detikHot

art

Dua Tahun Berburu Matahari di Atas Stupa Candi Borobudur

Senin, 22 Apr 2019 20:05 WIB Eko Susanto - detikHot
Foto: Eko Susanto/detikcom Foto: Eko Susanto/detikcom
Magelang - Foto karya Suparno ini bercerita tentang keberadaan Candi Borobudur. Setelah purnatugas dari pegawai Balai Konservasi Borobudur (BKB), Suparno mendedikasikan pada fotografi. Bahkan, selalu hunting-hunting di desa-desa sekitar Candi Borobudur.

Proses pemugaran Candi Borobudur tahap II pada tahun 1973-1983 terdokumentasikan. Pemugaran ini baik mulai dari proses pengangkatan bebatuan hingga pemasangan terdokumentasikan dengan lengkap. Bahkan, dia pun harus rela memanjat katrol yang tinggi demi memotret proses pemugaran tersebut. Kemudian, untuk foto dokumentasi ketika itu menggunakan kameranya seadanya dan belum secanggih sekarang ini.

Selain itu, untuk proses pendokumentasian dari udara karena belum ada drone saat itu, Suparno naik pesawat ultralight. Hal tersebut dilakukan untuk mendapatkan gambar utuh Candi Borobudur dari atas. Demikian halnya setelah terjadi erupsi Merapi 2010, Suparno dengan motor jadulnya memotret Candi Borobudur.

Ada sekitar 50-an karya foto Suparno baik semasa masih bekerja di BKB 1973-2008 maupun setelah pensiunan juga ikut dipamerkan. Dalam pameran foto berjudul Borobudur di Mata Suparno dilangsungkan di Galeri Komunitas Nujiwa, Karanganyar, Borobudur, 22-25 April 2019. Pameran ini dilangsungkan dalam rangkaian memperingati Hari Warisan Dunia. Adapun pameran ini merupakan hasil kolaborasi antara tim YLKIS dan Balai Konservasi Borobudur dengan dukungan penuh dari UNESCO.

"Saya terus terang tidak pernah terpikirkan kalau ada pameran seperti ini. Suatu saat didatangi mereka (Salim dan Cuk Riomandha), mau ketemu saya. Pak Parno, gimana Hari Warisan Dunia kalau pameran foto karya Pak Parno," kata Suparno di sela-sela pameran foto di Galeri Komunitas Nujiwa, Karanganyar, Borobudur, Selasa (22/4/2019).

Selanjutnya, Hairus Salim, Dwi Oblo Prasetyo dan Cuk Riomandha kembali menemui Suparno. Setelah mendapatkan semua perizinan, Suparno pun harus membolak-balik arsip foto-foto tersebut di BKB.

"Eksekusi saya harus mencari foto-foto saya. Waktu itu, ke kantor berempat bingung juga mencari foto-foto saya. Kemudian, mencari buku deskripsi saya pada waktu menjadi dokumentasi. Saya khusus dokumentasi untuk konservasi, tapi juga meliput kegiatan di atas karena tahu proses dari batu Borobudur mau turun ke area kerja. Makanya, saya cari buku saya itu. Deskripsi saya ketemu," katanya.

Untuk pameran ini ada sekitar 50 foto. Foto tersebut terdiri 70 persen foto-foto lama dan 30 persen foto Suparno karya yang baru. Adapun foto-foto lama yang dipamerkan dipilih dari ribuan foto.
Dua Tahun Berburu Matahari di Atas Stupa Candi BorobudurFoto: Eko Susanto/detikcom

"Untuk pameran ini kalau nggak salah ada 50 atau 60 foto. Semua foto yang dipamerkan ini karya saya, tapi yang baru koleksi saya sendiri. Karya yang baru ada 15 bercerita tentang lanskap pedesaan," kata Suparno yang biasa dipanggil Parno, itu.

Pria kelahiran 5 Juni 1952 menambahkan, untuk yang 50 foto tersebut bercerita tentang pemugaran. Untuk foto-foto yang baru merupakan karya yang berkisar 2010-2015.

"Dokumentasi foto sangat penting karena itu kan dokumentasi umpamanya sekarang nggak begitu, tapi nanti yang akan datang anak cucu akan menikmati pentingnya dokumentasi," ujar dia.

Dari beberapa foto baru karya yang dipamerkan tersebut, kata Suparno, ada satu foto yang dianggap masterpiece. Karya foto masterpiece tersebut diberi judul Candi Borobudur dari Dusun Maitan Borobudur pada tahun 2011. Foto ini bercerita saat matahari terbit persis di atas stupa Candi Borobudur.

"Untuk mendapatkan foto ini selama dua tahun. Matahari persis di atas stupa, perhitungan saya terjadi berkisar bulan Maret dan Septmber," tutur Parno sambil memperlihatkan fotonya.

Kurator pameran foto Borobudur di Mata Suparno, Dwi Oblo Prasetyo mengatakan, untuk pameran ini memilih foto karya Suparno. Foto yang dipamerkan dipilih dari ribuan foto karya Suparno saat bekerja di Balai Konservasi Borobudur. Kemudian ada foto baru yang dipilih dari sekitar 300-an foto.

"Akhirnya dipilih 70 persen foto-foto dokumentasi. Sama sekali orang tidak tahu, foto-foto Pak Parno dulu waktu bekerja seperti apa? 70 persen foto ini milik BKB, 30 foto-foto Pak Parno setelah pensiun," ujarnya.

Menyinggung dari segi arkeologi foto karya Suparno, kata Dwi Oblo, ini sangat penting sekali. Hal karena akan menghubungkan Borobudur zaman dahulu dengan sekarang. Bahkan dari teknis fotografi pengambilan angle maupun lainnya sudah bagus.

"Secara teknis menurut saya nggak masalah apik. Beberapa foto tidak saya crop, benar-benar aslinya," ujar dia.

"Menurut saya, foto pameran ini penting untuk generasi milenial terutama dokumenternya," katanya.



(nu2/nu2)

Photo Gallery
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed