detikHot

Cerita Pendek

Kemamang

Minggu, 05 Mei 2019 12:06 WIB Januarsyah Sutan - detikHot
Jakarta - Srek, srek, srek. Baju mekau 1) Idris bergesekan dengan tikar anyaman pandan yang melapisi lantai tanah. Berkali-kali Idris mengganti posisi tidur tetapi matanya tetap terjaga. Lampu semprong yang sudah dimatikan dan udara malam yang segar setelah dibasuh hujan tidak mampu menidurkannya. Malam itu terlalu mencekam.

Siang tadi, sehabis memunguti mindek 2) di bawah gulungan awan mendung dan naungan pohon meh 3), Idris mendengarkan percakapan beberapa petani yang berkumpul di dekat punden 4). Dengan mata melotot seperti siap menerkam, mereka membicarakan soal rencana pembunuhan yang akan dilakukan Gestapu. Mereka harus waspada. Desa harus dijaga. Dan sebelum Gestapu melaksanakan rencana, serang lebih dulu!

Idris pernah dengar bapak mengucapkan kata Gestapu, tapi dia tidak tahu apa arti kata itu. "Habisi, habisi!" kata seseorang dengan wajah tertimpa bayangan dedaunan dengan penuh nafsu. Ketika melihat Idris, dia menghardik, "Minggir! Cah cilik ojo ngrungokno wong tuo jagongan!" 5) Idris pun beringsut pulang, begitu juga petani-petani itu, sebab tidak lama kemudian gerimis turun, disusul hujan deras sepanjang sore, yang berhenti sebelum bulan purnama terbit.

Anak -anak disuruh masuk rumah begitu selesai menunaikan salat Magrib di surau, sementara laki-laki dewasa tetap di luar. Warga sudah mendengar soal rencana kejam Gestapu dan sebagian berkeliling menjaga keamanan desa. Bapak Idris juga tidak di dalam rumah. Sesekali Idris mendengar suara laki-laki setengah baya itu di luar memberikan perintah. Dalam kegelapan, Idris mendengar suara seseorang yang tidak dia kenal menyapa bapak dengan tutur kata yang sopan.

Idris hanya bisa mendengar jelas sepotong percakapan mereka: "Sanjange wonten daftar tiyang-tiyang menawi badhe dipejali lanjur dipendem ting kedukan menika. Kiai-kiai ugi tokoh-tokoh masyarakat, menawi nami njenengan nggih mlebet, Pak." 6)

Idris cukup mengerti apa yang dimaksud orang itu: bapaknya akan dibunuh! Dia heran bukan main. Siapa yang tega ingin membunuhnya? Kenapa? Pelan-pelan Idris berdiri, lalu menempelkan kuping ke dinding anyaman bambu rumah. Seperti tahu bahwa percakapan mereka didengarkan, bapaknya berbicara: "Ojo ning kene ngomonge, mengko bocah-bocah padha krungu, njur tangi."7

Begitu suara langkah mereka terdengar menjauh, Idris membuka pintu belakang rumah dan melihat cahaya di kejauhan. Pasti itu senter pinjaman bapak, pikir Idris. Dirasuki oleh rasa ingin tahu, Idris setengah berlari tanpa alas kaki di atas jalan tanah yang becek, mengikuti cahaya yang bergerak di bawah pepohonan menuju sawah.

Cahaya itu berhenti di pematang. Mungkin mereka bisa lebih leluasa berbicara di sana, pikir Idris. Tapi, ada yang aneh dari gerakan cahaya itu. Dia bergerak turun ke padi-padi yang masih hijau, seperti sedang mencari-cari sesuatu. Idris berjalan perlahan-lahan di antara semak belukar yang tertutup pepohonan. Semakin dekat, dia semakin yakin itu bukan cahaya senter. Idris melihat kepala manusia kecil yang menempel di bawah cahaya itu! Bocah laki-laki itu terbelalak. Rupanya itu bukan cahaya senter, tetapi rambut kemamang! 8)

Krak! Idris menginjak ranting pohon asem yang mengering. Makhluk gaib itu menoleh ke arah Idris, wajahnya yang terpapar pendar cahaya tampak murka, mendesis, namun mendadak menghilang begitu saja.

"He! Mergo kowe kemamange mlayu ilang!" 9) bentak suara yang muncul dari sebelahnya. Idris tersentak dan jatuh ke rerumputan. Sinar bulan menerangi sosok tersebut, seorang noni Tionghoa dengan piyama dan rambut pendek sedang duduk di balik ilalang beralaskan daun jati. "Wis mire kowe!" 10)

"Emoh, wong aku yo pingin weruh kemamang kok mbok kon lungo." 11) Baru pertama kali seumur hidup Idris melihat makhluk gaib itu padahal dia sudah sering dengar dari teman-temannya. Idris tahu mungkin kemamang-kemamang lain akan muncul di sekitar sana mencari yuyu 12). Idris penasaran.

"Opo ora wedhi?" 13) tanya noni itu, khawatir kalau Idris akan membuat keributan lagi.

"Ora. Jare Bapak malah kemamang sing wedhi karo menungso." 14)

Dengan enggan, noni itu mengambil daun jati di sampingnya dan memberinya ke Idris sambil mengingatkan supaya tidak berisik. Meskipun terkesan galak di awal perjumpaan, Noni itu ternyata suka mengobrol. Belum ditanya dia sudah bercerita tentang dirinya sendiri. Namanya Lim Loan Nio, anak pengusaha batik. Rumahnya diserbu gerombolan orang tidak dikenal sehingga dia bersama keluarga mengungsi ke desa, ke rumah pembatik yang bekerja untuk keluarganya. Namanya Mbok Las.

Dari Mbok Las dia tahu cerita tentang kemamang, makhluk gaib yang takut dengan manusia, tapi Mbok Las tidak tahu sebabnya mereka takut manusia. Idris pun tidak tahu kenapa kemamang takut manusia. Meskipun dilarang untuk mengganggu kemamang, Loan Nio penasaran dan diam-diam dia meninggalkan rumah Mbok Las ketika seisi rumah sudah tertidur. Idris terkikik mendengar ceritanya. Gadis ini nekat sekali!

Loan Nio membekap mulut Idris dengan telapak tangan. "Hssst!" Matanya terpaku ke arah barat di mana pohon meh yang menjulang berada. Tetapi bukan pohon itu yang dia sedang lihat, melainkan cahaya berpendar di sawah di hadapan pohon tersebut. Bukan hanya satu cahaya, melainkan tiga! Dengan segera Loan Nio memimpin pergerakan mereka menuju sekumpulan kemamang yang penakut itu.

Dengan segala upaya mereka berjalan tanpa membuat keributan. Idris dan Loan Nio akhirnya berhenti di bawah pohon meh dan duduk di antara akar-akar yang meliuk-liuk seperti ular raksasa. Idris memunguti beberapa mindek dan menawarkannya ke Loan Nio. Gadis itu melotot, mengingatkan Idris supaya tidak bicara, tetapi tetap mengambil buah meh itu dari tangan Idris. Di situ mereka duduk dalam diam, menonton tiga kemamang sibuk mencari yuyu di pinggiran hamparan sawah yang diterangi sinar bulan purnama.

"Iki ulang," 15) samar-samar terdengar suara salah satu kemamang itu, "Iki wadeng. Yuyu ne endi yo?" 16)

Idris dan Loan Nio saling melirik sambil menahan tawa. Kalau saja mereka tidak takut manusia kedua anak itu akan membantu mereka mencari yuyu.

Ketiga kemamang itu tiba-tiba mematung. Idris dan Loan Nio serentak waspada. Makhluk-makhluk itu melihat ke arah muara sungai tidak jauh dari tempat mereka duduk. Cahaya-cahaya bermunculan bersamaan dengan suara ranting yang terinjak. Sepertinya warga desa yang sedang berpatroli, pikir Idris. Loan Nio, dengan kenekatannya, berjalan perlahan menuju sumber cahaya tersebut dan Idris membuntut di belakang. Mereka berjalan masuk ke hutan, di antara semak-semak, supaya tidak dilihat kemamang dan siapapun yang berkumpul di dekat muara sungai itu. Di balik pohon asem, Idris duduk berjongkok mengikuti Loan Nio.

"Wis jongkrokno ae ning njero jogangan, langsung tembak. Nek ora mengko awake dhewe sing dipateni, njur dilebokke ning jogangan kui." 17)

Idris mengenal suara itu. Dia salah satu orang yang berteriak "habisi, habisi!" di dekat punden dan mengusirnya. Cahaya bulan tidak mampu menembus barisan pohon yang mengelilingi mereka sehingga tak satu pun wajah yang tampak. Bulu kuduk Idris berdiri dan tangannya gemetar. Pertama kalinya malam itu dia merasa takut.

Tiba-tiba saja muncul semburat cahaya dari belakang Idris dan Loan Nio yang berusaha mengintip. Belum sempat menoleh untuk melihat ketiga kemamang yang juga datang karena penasaran, dengan mata dan kepala sendiri, Idris dan Loan Nio menyaksikan rentetan tembakan diarahkan ke tubuh-tubuh manusia di dalam lubang. Mayat-mayat dengan baju berlumuran darah dan sayatan di leher yang menganga didorong ke dalam lubang.

Tembakan terus berlanjut, memecah keheningan malam, mengalahkan suara jangkrik dan tonggeret. Wajah-wajah pembunuh diterpa semburat cahaya dari rambut kemamang dan mereka melotot ke arah sumber cahaya itu! Idris, Loan Nio dan ketiga kemamang lari pontang-panting. Idris otomatis pergi ke arah rumahnya sementara Loan Nio lari semakin dalam ke hutan, mengikuti ketiga makhluk gaib yang ketakutan itu. Saat itu, Idris tidak tahu dia tidak akan melihat noni itu lagi seumur hidupnya.

Idris berlari pulang sambil menangis, khawatir bapaknya adalah salah satu orang yang dibunuh. Saat dia membuka pintu belakang rumahnya, semua masih terlelap, sementara bapaknya belum pulang ke rumah. Idris duduk menunggu dalam kegelapan rumahnya tetapi akhirnya lelah justru yang menidurkannya.

Suara orang mengobrol di ruang tengah membangunkan Idris keesokan harinya. Pelan-pelan dia membuka mata, memastikan dia tidak lagi berada di dalam hutan gelap bersama pembunuh-pembunuh itu seperti dalam mimpi buruknya. Sungguh bahagia dia ketika mendengar suara bapaknya. Dia ada di rumah! Tidak dibunuh dan masuk lubang di hutan!

Idris bergegas meninggalkan kamar menuju ruang tengah. Bapak terdengar masih berbicara dengan orang yang tadi malam datang untuk memberikan peringatan, tapi Idris tidak peduli dan masuk ke dalam ruangan. Langkah Idris terhenti di pintu. Dia melihat bapaknya, tetapi dia juga melihat wajah-wajah tamu di ruangan itu. Mereka adalah orang-orang yang dia lihat tadi malam.

Pembunuh-pembunuh itu berkumpul bersama bapaknya. Wajah mereka menoleh ke arah Idris dengan senyuman dingin dan kehangatan dari suara panggilan bapaknya saat itu nyaris tidak terasa sama sekali. Tubuh anak itu pun gemetar. Mungkin, pikir Idris, sebaiknya dia berlari ke dalam hutan bersama ketiga kemamang itu.

Keterangan:

1) Baju tradisional yang terbuat dari kain semacam blacu
2) Buah pohon trembesi
3) Pohon trembesi
4) Makam keramat
5) "Pergi! Anak kecil jangan mendengarkan pembicaraan orang tua"
6) "Katanya ada daftar orang-orang yang akan dibunuh dan dikubur ke dalam lubang itu, yaitu kyai-kyai dan tokoh masyarakat. Anda juga masuk daftar itu, Pak."
7) "Jangan di sini bicaranya nanti anak-anak mendengar dan bangun."
8) Makhluk ghaib berwujud anak kecil dengan sedikit rambut memanjang ke atas yang seperti terbuat dari api.
9) "Gara-gara kamu kemamangnya menghilang!"
10. "Sudah, pergi sana!"
11) "Tidak mau. Aku juga mau lihat kemamang kok disuruh pergi."
12) Kepiting darat
13) Apa tidak takut?
14) "Tidak. Katanya Bapak kemamang takut dengan manusia."
15) "Ini udang" tetapi karena cara bicara kemamang yang aneh, pengucapannya tidak sempurna.
16) "Ini ikan wader. Kepitingnya di mana ya?"
17) "Sudah, dorong saja ke lubang dan langsung tembak. Kalau tidak nanti kita sendiri yang akan dibunuh dan dimasukkan ke lubang itu."

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com


(mmu/mmu)

FOKUS BERITA: Cerpen detikHOT
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikhot.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com