detikHot

Cerita Pendek

Jangan Tidur Malam Ini

Sabtu, 18 Mei 2019 11:24 WIB A. Jeanedya - detikHot
IIustrasi: Nadia Permatasari/detikcom IIustrasi: Nadia Permatasari/detikcom
Jakarta - "Jangan tidur malam ini."

Kamu terus merengek. Satu malam saja, pintamu. Dan kamu tidak melepaskan lenganku barang sedetik pun semenjak aku sampai di ruang karaoke ini. Ruang remang yang cahayanya hanya dari layar kaca dan telah kamu sewa untuk dua jam.

"Tapi berjanjilah, jangan menyanyikan lagu sedih untuk hari ini."

Kamu mengangguk dan tersenyum lebar seraya menekan-nekan papan ketik untuk memilih lagu.

Bring me sunshine, in your smile. Bring me laughter, all the while.
In this world where we live, there should be more happiness.

Kamu mulai melenggak-lenggok membawakan lagu Brenda Lee. Kamu terlihat bahagia. Dan kamu masih cantik seperti saat pertama kali aku memintamu jadi kekasihku lima tahun lalu, tahun terakhir masa putih abu-abu. Rambutmu masih sebahu dengan poni tipis. Poni yang hampir menyalip alis cantik serupa lengkung rembulan. Hanya ada satu hal yang berbeda dari dirimu.

"Giliranmu!" Kamu membuyarkan lamunanku dan memberikan mic itu padaku.

Aku meraih mic itu dari tanganmu. Meski aku tidak begitu baik dalam hal bernyanyi, dengan penuh percaya diri kunyanyikan Ma Chérie Amour milik Stevie Wonder. Bukankah begitu aturan ketika karaoke? Tidak perlu suara bagus, yang penting percaya diri dan menyanyi bak penyanyi papan atas.

Aku tidak mengalihkan pandanganku darimu. Kamu tersipu. Rona pipimu sekarang senada dengan chiffon skater dress lengan pendek yang kamu kenakan. Kamu semakin tersipu ketika aku menyelipkan jemariku di jemarimu. Sesuatu lesap di sana.

Pukul setengah sepuluh malam. Kita sudah menyanyikan sembilan belas lagu. Kamu mulai lelah dan bosan. Kamu tak lagi bernyanyi sambil menari riang seperti satu jam yang lalu.

"Kamu mau jalan-jalan ke Malioboro?" ajakku.

Kamu mengangguk dan segera berkemas.

Di dalam mobil, kita tidak banyak berbincang seperti biasa. Tak kudengar cerita-cerita konyolmu selama tak bersamaku. Mungkin kamu sedikit lelah sehabis karaoke. Atau memang kecanggungan yang mendadak datang. Beatles, Neil Young, Pink Floyd, dan U2 berusaha mengusir kekosongan yang kita ada-adakan dalam tiga puluh menit menuju Malioboro.

"Kamu mau jalan-jalan?" tawarku sebelum sampai di Taman Parkir Abu Bakar Ali.

"Bisakah kita sewa satu kamar saja?" tanyamu pelan. Hati-hati dengan sedikit keragu-raguan.

Aku menarik napas dalam-dalam, tidak menjawab pertanyaanmu dan terus menyetir. Pada akhirnya kita hanya melewati jalan kenangan itu. Tidak lagi jalan kaki menyusuri di trotoar dari ujung ke ujung sambil bercengkerama seperti empat tahun lalu ketika kamu menjemputku pulang di Stasiun Tugu. Tahun pertamaku sebagai mahasiswa sebuah universitas negeri di Bandung.

"Kamu masih marah?" tanyamu ketika kita terjebak macet di depan Benteng Vredeburg, ujung jalan Malioboro yang selalu padat. Kamu menundukkan kepalamu.

"Aku hanya tidak mengerti," jawabku datar dan singkat.

Kamu mulai terisak. Melihatmu seperti itu justru membuatku merasa sedikit bersalah, padahal aku sudah sehalus mungkin mengungkapkan kekecewaanku padamu.

Kamu mengusap matamu dan kembali mencoba terlihat seperti baik-baik saja.

Aku menggenggam jemarimu. Di genggaman dan di dadaku ada gumpalan yang ingin sekali kuhempas jauh-jauh.

"Aku tidak akan tidur malam ini dan mari kita sewa satu kamar."

Kamu tersenyum dan membalas genggaman tanganku.

Aku mengendarai mobilku menuju sebuah penginapan murah dekat Taman Sari. Kita menyewa kamar di sana, seperti tiga tahun lalu, tahun keduaku merantau di kota orang. Lagi-lagi, kamu yang menjemputku waktu itu. Jangan tidur malam ini, begitu juga katamu dulu ketika menyambutku di Loko Cafe dekat stasiun. Kamu juga melonjak kegirangan dan merangkul tanganku erat-erat ketika melihatku seperti pada kedatanganku di ruang karaoke tadi.

Aku tahu, itu tahun-tahun terberat untuk kita. Kesibukan dan jarak ialah musabab kita dulu selalu bertengkar. Sebaik apa pun menjaga komunikasi, tetap saja rindu dan penat terkadang membuat kita enggan mengalah dari ego masing-masing. Tapi kita selalu kembali seperti semula. Selalu seperti itu hingga tahun terakhirku di Bandung.

"Nomor sebelas lantai dua. Seperti membaca novel yang pernah dikhatamkan," katamu sambil tertawa kecil ketika masuk di ruangan kecil ini.

Kamar murah seharga seratus ribu semalam, harga yang mampu kita sewa saat itu. Dan harga itu masih sama seperti waktu pertama dan terakhir kali kita menyewanya. Pot seukuran kendi di meja pojok sebelah kanan dekat jendela yang menghadap tempat tidur juga masih di situ. Lukisan ikan masih di dinding sebelah kanan. Benda-benda lainnya masih menetap di tempat yang sama. Begitu juga lampu tidur di dua sisi tempat tidur ini yang cahayanya kekuningan.

Aku bisa saja menyewa kamar yang lebih mahal dan lebih luas sekarang. Tetapi tidak ada cerita yang bisa kita nikmati di sana. Meski di ruangan ini pula lagi-lagi kurasakan hanya ada satu hal yang tak sama.

Kamu menyalakan lampu tidur dan kita mulai memintal kembali ingatan di ruangan 4x4 ini sambil menyenderkan punggung di kepala ranjang. Rindu paling dalam dan rasa ingin melumat habis seluruhmu pernah tumbuh di dadaku dan di sini. Aku memang melumat habis dirimu di ujung Desember tiga tahun lalu seusai perayaan Natal. Satu bulan setelahnya kamu meneleponku sambil menangis. Kamu terlambat datang bulan. Aku mencoba menenangkanmu dan berkata akan selalu ada di sisimu. Kita sama bersalahnya. Dan aku laki-laki yang bertanggung jawab.

"Tapi waktu itu tidak memungkinkan meski aku tahu kamu bersungguh-sungguh. Aku tidak bisa mengorbankan cita-citamu begitu saja. Aku selalu memikirkanmu. Jadi aku makan nanas setiap hari dan tiba-tiba datang bulan di bulan berikutnya," katamu dengan suara parau. Barangkali kamu bersedih mengingat waktu itu.

"Kamu menyesal?" tanyaku.

"Entah. Toh, kita tidak mengulanginya lagi. Dan itu tidak bisa disebut menggugurkan. Aku hanya makan nanas," tegasmu sekali lagi, "aku juga hanya ingat temanku memilih untuk minum racun tikus ketimbang melanjutkan hidupnya. Bukankah aku pernah menceritakannya padamu?"

"Aku ingat."

Aku merangkulmu erat-erat dan menepuk-nepuk pundakmu. Aku tahu, kamu juga sama takutnya seperti temanmu. Takut menjadi satu-satunya orang yang paling bersalah, disalahkan, dan paling dihinakan. Aku pun merasa bersalah tidak benar-benar ada di sisimu waktu itu.

"Lalu ini?"

Aku memegang tangan kananmu dengan kedua tanganku dan mengusap jemarimu. Jemari yang jari manisnya terselip cincin emas bermata satu. Cincin yang disematkan oleh laki-laki lain dua bulan selang putus denganku. Itu karena aku mem-posting foto dengan perempuan lain. Perempuan itu adalah rekan kerjaku dari kontrak kerja pertama yang kudapat setelah lulus kuliah.

Kamu tiba-tiba mulai menangis tersedu-sedu seperti waktu meneleponku dulu. Wajahmu jadi basah oleh air mata yang bercampur sedikit ingus. Kamu beranjak dari tempat tidur dan mengambil tisu dari dalam tasmu. Kamu membawa tisu itu kembali ke tempat tidur dan duduk di pinggiran memunggungiku. Kepalamu tertunduk.

Aku bangun, duduk di sebelahmu dan menatapmu yang terlihat menyedihkan.

"Aku sudah berhenti marah. Hanya tidak habis pikir kamu melakukannya dengan orang lain. Kamu menyesal?" Aku mengulang pertanyaan itu untuk kedua kalinya.

Kamu tidak menjawab apa-apa. Masih sibuk dengan tangismu. Barangkali itu sebuah jawaban yang harus kucerna dalam-dalam.

"Kamu tidak berpikir panjang dan terlalu berburuk sangka padaku. Aku tidak pernah mencintai perempuan lain selainmu. Kenapa kamu tidak kembali saja padaku ketika aku memintamu untuk itu?"

Aku merangkulmu lagi erat-erat, Kamu menenggelamkan wajahmu di pelukanku.

"Meski aku tahu dia naksir padamu sejak tahun pertama masuk kuliah. Dan aku juga tahu, dia kakak tingkatmu yang sudah lebih mapan dariku. Apa dia sama cintanya padamu sepertiku? Apa kamu mencintainya seperti kamu mencintaiku?"

Maaf. Hanya itu kata yang keluar dari bibirmu. Sudah ribuan kali kata itu kamu ucapkan sejak kamu menyadari kebodohanmu dan tidak bisa menghindari hari pernikahanmu. Namun kata itu tidak bisa menghapus kekecewaan dan penyesalan yang mengganjal dadaku. Aku bahkan tidak datang ke pestamu bulan lalu. Aku mengelus-elus kepalamu supaya kamu merasa lebih baik. Bagaimana pun, kamu perempuan yang sangat kucintai, yang pernah mengisi hidupku.

"Aku hanya ingin membalas rasa cemburuku saat itu," ucapmu terbata dia tengah tangis itu.

Lihat, cemburu ternyata bisa jadi sesuatu yang menyedihkan. Ia mampu mengubah rencana-rencana indah yang pernah kita susun.

"Aku rindu kamu. Dan seharusnya aku yang bertanggung jawab atasmu."

Kamu mengangkat wajahmu berusaha menatapku.

"Jangan tidur malam ini," pintamu.

Aku harap aku tidak sedang mencuri istri orang yang suaminya sedang ke luar kota.

Yogyakarta, April 2019

A. Jeanedya berdomisili di Yogyakarta, aktif dalam komunitas menulis cerpen Prosatujuh

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com

(mmu/mmu)

FOKUS BERITA: Cerpen detikHOT
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikhot.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com