Lift berhasil membuktikan film horor tidak melulu hadir dengan sosok hantu yang muncul tiba-tiba. Tanpa menghadirkan hantu sama sekali, film ini justru menyabet penghargaan dalam Festival Film Horor edisi Maret 2026.
Tak hanya dinobatkan sebagai Film Pilihan, Lift juga memborong sejumlah penghargaan lain. Mulai dari sutradara terpilih untuk Randy Chans, pemain pria terpilih untuk Alfie Affandi, pemain wanita terpilih untuk Ismi Melinda, hingga penata kamera terpilih untuk Risky Dwipanca.
Ketua Dewan Juri FFhoror, Ismail Uka-uka, menyebut Lift menawarkan pendekatan horor yang unik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini film yang sangat unik dalam kategori horor. Lokasinya pun sangat terbatas di dalam sebuah lift," kata Ismail dalam keterangan resmi, Senin (16/3/2026).
"Di situ kemampuan sutradara mengeksplorasi ruang, membangun titik api cerita misteri masa lalu yang terkuak, dan mengolah emosi keluarga yang relate dengan penonton tergarap dengan baik dan menghasilkan pengalaman menonton horor yang intens," lanjutnya.
Baca juga: Film Setan Alas! Bakal Tayang 5 Maret 2026 |
Film Lift sendiri hadir dengan konsep sebuah lift yang dibangun ketegangan lewat cerita misteri masa lalu. Ketua FFhoror, Chandra NZ, mengatakan proses penilaian film pada periode ini berlangsung penuh bersaing.
"Sampai menjelang sahur Jumat dini hari, Dewan Juri masih berdebat guna mencapai pilihan yang disepakati untuk diumumkan Jumat petang. Ini memang pekerjaan yang intens dan horor juga untuk juri," tutur Chandra.
Selain pengumuman film pilihan, FFhoror juga menggelar diskusi bertema Musik Horor yang Membumi: Membangun Vibes Horor Tanpa Kehadiran Setan.
Festival Film Horor sendiri rutin digelar setiap bulan sejak Desember 2025. Film yang dinilai adalah film horor Indonesia yang tayang di periode tertentu.
"Juri hanya menilai film yang mereka tonton di bioskop tanpa kontak dengan pihak yang berhubungan dengan film yang ditonton untuk menjaga independensi dan kredibilitas festival," tutur Chandra.
Menurut Ismail, jumlah film horor yang diproduksi di Indonesia cukup banyak sehingga memberikan pilihan yang variatif.
"Tiap bulan minimal enam film baru yang kami tonton untuk dinilai," pungkas Ismail.
(mau/pig)











































