detikHot

Cerita Pendek

Pisau Lipat

Sabtu, 02 Mar 2019 11:32 WIB Pangerang P. Muda - detikHot
Ilustrasi: Kiagoos Auliansyah/detikcom Ilustrasi: Kiagoos Auliansyah/detikcom
Jakarta - Tertimpa cahaya lampu, benda itu mengilat, memantulkan pukau ke wajahmu. Kulihat kamu menatapnya, mengusap, dan terkesiap ketika hendak menciumnya aku menyergah, "Hadiah ultah?"

Begitu takjub kamu menatap benda itu, sampai terlambat menyadari kedatanganku. Kotak kadonya kulihat masih ada di atas meja. Tulisan di dasar kotak kado langsung menyirep mataku. Itu nama perempuan, dan tentu nama pengirimnya. Kecuali kamu ingin berdalih bahwa nama Riyani Indarti sudah dipakai oleh lelaki.

Tidak kutanyakan siapa dia, karena elak yang akan kamu beberkan sudah kutebak: 'teman kantor', atau 'relasi kantor', atau 'rekanan kantor', atau...ah, sudahlah; amarah yang mulai menyemai di dadaku, biarlah kuperam dulu.

Terkesan buru-buru, benda itu kamu letakkan kembali ke dalam kotak kado. Upaya sia-sia, yang pasti kamu maksudkan untuk menutup nama itu agar tidak terbaca. Ujarmu kemudian, "Iya, hadiah ultah. Dari teman."

Dalam hati kusimpan tawa getirku. Dugaanku terbukti. Belum kutanya 'dari siapa?' malah kamu jawab sendiri, dengan jawaban yang telah kutebak sebelumnya. Harusnya kamu paham, aku tidak sedungu yang kamu kira. Cuma, kuakui, aku memang amat sabar, lebih sabar dari yang kamu duga.

Sebenarnya ulang tahunmu kemarin. Tidak ada perayaan istimewa. Dua ponakan kita, yang selama ini telah kita anggap anak-anak kita --setelah kita tidak juga bisa memiliki dari darah-daging kita sendiri-- datang membawa kue tar. Kita merayakannya berempat. Tiga bibir perempuan yang mengecup pipimu, disambung ucapan dan doa 'semoga panjang umur'; alangkah tamaknya kamu, kalau cinta dari kami itu bagimu belum juga cukup, lalu ingin menambahi lagi dari luar rumah ini.

Agaknya dia seorang teman baik, atau malah amat karib, sampai memberimu hadiah seperti itu. Sebuah pisau lipat! Bagiku itu hadiah yang unik, atau malah aneh. Namun aku enggan menanyakan, karena aku tidak suka bila jawabanmu nanti kembali memposisikan diriku sebagai orang dungu.

***

Sejak keluar dari kotak kadonya, tiap hari pisau itu kamu kantongi. Saat terlipat, ukuran pisau itu memang memendek dua kali sehingga saku celanamu cukup untuk memuatnya. Sejak itu pula kuperhatikan ponselmu mengalah lalu pindah ke saku kemejamu. Perlakuan yang amat istimewa pada benda itu, dan mengingat nama pengirimnya, terus menyemai bibit amarah dalam hatiku.

Namun, suatu malam, amarahku kusimpan. Kamu pulang dengan baju koyak dan kotor. Jahitan di bagian pundaknya terbelah. Kamu mengaku baru saja dihadang begal di tempat parkir sebuah kafe. Pundakmu sampai lebam-lebam akibat hantaman bandit-bandit itu. Kubaluri dengan minyak gosok seraya mendengar kisahmu, "Untung ada pisau lipat yang selalu kubawa. Pisau itu menyelamatkanku. Kedua begal itu lari setelah lengan salah seorang tersabet tajamnya pisau lipat itu."

Tidak kutanyakan lagi dengan siapa kamu di kafe itu, sampai pulang larut malam. Atau apa saja yang telah kamu lakukan dengan orang yang menemanimu melarutkan malam. Rasa iba atas kejadian yang menimpamu, segera menguapkan dugaan-dugaanku yang sebelumnya berlesatan ingin keluar.

Sejak kejadian itu, kuperhatikan kamu makin sayang dengan hadiah ultahmu. Sepertinya tidak ingin pisah lagi darinya. Dan kucoba memaklumi.

***

Kelalaianmu membiarkan ponselmu tergeletak di atas meja makan, sebelum masuk ke kamar mandi, akhirnya memperjelas posisi perempuan pemberi pisau lipat itu. Saat layar ponsel itu berkeredep, tak kuat kucegah tanganku untuk tidak meraih dan membukanya. Kusesali kemudian kelakuanku. Nama perempuan itu kembali menancapkan perih, mengiringi pesan WA-nya, yang sontak membuat jantungku berdetak kacau. Sayang, aku menunggu di tempat biasa, sepulang kantor nanti.

Akhirnya ponselmu terus kurondai. Soalnya tidak setiap saat kamu lalai menggeletakkan begitu saja. Aku pun memasang taktik: dengan tidak pernah menanyakan, kukesankan aku tidak pernah membaca pesan-pesan WA dari perempuan itu, agar kamu tidak terlalu protektif pada ponselmu.

Ada satu satu pesan lama yang kutemukan saat kubuka notif-notif sebelumnya; pesan yang membuat tatapku membeliak. Nasihat orang pintar yang kudatangi, bila ingin anak laki-laki, kamu mesti selalu menyimpan sebuah pisau di saku celanamu. Makanya kupilih sebuah pisau lipat sebagai hadiah ultahmu, agar lebih aman kamu kantongi.

Mataku belum pulih dari jegil, di urutan pesan agak ke bawah, kutemukan pesan serupa. Sayang, jangan pernah lupa mengantongi pisau lipatmu ya, karena di situ ada cinta kita, ada pula ikhtiarmu untuk segera punya anak laki-laki.

Jadi alasan seperti itu yang membuatnya memberimu hadiah pisau lipat. Yang membuat perasaanku kian dihimpit sesak, karena keinginanmu memiliki anak ternyata tidak lagi menjadi pembahasan di rumah kita. Agaknya kamu sudah jemu membicarakan, karena jelang sepuluh tahun rahimku tidak juga bisa menyimpan jabang bayi seperti keinginanmu, lalu memilih mengungkapkan pada perempuan itu.

***

Kuputuskan pisau lipat itu harus dipisahkan darimu. Pisau itu telah menjadi perekat antara kamu dengan perempuan itu. Serpih cinta kalian yang melekat di situ mesti dilesapkan. Aku tidak ingin ingatanmu terus ke dia, setiap tanganmu menyentuh pisau pemberiannya.

Saat kamu sedang pulas melepas penat sepulang dari kantor, pisau lipat itu kuambil dari saku celanamu. Soal nasihat 'orang pintar', seperti yang tertera di pesan WA-nya, kuduga hanya bualnya saja, agar kamu terus bersama hadiah spesialnya.

Hari-hari setelahnya, kamu terus uring-uringan mencari, dan aku memilih geming. Setiap bertanya aku memilih menggeleng tak pernah melihat. Sempat terbersit soal ancaman begal, tapi segera kutepis: kamu pasti punya cara lain mengelak dari begal, dan tidak mungkin pula begal tiap hari mengincarmu.

Jadi terbukti betapa sayangnya kamu pada benda itu. Kamu seakan sedang mencari cintamu yang hilang. Saat kamu mulai jemu mencari pisau lipatmu, kupertimbangkan membuangnya saja. Aku berharap kamu bisa pula membuang ingatan pada pengirimnya, membuang kenangan tentangnya, sekalian melenyapkan serpih cinta kalian yang melekat pada pisau itu. Namun kemudian kupikir itu tindakan sia-sia. Kamu toh bisa menemuinya kapan saja kamu mau, apalagi pada jam-jam kerja.

Akhirnya kusembunyikan saja pisau lipat itu.

***

Jam kerja di kantormu seakan terus pula bertambah. Kepulanganmu ke rumah kian larut malam. Dalih 'lembur', atau 'banyak kerjaan', atau 'meeting-nya kelamaan' terlontar dari mulutmu serupa dikeluarkan oleh mesin penjawab. Perasaanku lelah, lalu memilih tidak bertanya lagi. Aku muak dan sebal dengan jawaban-jawaban standar serupa itu, yang malah memosisikan diriku makin terlihat dungu bila terus bertanya dan terus pula diberi jawaban begitu.

Malam ini sebenarnya tidak kutunggu lagi kepulanganmu. Tidak ingin lagi kusiksa diriku, ditekuk kantuk dengan hati pedih menunggu gerung mobilmu memasuki garasi. Makanya aku hanya geming melihatmu melangkah lesu masuk ke kamar. Tak mau lagi kudengar oceh apa yang kamu gumamkan sebagai dalih. Aku tak peduli lagi. Kusimpan saja sakit hatiku dengan rapi, sampai kamu naik ke tempat tidur dan mendengkur kelelahan.

Dalam buai lelap tidurmu, getar dan nyala ponsel di saku celanamu yang tergantung di balik pintu tidak lagi bisa menjangkau indramu. Itu kemudian kumaknai ada tangan gaib sedang menuntunku mengambilnya, agar bisa membaca pesan WA yang memperjelas semuanya. Keinginanmu punya anak segera terkabul, Sayang. Aku positif. Semoga benar janin ini laki-laki, seperti keinginanmu, agar pisau lipat kita tidak sia-sia kamu terus kantongi.

Pesan itu serupa martil, memalu keras kepalaku. Anehnya, amarah dan rasa sakit yang selama ini kuperam malah menguap entah ke mana. Aku tergugu, merasa tak berdaya. Akhirnya kuambil sebuah keputusan; yang sebelumnya, kepalaku serasa akan meledak memikirkannya. Namun kuyakin ini akan membebaskanku dari semua perih yang kurasai, juga akan membuatmu terbebas dari dusta dan reka dalih yang terus menempatkan diriku serupa orang dungu.

Kuambil pisau lipatmu yang selama ini kusembunyikan. Mata pisau itu mengilat tertimpa cahaya lampu. Kutatap lekat dengan dada berdebar keras. Kepalaku serasa benar-benar sudah meledak, tak kuat lagi menanggung tegang menimbang yang mana lebih dulu akan disentuhnya: detak nadi di tanganku, atau kedut urat lehermu.

Pangerang P. Muda guru SMK dan berdomisili di Parepare; buku kumpulan cerpennya yang telah terbit Menghimpun Butir Waktu (2017), Svetsna (2018), dan dalam proses terbit Tanah Orang-Orang Hilang

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com


(mmu/mmu)

FOKUS BERITA: Cerpen detikHOT
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikhot.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com