detikHot

Cerita Pendek

Talidarma

Sabtu, 27 Apr 2019 10:30 WIB Panji Sukma - detikHot
Ilustrasi: Nadia Permatasari/detikcom Ilustrasi: Nadia Permatasari/detikcom
Jakarta - "Kalaupun seorang pahlawan harus tersurat dalam babad atau kitab, tetap saja kamu terlalu berlebihan mengisahkanku," ucap Prabu Karna pada lelaki tua yang bersila di hadapannya.

Lelaki tua itu tersenyum kecil. Ia sulut kretek yang diambil dari saku beskap, tangan kirinya menahan angin yang hendak menerpa pemantik. Entah apa yang sedang terjadi, sabetan tabuh para yaga Condhong Raos ke wilahan saron perunggu semakin melambat, suara penonton yang tadinya bergemuruh mengikuti adegan pathet manyuro pun juga perlahan semakin hening. Asap kretek mengepul, menyambar sinar blencong yang tergantung tepat di atas lelaki tua itu. Laron-laron yang mengitari blencong terbujur kaku tanpa mengepakkan sayap. Sang Batara Kala undur diri, kini waktu telah benar-benar telah berhenti berputar.

"Jangan besar kepala dulu Prabu Karna," ucap lelaki tua sembari menyandarkan siku kirinya ke tepian kotak wayang. "Aku hanya harus mengisahkan apa yang aku pahami, lagi pula aku juga tak berharap mendapat ucapan terima kasih darimu, Radeya" lanjutnya.

"Radeya? Hahaha," tawa Prabu Karna menggema ke semua penjuru. Malam yang hendak menjemput ujung bergidik menjadi saksi bisu pembicaraan itu.

Lelaki tua hanya menimpali dengan senyuman kecil. Sepertinya ia tahu benar bahwa dengan memanggil nama kecil Prabu Karna membuat hati Prabu Karna tergetar. Kisah perjalanan Prabu Karna yang penuh dengan cerita haru dan sarat dengan ketidakadilan yang ia dapat, telah banyak diketahui khalayak, meski tetap saja banyak yang menghujat karena pilihan sikapnya membela sang sahabat, Duryudana di Perang Baratayudha.

Berbeda dengan Ki Narto Sabdo, meski tak serta-merta menyampaikan kesalutannya pada Prabu Karna, sebenarnya dalam hati ia sangat mengagumi kebesaran hati, pengorbanan, dan keteguhan Prabu Karna dalam memegang sumpah.

"Apa aku sudah bisa melanjutkan wayanganku? Aku harus menyelesaikan lakon Kresna Duta ini sebelum azan subuh berkumandang dari langgar," tanya sang lelaki tua.

"Ah, itu kan alasanmu saja. Kenapa? Masuk angin lagi? Bukankah kamu biasa menyuruh peniti mengerik punggungmu sembari tetap memainkan wayanganmu?"

Senyum kecil terbekas di bibir lelaki tua yang tak lain adalah Ki Narto Sabdo. Sebenarnya ia tak menyangka bila wayang kulit yang tertancap pada debog di hadapannya itu ternyata selama ini memperhatikan kebiasaannya. Tak mau kalah, Ki Narto Sabdo balik bertanya, apakah ada larangan melakukan hal itu. Prabu Karna turut tersenyum kecil mendengar jawaban yang ia rasa cerdas itu.

"Apa kamu pernah mendengar pepatah lama perihal mendiamkan kesalahan adalah kejahatan?" tanya Ki Narto Sabdo.

"Apa maksudmu? Apa kamu sedang mencoba menghakimi pilihanku karena berpihak pada Kurawa? Kukira kamu benar-benar mengenalku."

"Salah. Aku berkata seperti itu malahan karena aku harus membenarkan anggapan buruk yang selama ini lekat denganmu. Sebagaimana juga yang kulakukan saat harus mengisahkan tentang pendahulumu, Kumbakarna dan Bambang Sumantri," jawab Ki Narto Sabdo panjang lebar. Ujung jari kakinya semakin rapat menghimpit keprak pada kotak wayang.

Ki Narto Sabdo memahami bahwa peran yang dijalankan Prabu Karna adalah yang terberat dibanding semua tokoh dalam kisah Mahabarata. Terlebih setelah sumpah setia ia ikrarkan pada Duryudana, membuat dirinya semakin tegap di garis depan menghadapi adik-adiknya, Pandawa. Seperti adegan pathet manyuro yang saat ini Ki Narto Sabdo sedang bawakan, Prabu Karna menyampaikan pada Prabu Kresna bahwa sebenarnya ia tahu bahwa kelak akan kalah dan mati oleh adiknya sendiri, Arjuna.

Dan hal itu dapat Ki Narto Sabdo bawakan secara apik. Sanggit Ki Narto Sabdo menempatkan Prabu Karna sebagai pemantik agar Perang Baratayudha segera terjadi. Melalui bibir Prabu Karna, Ki Narto Sabdo menjelaskan jika perang tidak segera terjadi, maka kurawa tidak akan segera kalah dan angkara murka tidak akan segera musnah. Prabu Karna bersedia menjadi tumbal demi kejayaan adik-adiknya, Pandawa. Sebab itulah Ki Narto Sabdo selalu berapi-api ketika membawakan tokoh Prabu Karna. Entah apa alasannya, seolah ada tali darma yang mengikat mereka.

"Terkadang aku tidak mengerti dengan diriku sendiri, pilihan seperti itu pun seolah mengalir begitu saja, aku yakin Basudewa Kresna berperan dalam semua ini. Tentu kamu tahu sendiri sepak terjangnya selama ini," ucap Prabu Karna sembari menoleh ke wayang Prabu Kresna yang tertancap tepat di hadapannya, di debog sisi kanan kelir. Adegan yang tiba-tiba terhenti itu memang fragmen ketika Prabu Karna mengejar Basudewa Kresna usai menunaikan tugas sebagai duta agung di Hastinapura.

"Malam telah memasuki dua pertiganya, Dewa Surya tak lama lagi ngejawantah kekuasaannya, memerahkan kolong langit. Kupikir sebaiknya aku segera undur diri agar kamu bisa menuntaskan pakeliran-mu," ucap Prabu Karna.

"Baiklah. Mungkin kamu ada pesan yang perlu disampaikan melalui mulutku untuk ibumu? Tentu kamu sudah tahu bahwa setelah ini ada adeganmu dengan Dewi Kunti di kasatrian Yamawidura." Tangan Ki Narto Sabdo meraih cempala di pangkuannya.

"Siapa aku ini hingga kamu pikir harus memberi pesan pada ibuku?"

Laron di sekeliling blencong perlahan mulai mengepakkan sayap, begitu pula kepul asap rokok yang tadinya bergeming menyerupai gambar pada sebuah lukisan mulai berarak. Tampaknya Bathara Kala sang penguasa waktu telah meminta kembali kuasanya. Namun sebelum benar-benar undur diri, Prabu Karna membisikkan sesuatu pada Ki Narto Sabdo saat coba menarik gapit wayang Prabu Karna dari debog. Ki Narto Sabdo tertunduk, mendengar sesuatu yang sebelumnya tak pernah terpikir olehnya. Tiga dhodhokan dan satu jejakan keprak mengawali iringan sampak manyura.

***

Semburat kemerahan di kejauhan yang terbias dari sela Gunung Lawu bertamu di halaman pendapa Kelurahan Langenarjo. Hiruk-pikuk orang yang tampak sibuk memberesi panggung dan sound system tak mampu mengusik khusuk Ki Narto Sabdo bersandar di kursi. Kedua telapak tangannya menyatu di atas jarik parang yang ia kenakan. Tak seperti biasanya yang usai menuntaskan pagelaran selalu bergegas ganti baju, pagi ini Ki Narto Sabdo tetap bertahan dengan setelan beskapnya. Keris Pandhawa Cinarita dengan warangka ladrang iras juga masih tegas menancap di kain sindur yang dibalut timang emas.

Bukan pesan untuk ibunya yang semalam Prabu Karna bisikkan pada Ki Narto Sabdo, namun sebuah pertanyaan. Apakah di zamanmu masih ada yang sudi menerima peran seperti aku? Bukan tentangku yang aku khawatirkan, sebab kisahku sudah berlalu. Tapi tentangmu, tentang kalian, zaman ini, tidak ada yang menjamin jika kebenaran yang akan mengalahkan keangkaramurkaan.

Pertanyaan yang benar-benar menyesakkan dada Ki Narto Sabdo. Betapa ia merasa bahwa selama ini hanya disibukkan dengan mencari kebenaran masa lalu, dan ternyata ada yang luput ia tangkap tentang hari ini. Kesewenang-wenangan, kejahatan, dan ketidakpedulian terhadap sesama semakin kental. Pengembaraan pikiran Ki Narto Sabdo memang tak menemui pelabuhan. Ia sama sekali tak dapat menemukan tokoh di eranya yang seperti Prabu Karna. Rela mengorbankan diri, dihujat, dijadikan tameng, dan sudi menjadi tumbal agar kebenaran dapat segera tampil. Sesak di dadanya semakin menjadi ketika teringat ucapan Kresna, Sang Wisnu yang pernah ia baca dalam serat Mahabharata. Aku beruntung karena hidup sezaman dengan Karna.

Panji Sukma Her Asih lahir di Sukoharjo, 1 Maret 1991. Saat ini mengasuh Sanggar Semesta Bersua dan anggota Sekretariat Nasional Perkerisan Indonesia bidang kepemudaan. Bergiat di Komunitas Sastra Kamar Kata Karanganyar dan Literasi Kemuning. Karya yang telah terbit novel Astungkara (Nomina, 2018), antologi cerpen Yang Tergusur (Kekata Publisher, 2019), dan antologi puisi Perjamuan Kopi di Kamar Kata (Nomina, 2017).

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com


(mmu/mmu)

FOKUS BERITA: Cerpen detikHOT
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikhot.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com