detikHot

Cerita Pendek

Pria yang Hanya Kuketahui Namanya

Sabtu, 13 Apr 2019 10:15 WIB Abi Ardianda - detikHot
Ilustrasi: Denny Pratama Putra/detikcom Ilustrasi: Denny Pratama Putra/detikcom
Jakarta - Aku sedang berada di dalam mobil bersama pria yang hanya kuketahui namanya. Cuma itu yang kukenali, selain kemeja flanel kotak-kotak warna biru dongker, sepatu kets kusam, dan matanya yang sangat sering berkedip serta tidak fokus. Aku mencium aroma alkohol menguar dari napasnya, beredar di bagian dalam mobil yang sudah beraroma pengawet jenazah. Kudapati diam-diam ia menuangkan vodka ke dalam cup coffee-nya tadi.

Ia mengemudikan mobil memanjati bukit pelan sekali. Kabut tebal membungkus kami. Aku takjub ia mampu mendeteksi rute dan laju kendaraan dari arah berlawanan. Sejak tadi aku sudah mempersiapkan diri apabila mobil tiba-tiba terjeblos jurang. Atau dihantam truk. Sebab nyaris tidak ada apapun di sekeliling, selain kabut putih semu kelabu. Serta mengalun tembang dari Sonic Youth, berjudul Shoot, rilis nyaris dua dekade lalu.

Ssssssh... Visualize... That's right. Pray, Baby....

"Kamu takut?" pria yang hanya kuketahui namanya itu berbisik tanpa menoleh. Aku paham ia harus berkonsentrasi pada jalan. Tetapi, kurasa ia mampu merasakan bahwa di sampingnya aku baru saja menggeleng. Kemudian, ia melanjutkan, "Saya mungkin membawamu ke tempat yang enggak mau kamu kunjungi. Melakukan hal-hal yang kamu enggak mau saya lakukan."

"Aku tahu."

"Kamu berniat melarikan diri?"

"Enggak."

Kemudian, pria itu kembali bungkam. Sejujurnya, banyak hal ingin kutanyakan padanya. Apakah ia menyukai aroma bensin yang menguar ketika kita sedang mengisi bahan bakar? Atau, bagaimana pendapatnya tentang bunyi retakan tulang saat terjadi benturan kuat? Kamu tahulah, hal-hal semacam itu.

"Kamu sebaiknya enggak menerima tawaran apapun dari orang asing," ia mencoba memberi wejangan walau terlambat.

Aku ingin pria yang hanya kuketahui namanya itu tahu bahwa aku tahu apa yang kulakukan. Aku tahu apa yang kumau. Aku paham konsekuensi yang kudapatkan dengan menerima tawaran berkencan dengannya. Aku sengaja duduk di sampingnya, mendengar ia mengeluh tentang kedua orangtuanya yang memberikan semua yang dimintanya. Kecuali saat ia minta keduanya untuk selalu hadir. Itu mustahil, katanya. Lebih mudah membangun seribu candi dalam sekejap.

Aku ingin menjelaskan bahwa aku tahu rasanya kesepian.

Tetapi, tidak jadi. Biar ia kenyang meratap. Kubiarkan ia mengoceh tentang uang yang ia hamburkan sebagai alat kontrol manusia. Dengan lembaran rupiah, orang menjadi lebih mudah mengangguk dan bergerak sesuai pedoman. Ia meletakkan nilai pada angka dan tidak ada yang selesai menghitung bilangan terakhir. Barangkali, itulah kenapa pencariannya tak pernah berujung.

Perkenalanku dengan pria yang hanya kuketahui namanya dimulai beberapa minggu lalu. Kami sama-sama menggeser foto masing-masing ke kanan pada sebuah aplikasi kencan. Nama yang digunakannya saat itu adalah fun. Hanya itu identitas yang kumiliki tentangnya. Setelah itu, kami rajin bertukar pesan teks, pesan suara, sampai foto telanjang tanpa paras melalui Whatsapp.

Kemudian ia mengajakku bertemu.

"Kamu cantik sekali," ia menyampaikan kalimat tersebut tidak sampai dua detik. Tetapi, otakku memutar adegan itu dalam versi gerakan lambat, seolah-olah kalimatnya dipenggal ke dalam beberapa belas sekon; ka - mu - can - tik - se - ka - li.

Rasa-rasanya, aku sama sekali tidak terlibat dalam keelokan visual yang baru saja disinggungnya. Persetan dengan semua yang kelihatan cantik. Terpaksa kuciptakan kesan wajar dengan menjawab, "Terima kasih," seolah-olah kecantikan tadi merupakan hasil jerih payahku dan aku berkewajiban menghargai siapa pun yang memberikan pujian. Orang selalu lapar sanjungan, maka kutambahkan, "Kamu juga tampan." Kuakui dia betulan tampan. Gaya bicaranya saja yang tidak memikat. Dia tidak kelihatan tertarik pada apapun.

Kusepakati ajakannya bertemu di kedai kopi yang terakhir kuperiksa jumlahnya melampaui 20.000 gerai di seluruh dunia. Lebih dari 300 kedainya tersebar di Indonesia dengan logo puteri duyung hijau. Jaraknya hanya setengah kilometer dari perumahan tempatku tinggal.

Untunglah dia tidak pandai berbasa-basi. Kami segera memutuskan bersenang-senang. Aku mengusulkan menyewa city car selama satu hari supaya kami bisa berkeliling kota dalam keadaan setengah mabuk. Kerugian apabila terjadi kecelakaan lebih rendah. Aku mengenal salah satu tetangga yang juga bekerja sebagai buruh bangunan dan menyewakan mobil yang dicicilnya.

Entah bagaimana, gagasan berkeliling kota berubah menjadi menelusuri perbatasan. Tahu-tahu kami sudah berada di area perbukitan.

Kabut masih membuntel kami dan dia sepertinya mulai jemu. "Ayolah. Setidaknya, ceritakan apa yang membuatmu gelisah." Belum jera rupanya ia menakut-nakuti. Kadang aku berharap untuk dilahirkan sebagai pecundang.

Apa, ya?

Aku tahu, aku harus lekas menyebutkan kelemahan tertentu untuk membuatnya merasa memegang kendali. Perempuan seringkali perlu ikut berupaya saat laki-laki ingin memiliki kuasa. Tetapi, pertanyaannya itu sulit sekali. Apa yang membuatku khawatir?

Sewaktu kecil, ketika ibuku berbaring kritis karena kanker di rumah sakit, orang sering menyemangatiku untuk tabah bila harus ditinggal ibu. Mereka mengira kematian ibu akan membuatku gamang. Kenyataannya, setelah tubuh ibu dibalut kafan dan digerogoti cacing dalam tanah, aku malah terbebas dari aroma tubuhnya yang semakin hari semakin meneror. Aroma ganjil itu tidak hanya memenuhi kamar rumah sakit, tetapi sekaligus menghuni rongga hidungku dan menggangguku pada setiap tarikan napas.

Sementara itu, ayah sering mengancam akan memotong-motong tubuhku bila aku sampai mengadu pada seseorang bahwa selama ini ayah mendapatkan uang dengan cara membiarkan beberapa teman lelakinya menyetubuhiku. Ya, pada akhirnya aku memang tutup mulut. Tetapi, aku tidak membocorkannya pada siapa pun karena aku tidak peduli. Bukan karena aku ciut. Katanya, ayah bisa saja menyembunyikan potongan itu di dalam lemari pendingin. Dibungkus alumunium foil. Dia lupa bahwa aku merupakan darah dagingnya sendiri. Lihat, kan, melapor atau tidak sama saja. Jadi, kekhawatiranku ketika itu tidak bermanfaat. Maka, aku diam saja.

"Hei. Kamu dengar tidak? Apa yang membuatmu takut?"

Aduh, apa, ya?

Sonic Youth masih mengalun. Pray, Baby... One... Two... Three....

"Aku... tidak tahu."

"Bagaimana mungkin seseorang tidak mengetahui apa yang membuatnya takut?" kali ini ia menoleh sambil setengah membentak.

Kucoba mengulur. "Memang, apa yang membuatmu sendiri takut?"

"Saya takut sekarat. Kata orang, proses ketika nyawamu dicabut itu seperti menanggung seluruh penderitaan yang mampu terjadi di bumi. Kamu mengalami itu semua dalam kurun waktu kurang dari enam puluh detik. Mereka yang masih hidup akan melihat tubuhmu memutih pelan- pelan, dari kaki sampai kepala."

Aku tidak mahir bersandiwara. Ia pasti memergoki parasku yang luput memancarkan ekspresi. "Bacalah ini," dijulurkannya ponsel pintar ke arahku. Sebuah portal berita menampilkan foto pemuda yang dinyatakan hilang. "Kamu tahu, dia lenyap ketika pergi ke lokasi yang akan kita kunjungi saat ini."

Kubaca beritanya dulu. Baru kutengok wajahnya. "Kamu mengenalnya?"

"Ya. Dia teman kuliahku. Nama dan fotonya sempat viral semenjak ia dibebaskan dari kasus pelecehan seksual terhadap teman kuliah kami. Demi Tuhan, pelacur haus drama itu juga pasti diam-diam menikmati performa temanku di ranjang. Dengar-dengar, permainannya hebat."

"Lalu?"

"Setelah itu temanku hilang. Kabar terakhir yang kuterima dia pergi berkemah di atas bukit, kemudian hilang begitu saja. Tidak ada jasad, tidak ada jejak, hanya sebuah cerita hantu yang disebarkan netizen. Katanya ia larut dilahap kabut."

Pemuda di portal berita itu difoto menggunakan toga, menunjukkan kasta dan isi kepala. Tetapi, malah ulah dari isi celananya yang kemudian menjadi legenda.

"Apakah sekarang kamu merasa takut?"

Astaga. Dia masih penasaran.

Sebaiknya sekarang aku berpura-pura. "Lumayan. Kamu mau menepi sebentar, enggak?"

"Untuk apa?"

"Ng...." Apa, ya? "Kamu bisa merokok. Atau, kita bisa menghangatkan satu sama lain. Sejujurnya, aku mulai kedinginan," paparku.

Ketika tersenyum, deretan giginya menunjukkan putih cemerlang. "Kamu perempuan yang gemar berterus terang, ya, enggak seperti perempuan Indonesia pada umumnya."

Bung, di tengah budaya yang mendidik perempuan untuk patuh pada hukum yang banyak memihak laki-laki, menjadi pembangkang dibutuhkan keberanian yang tidak sedikit. Tidak jarang kami perlu menukar keberanian tersebut dengan kewarasan dan akhirnya dikatai gila.

Setelah menepi, tangannya yang beraroma tembakau meraba leher dan selangkanganku. Ia mengecup leherku dan berbisik, "I love y-"

Belum sempat ia menyelesaikan rayuan, kuhunus pembuluh darah pada bagian dekat ketiaknya menggunakan cutter milik tetanggaku. Kudapati sepasang matanya membelalak. Lalu memejam menahan perih. Ia tumbang dalam sekali libas. Kubuka pintu, kudorong bahunya keluar, sehingga kini kepalanya nyaris menyentuh aspal.

"Kamu sebaiknya enggak menerima tawaran apapun dari orang asing," kucuri kalimatnya sambil mengambil mesin bor milik tetanggaku di jok belakang.

Ketika mesin bor kunyalakan, dengungnya membangunkan pria yang hanya kuketahui namanya itu. Namun, ia tidak memiliki cukup daya untuk melawan sehingga sisa kesadarannya hanya digunakan untuk mengerang. Matanya tambah rapat memejam ketika gerigi tajam itu melubangi telinga sampai menembus isi kepalanya. Semua itu kulakukan perlahan. Aku ingin otaknya sempat merekam rasa sakit yang diakibatkan oleh mesin bor melalui daun telinganya yang kini sudah hilang bentuk.

Pray, Baby. One, two, three... Shoot... Shoot... Shoot

Bau amis darah seketika menyeruak. Aku mendorong tubuhnya yang mendadak pucat keluar mobil. Untuk mencegah isi perutku meluncur, kunyalakan rokok dan memandangi jasadnya tergeletak di samping ban. Sayang sekali aku lupa menyaksikan mitos yang tadi sempat ia singgung. Benarkah warna tubuh manusia sedang sekarat itu memutih dari bawah kaki sampai kepala? Mungkin akan menyenangkan bila wartawan di kolom berita kematian melakukan penelitian dan mempublikasikannya. Setidaknya, mereka memiliki bahan lain untuk ditulis. Bukan mengeksploitasi kecantikan korban pelecehan seksual saja.

Setelah batang rokokku habis, kuseret jasad pria yang hanya kuketahui namanya ke mulut tebing. Kubuka bagasi belakang mobil dan kutemukan selang yang selama ini disimpan tetanggaku. Kugunakan sebagian bensin mobil untuk melumuri tubuh pria yang hanya kuketahui namanya itu dan membakarnya dengan sebuah jentikan lighter. Angin kelak akan menerbangkan abunya di udara.

Begitu pula caraku memberi pelajaran pada temannya yang konon memiliki performa prima di atas ranjang. Korban yang merupakan sahabatku di universitas lain bercerita bahwa pelaku pelecehan seksual tempo hari sebetulnya dua orang. Pria yang hanya kuketahui namanya ini merupakan pelaku yang lolos sorotan media. Sebentar lagi jasadnya juga lolos deteksi.

Orang-orang percaya bahwa para pendosa di kota ini lenyap dilahap hantu yang gentayangan di tengah kabut. Jasadnya larut.

Supaya segalanya menjadi lebih mudah, kamu juga pura-pura percaya saja.

Abi Ardianda bekerja dan tinggal di Bandung. Buku pertamanya kumpulan cerpen berjudul Sirkus (Bookslife, 2018). Aktif bergabung dalam organisasi sosial non pemerintah dan menggagas sebuah kelompok bernama Panggung Minoritas

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com



(mmu/mmu)

FOKUS BERITA: Cerpen detikHOT
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed