DetikHot

Cerita Pendek

Pulau Biawak

Minggu, 19 Mei 2019 11:25 WIB  ·   Kustoyo - detikHOT
Pulau Biawak Ilustrasi : M Fakhry Arrizal/detikcom
Jakarta -

Pulau Rakit/Pulau Bompys, 1872


Beberapa orang dengan tangan dan kaki dirantai terlihat turun dari anjungan kapal layar besar yang sesekali oleng dihempaskan gelombang Laut Jawa. Satu regu pasukan Belanda dengan senjata laras panjang menggiring orang-orang yang dirantai tangan dan kakinya melewati dermaga karang putih. Seorang pemuda gondrong di barisan belakang mendadak membalikkan badan, dengan cepat menghantamkan rantai yang membelenggunya pada salah seorang serdadu Belanda.

Tentara Belanda yang tidak menduga serangan mendadak itu langsung ambruk. Darah mengucur membasahi karang putih. Pemuda gondrong itu berhasil merebut senjata laras panjang. Namun, sebelum sempat menggunakannya, tubuhnya mengejang begitu dentuman keras melanda dadanya, kemudian ambruk bersimbah darah.

"Operdomseh....lempar mayat extrimis ini ke laut!"

Sekitar sepuluh meter dari dermaga karang putih, meremang dalam kabut sebuah puncak menara suar. Beberapa pekerja mondar-mandir mengangkut bebatuan karang sebagai fondasi menara. Sesekali kelip lampu suar melintas cepat menyapu permukaan laut.

"Dari mana asal orang-orang ini?" tanya Kolonel Holder Poder dalam bahasa Belanda sambil mengapit tongkat komando di ketiak kirinya.

"Priangan Timur, Kolonel," ujar perwira Belanda berpangkat letnan dengan nada berat.

"Hmmm, ada berapa orang semuanya?"

"Semula ada dua puluh, kini tinggal sembilan belas, salah seorang pekerja nekat menyerang anggota saya, terpaksa extrimis itu kita bereskan."

"Pekerjakan mereka di sisi sebelah barat mercusuar!"


Pulau Rakit/Pulau Biawak Masa Kini

Speedboat yang disewa Mutahalimah dan beberapa teman kampusnya bersandar di sisi sebelah barat dermaga karang putih Pulau Biawak. Begitu menginjakkan kaki di dermaga, degup jantung gadis manis berjilbab hijau lumut itu berdetak kencang. Seorang pemandu berjalan pelan menyambut rombongan mahasiswa yang baru datang tersebut. Senyum ramah merekah dari bibirnya.

"Selamat datang di Pulau Biawak."

"Terima kasih atas sambutannya," ujar Jarwo sambil tersenyum.

Setelah basa-basi sebentar, pemandu wisata yang bernama Komarudin itu mempersilakan tamunya beristirahat di sebuah wisma.

"Silakan istirahat dahulu," kata Komarudin disambut senyum simpul Mutahalimah. Pemandu wisata berambut gondrong tersenyum, kemudian meninggalkan rombongan mahasiswa tersebut.

Bakda Isya, acara api unggun di hamparan salah satu sudut dermaga karang putih digelar. Komarudin tampak cekatan membakar beberapa ekor ikan kakap merah. Kebetulan beberapa jam sebelumnya ia kedatangan tamu dari Belanda, Madam Wihelmina namanya, yang mengaku sudah beberapa kali berkunjung ke Pulau Biawak.

"Hampir setahun sekali, saya berkunjung ke pulau yang dulu lebih dikenal dengan Pulau Bompys atau Rakit ini bersama mendiang suami saya," kata Madam Wihelmina sambil membolak-balik ikan di panggangan.

"Berarti Madam sudah akrab dengan biawak-biawak pulau ini dong?" sergah Jarwo dibalas senyum simpul wanita paruh baya dari Belanda tersebut.

"Tentnya begitu. Saya bisa membuktikannya sekarang," kata Madam Wihelmina, lantas perempuan dari Negeri Kincir Angin itu bangkit dari duduknya, bertepuk tiga kali. Tak berapa lama, dari dalam kegelapan dua ekor biawak besar dengan tanda kuning melingkar di leher muncul. Satwa air itu berjalan pelan menghampiri Madam Wihelmina. Beberapa kerat ikan bakar lantas disodorkan pada biawak-biawak yang datang itu, dan dengan tenang dielusnya kepalanya.

"Tampak jinak, sepertinya biawak-biawak ini kenal sekali dengan Madam ya?" kata Zulkipli.

"Biawak-biawak di sini sudah dianggap keluarga sendiri oleh Madam Wihelmina," tandas Komarudin dibalas senyum simpul wanita Belanda itu.

"Sudah, kalian kembali ya...." kata Madam Wihelmina pada kedua biawak yang seakan mengerti apa yang diucapkan manusia. Dua biawak besar dengan tanda kuning melingkar di lehernya itu lantas membalikkan badan, berjalan menuju rimbunnya tanaman bakau, lalu keduanya hilang ditelan kegelapan.

Tampak di depan sana, sebuah pekuburan Belanda dengan pilar-pilar penuh ukiran dan patung artistik terhampar tak beraturan. Mungkin pemakaman Belanda itu sudah sangat tua, ditilik dari beberapa bangunan yang sudah bayak retak serta sebagian patung ditumbuhi lumut tebal. Pada salah satu kuburan dengan gaya arsitektur Eropa, Madam Wihelmina menunjukkan salah satu pilar makam yang bertuliskan beberapa kalimat dalam bahasa Belanda. Sebuah nama tertera di satu pilar dengan aksara berukir yang sangat indah. Sir Z.M WILLEM III.

"Apakah ini makam penggagas mercusuar Pulau Biawak?" tanya Zulkipli, lantas mengabadikan beberapa sudut dari makam dengan kamera, dikuti teman-temannya.

"Tepat sekali, inilah makam Sir Willem penggagas mercusuar. Lihat sesaji-sesaji yang banyak bertebaran di sekitar makam. Beberapa orang dengan niat tertentu kadang menggunakan makam Sir Willem sebagai ritual," jelas Madam Wihelmina.

"Pesugihan?" sela Zulkipli.

"Kasarnya begitu," jawab Komarudin.

"Di zaman yang serba canggih ini masih saja hal seperti itu terjadi," gumam Jarwo

"Eit, jangan salah, semakin pesat perkembangan zaman semakin primitif tingkah polah orang-orangnya," kata Madam Wihelmina pelan.

Rombongan wisatawan lokal dan Madam Wihelmina diajak Komarudin ke sebuah gazebo, tempat sebuah meja panjang dengan berbagai aneka hidangan makan malam terhampar. Dalam sekejap semua menu hidangan itu ludes tanpa sisa.

"Besok, pagi-pagi sekali saya akan berkunjung ke Desa Tambi," kata Madam Wihelmina sambil mengunyah buah semangka.

"Ada keperluan apa Madam di Desa Tambi?" tanya Mutahalimah.

"Saya bermaksud menemui seorang dalang wayang kulit di desa itu," ujar Madam Wihelmina.

"Madam mau belajar menjadi dalang?" tanya Jarwo.

"Bukan, saya akan membeli beberapa wayang kulit yang dimiliki dalang itu untuk kenang-kenangan."

"Siapakah nama dalang wayang itu, Madam?" tanya Tarka.

"Ki Dalang Taham," ujar Madam Wihelmina pelan.

***

Hangat mentari pagi menyelusup di antara ranting-ranting pohon bakau dan kayu api-api yang berderet di depan mess tempat menginap rombongan Mutahalimah. Gadis manis berkerudung hijau lumut itu tampak tertidur kembali setelah melaksanakan Salat Subuh. Mukena masih dipakainya ketika tubuhnya diguncang-guncang keras oleh teman-temannya. Mutahalimat terkesiap kaget mendapati dirinya berbaring di lantai dermaga karang putih.

"Teman-teman, lihat!" seru Zulkipli sambil mengarahkan telunjuknya ke depan. Dua orang lelaki paruh baya menghampirinya.

"Agaknya telah terjadi sesuatu dengan kalian semua, kenalkan saya Sumanto dan yang di sebelah saya ini Pak La Anang, kami penjaga Pulau Biawak ini," kata lelaki tua dengan kaos oblong ramah.

"Penjaga Pulau Biawak? Lalu, Komarudin...Madam Wihelmina?" ujar Mutahalimah tergagap-gagap membuat dua orang lelaki penjaga Pulau Biawak itu saling padang.

"Baiknya kalian semua ikut kami," kata Pak La Anang sambil berlalu meninggalkan dermaga karang putih diikuti pandangan keheranan Mutahalimah dan teman-temannya.

"Bapak hanya berdua saja menjaga Pulau Biawak ini?" tanya Mutahalimah membuka percakapan.

"Benar, bertahun-tahun lamanya kami menjaga pulau ini hanya berdua," ujar Pak Sumanto, membuat ketiga tamunya saling pandang dengan raut wajah keheranan.

"Lalu, siapa Madam Wihelmina dan Komarudin itu?" tanya Zulkipli diikuti anggukan kedua rekannya berbarengan.

"Coba kalian kemari!" kata Pak La Anang.

Ketiganya terpekik begitu telunjuk Pak La Anang mengarah pada sebuah makam yang bersebelahan dengan makam Sir Z.M Willem III. Di batu pilar makam berwarna keabuan tertera sebuah nama yang tidak asing lagi di mata ketiganya. Madam Wihelmina.

"Madam Wihelmina adalah istri dari Sir Willem III yang tewas secara misterius di zamanya," terang Pak Sumanto.

"Lalu, siapakah Komarudin yang mengaku sebagai pemandu wisata di Pulau Biawak ini?" tanya Zulkipli dengan nada sedikit bergetar.

"Kami tidak pernah mendengar kisah orang yang bernama Komarudin itu," kata Pak La Anang disambut anggukan rekan kerjanya, Pak Sumanto.

"Hari ketika kalian bertemu dengan Madam Wihelmina, kemungkinan itu merupakan hari saat istri dari penggagas mercusuar Pulau Biawak tersebut meninggal dunia," tutur Pak La. Anang. "Itu kejadian yang selalu berulang."

Belum kering ucapan Pak La Anang dari bibirnya, dari tengah laut, di garis cakrawala tampak meluncur dengan cepat satu titik hitam sebuah speedboat.

"Itu tumpangan kalian sudah datang," kata Pak Sumanto sambil mengarahkan telunjuk kanannya ke tengah laut.

Di sebelah kanan dermaga karang putih, speedboat ini berhenti. Seorang lelaki paruh baya memakai helm dan baju pelampung berwarna oranye tampak melempar tali di sebuah pilar beton. "Jadi kalian semua ini mau kembali ke dermaga Karang Song?" kata lelaki paruh baya itu ramah.

"Benar, Pak apakah kami boleh menumpang sampai dermaga Karang Song?" sahut Jarwo.

"Dengan senang hati," kata lelaki paruh baya itu sambil tetap tersenyum ramah.

Tidak menunggu lama, rombongan Mutahalimah sudah jauh meninggalkan dermaga karang Pulau Biawak. Di belakang sana, terpaut jarak beberapa meter dari bibir pantai tampak sebuah kapal layar besar dengan bendera merah putih biru sedang melempar jangkar. Tak lama, dari dalam lambung kapal layar besar itu keluar satu per satu orang-orang yang dirantai menuju dermaga karang putih, menyusul di belakangnya serombongan serdadu Belanda dengan senjata laras panjang di tangan masing-masing.

"Itu Komarudin!" pekik Mutahalimah. Telunjuk kanannya tampak gemetaran.

Sebuah tembakan di dada sebelah kiri memaksa lelaki gondrong itu tersungkur di dermaga. Detik berikutnya, beberapa serdadu Belanda melempar tubuhnya ke laut.

"Komarudin!" pekik Mutahalimah.

Kejadian di dermaga karang putih itu berlangsung beberapa detik. Sekejap berikutnya, perahu layar besar dengan bendera Belanda serta para serdadu tersebut raib.

"Bapak melihat semua kejadian barusan?" tanya Jarwo pada pengemudi speedboat. Yang ditanya itu hanya tersenyum simpul.

"Sudah biasa penampakan barusan itu terjadi di Pulau Biawak," kata bapak pengemudi speedboat dengan nada datar.

Indramayu, 2019

Kustoyo lahir di Indramayu 2 Juli 1977, anggota Komite Sastra Dewan Kesenian Indramayu

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com


(mmu/mmu)

FOKUS BERITA:Cerpen detikHOT
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed