadar di atasnya. Sejenak aku berpikir ini pastilah milik Undira.

"Itu untukmu," aku dengar suaranya dari ujung ruangan. "Tak mungkin hanya membuat makanan untukku sendiri."

Aku sebenarnya ingin menolak, tapi tanganku malah menarik kursi. Pelan-pelan kusuap makanan itu ke mulutku. Di setiap kunyahanku, yang kuingat hanya ibu. Ini nasi goreng dengan resep yang sama, dan cara membuat yang pastilah dengan cara yang sama pula.

****

Aku berjalan-jalan menikmati sudut-sudut desa. Satu yang paling kusuka adalah sungai kecil di sebelah utara. Airnya mengalir begitu jernih, hingga aku berani meminumnya langsung. Kuyakini kesegarannya melebihi air mineral paling mahal di kota. Tentu aku berharap para pengusaha air kemasan yang rakus itu tak pernah merambah ke sini.

Saat pulang, aku melewati sebuah rumah yang di pagarnya tertempel papan bertulis: DIJUAL. Tiba-tiba saja aku berpikir itu bisa jadi alasan Undira datang ke sini. Ia habis bercerai, tentu ia butuh uang untuk membiayai dua anaknya.

Sekilas aku teringat perbincanganku dengannya jauh sebelum kejadian buruk menimpaku. Saat itu, sehari selepas ayah berpulang, ia berkata begitu saja, "Aku tak pernah ingin menjual rumah ini."

Aku hanya mengangguk menyetujuinya.

"Kita bisa jadikan rumah ini untuk tempat liburan kita. Kupikir anak-anakku nanti, dan tentu anak-anakmu juga, akan suka dengan tempat ini."

***

Di hari lainnya, kami ada di ruang tengah bersama. Ia ada di ujung ruangan sedang membersihkan jendela dengan koran bekas, dan aku di dekat dapur sedang memotong ubi. Sudah hampir satu jam, tapi tak ada dari kami yang mencoba memulai percakapan. Jujur saja, aku tentu ingin menanyakan kabar tentang dua keponakanku, tapi aku rasa itu terlalu berbasa-basi. Jadi aku lebih memilih diam.

Namun akhirnya tanpa menoleh aku bertanya juga, "Apa kau berniat menjual rumah ini?"

Undira menghentikan gerakannya. "Tentu saja tidak. Bukankah dulu kita punya perjanjian untuk tak menjual rumah ini?" ujarnya. Tapi sedetik kemudian, ia seperti tersadar. "Tapi, bila kau tak menganggap itu perjanjian, aku bisa mengerti."

"Aku masih menganggapnya perjanjian," ujarku. "Tapi kalau kau kesulitan uang...aku sudah mendengar kabar perceraianmu...aku tentu tak keberatan."

"Tidak, baik-baik saja dan tentu tak kesulitan uang. Kupikir malah kau yang ada dalam keadaan itu? Kau baru bebas dari penjara, dan kini tampak tak terawat."

"Aku pun baik-baik saja. Ada kawan yang mau menampung dan memberiku pekerjaan."

"Baguslah kalau begitu. Semua baik-baik saja."

Kami terdiam cukup lama.

"Jadi, apa sebenarnya alasanmu ke sini?" tanyaku kemudian.

Undira menarik napas panjang. "Alasannya tentu sama sepertimu."

Aku hanya terdiam. Aku tahu, dulu ia juga selalu menceritakan masalah-masalahnya di kota, dan ibu selalu memintanya pulang dengan alasan yang sama sepertiku.

Sekilas kulihat Undira tersenyum samar. "Aku nyaris tak pernah mengakui," ia seperti bergumam pada dirinya sendiri. "Tapi kupikir ibu benar. Rumah ini memang mampu menyembuhkan apa pun."

Malamnya hujan turun dengan deras. Itu membuatku kembali teringat musim-musim yang diciptakan ibu untuk menghibur kami: musim memahat kentang, musim menggambar dengan arang, musim membakar ubi, dan lainnya. Aku kemudian memutuskan keluar kamar. Kulihat Undira sudah duduk di situ, di atas karpet sambil terus menatap ke luar jendela.

Aku duduk di sisi karpet yang lain. Sampai lama, kami hanya diam memandang hujan di luar. Namun aku yakin, sama sepertiku, Undira juga tengah mengenang musim-musim yang ibu ciptakan di sini.

"Kupikir aku akan pulang besok," ujarku saat hujan mulai reda.

Undira tak bereaksi. Ia hanya berkata beberapa jeda kemudian. "Libur panjang nanti aku akan kembali ke sini. Aku akan membawa Maura dan Taura."

Aku hanya mengangguk, sambil bertanya-tanya, apa itu tanda darinya agar aku juga datang ke sini di liburan nanti?

Tapi tak ada kata-kata lain setelah itu.

Keesokan paginya, aku menenteng ranselku meninggalkan rumah. Aku sebenarnya ingin berpamitan dengan Undira. Tapi kuurungkan niat itu. Kupikir ucapanku semalam sudah cukup sebagai tanda pamit padanya. Saat aku semakin jauh meninggalkan rumah, kulihat Undira berdiri di depan pintu. Ia tak melambaikan tangan, tapi tetap di situ sampai aku hilang di balik kelokan.

Yudhi Herwibowo novel terbarunya Sang Penggesek Biola, sebuah roman tentang Wage Rudolf Supratman

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com
(mmu/mmu)

FOKUS BERITA:Cerpen detikHOT
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed