DetikHot

art

Dua Pohon Jambu

Sabtu, 27 Okt 2018 10:57 WIB  ·   Hamdani MW - detikHOT
Dua Pohon Jambu Ilustrasi: Anggi Dimas Ramadhan
Jakarta - Ini sudah kesekian kalinya aku meminta izin ayah untuk menebang dua pohon jambu air di halaman rumah. Sejak ayah terkilir karena jatuh kemarin, perasaanku semakin gemas saja. Kupikir, dua pohon jambu itulah gara-garanya. Sungguh, pohon tua itu benar-benar sudah sangat merepotkan.

Selama hampir lima hari penuh, aku harus rajin meminumkan obat dari dokter dan membuat parutan jahe, yang dicampur dengan air hangat lalu di-bobok-kan di pinggang ayah.

Kukatakan ini semua akibat dari pohon jambu itu. Ceritanya, pekan lalu, sekitar pukul lima sore, ayah tengah asyik-asyiknya menyapu daun-daun jambu di halaman dengan sapu lidi bertangkai panjang. Setiap hari, menyapu memang menjadi pekerjaan rutin ayah. Kebetulan kakinya yang selalu bertelanjang, menginjak entah kerikil tajam atau apa, lalu kegriul, dan jatuh terduduk.

Sebenarnya tidak keras jatuhnya, namun tulang-tulang tua yang rapuh itu rupanya tak lagi dapat diajak kompromi. Untung saja saat itu hari Sabtu, sehingga aku ada di rumah, tidak sedang memberikan les privat dari rumah ke rumah.

"Sudah Putri bilang, gara-gara pohon jambu itu lagi, sekarang ayah terjatuh," kataku sembari memapah ayah bangun.

Ayah hanya meringis kesakitan.

"Putri juga bilang apa to, Yah? Pohon jambu ini ditebang saja, selalu bikin kotor halaman. Lihat sendiri kan? Gara-gara menyapu halaman, ayah jadi terjatuh," aku menggerutu sembari tertatih-tatih memapah ayah berjalan masuk rumah.

Setelah kubaringkan ayah di kasur, aku duduk di pembaringan, untuk memastikan kondisi ayah tidak terlalu buruk. Lama kutatap wajah ayah yang terpejam. Ayah sebenarnya berwajah lembut dan murah senyum, namun tak dapat ditipu, sorot matanya menunjukkan sebuah keteguhan pada satu hal yang sudah menjadi keyakinannya. Termasuk soal dua pohon jambu di halaman itu.

"Ayah masih ingat kan? Ini sudah keberapa pohon jambu itu membuat ayah hampir celaka?" kataku dengan tatapan menyelidik, mungkin persis seperti seorang ibu memarahi anaknya.

Dan, dengan tatapan sayu ayah menjawab, "Bukan salah pohon jambu, ini karena pecahan genteng yang tidak pada tempatnya, membuat kaki ayah terkilir," lagi-lagi ayah membela diri, dan tentu membela dua pohon jambu kesayangannya itu.

Tak hanya aku yang kerap memarahinya. Mas Joko, kakakku nomor dua yang tinggal di Surabaya, dan Mas Abed kakak sulungku yang tinggal di Semarang sudah berkali-kali meminta ayah agar merelakan pohon jambu itu ditebang. Alasannya agar ayah tidak repot-repot menyapu halaman setiap hari.

Mas Abed pernah bilang, itu masalahnya sepele. Lalu, ia mengupah Pak Min, tukang sampah tetangga kampung untuk menyapu halaman rumah setiap hari. Apa yang terjadi kemudian, baru tiga hari berjalan, ayah meminta Pak Min berhenti dengan memberinya upah sebulan penuh. Lalu, ayah kembali pada rutinitas hariannya, menyapu daun-daun jambu yang berguguran.

Saat kutanya alasannya, sungguh aku tak dapat mengerti kata-kata ayah. "Dua pohon jambu ini adalah teman ayah semenjak kecil sampai sekarang," katanya.
Aku hanya bisa geleng-geleng kepala.

Sebenarnya keinginanku dan kedua kakakku sederhana. Kami hanya ingin di hari tuanya yang tinggal sendirian itu, ayah tidak terlalu banyak kerja fisik yang membahayakan. Kami hanya ingin ayah menikmati hari tua dengan senang, duduk dan diladeni olehku, anak bungsunya ini. Namun, segala daya upaya untuk merayu ayah rupanya tidak mempan.

Tetap saja, setiap hari selalu terdengar srak...srek...ayah menyapu daun-daun jambu yang berguguran dan berserakan di halaman. Daun-daun itu disapunya ke arah pojok halaman, lalu dimasukkan ke lobang yang dibuat tukang beberapa waktu lalu. Berkat ketekunan ayah, memang halaman rumah itu tetap terjaga keasriannya, terasa rindang, dan sejuk.

Pohon jambu air itu juga selalu berbuah tepat waktu. Buahnya besar-besar dan sangat manis. Jika musim semi, buah-buah jambu berjatuhan berserakan di halaman. Anak-anak tetangga terkadang datang dan minta pada ayah untuk mengambili jambu-jambu yang berjatuhan. Anak-anak itu pun girang bukan main, lalu saling berebut memilih jambu-jambu yang masih utuh. Sore harinya, biasanya ayah menyapu sampah-sampah daun jambu itu hingga bersih kembali.

***

Ponsel di atas meja ruang tengah berdering ketika aku baru selesai meladeni keperluan ayah di kamar. Dari Mas Abed. Sudah pasti akan menanyakan kabar ayah. Benar saja apa dugaanku.

"Ya, bapak baik-baik saja kok, Mas," kataku.

"Yakin tak ada sesuatu yang membahayakan, Put?" tanyanya dari seberang.

"Sudah mendingan keadaannya," sahutku.

"Sudah kubilang dari dulu, dua pohon jambu itu ditebang saja kenapa, bikin petaka..."

"Aku juga sudah capek bilangi Ayah, Mas. Coba Mas bilang sendiri," sahutku putus asa.

Lalu, kuangsurkan ponselku pada ayah. Ayah tersenyum mendengar siapa yang menelepon. Sudah lama anak sulungnya itu tidak pulang, dan ayah begitu kangen. Wajah ayah tampak berbinar-binar. Namun, sejurus kemudian wajah itu terlihat mendung. Rupanya perbincangan ayah dengan Mas Abed sudah menyinggung soal pohon jambu lagi.

Dalam soal pohon jambu itu, keyakinan ayah tampaknya tidak tergoyahkan. Padahal, baik aku, Mas Abed, maupun Mas Joko tak kurang-kurang membujuknya untuk menebangnya saja, lalu diganti dengan tanaman bunga, untuk tetap menjaga keasrian halaman. Yang penting tidak menguras tenaga untuk mengurusnya.

Namun, ayah tetap menolak. Dua pohon jambu itu katanya memberikan keteduhan alami bagi rumah dan penghuninya. Pohon jambu itu terletak di tepi pagar, satu di pojok timur dan satunya lagi di pojok barat. Diameter batangnya cukup lebar. Mungkin tak cukup dirangkul oleh satu orang.

Suasana permukiman Kota Solo, tempat kami tinggal, memang cukup panas jika tidak hujan. Namun, begitu memasuki gang dekat rumah kami, rasa panas itu akan sirna. Apalagi jika memasuki halaman tanah berpasir lembut, dan duduk di atas kursi batu di bawah pohon jambu tua itu, suasana dingin dan teduh sungguh sangat terasa.

Dulu, ketika kami masih anak-anak hingga remaja, kamilah yang selalu menyantap buah-buah jambu yang ranum dan manis itu. Tapi, sekarang kami sudah besar, malah mungkin mendekati tua, serta punya keluarga sendiri-sendiri di lain kota.

Sementara, pohon jambu itu terus dan terus berbuah meski tak selebat dulu lagi. Buah-buah jambu yang tidak dipetik itu tangkainya layu, dan dengan sendirinya berguguran. Di tanah berpasir lembut itu pun akhirnya berserakan buah-buah jambu. Sebagian lagi membusuk di tanah, membuat pelataran tidak sedap dipandang.

"Mbok ditebang saja pohon jambu itu, Yah. Buah dan daun-daunnya malah mengotori halaman," saran Mas Abed suatu ketika.

Biasanya Ayah memang paling menurut dengan kata-kata Mas Abed. Namun, rupanya kali ini tidak. Seperti mimpi, ia lalu mengisahkan bahwa pohon jambu itu adalah teman hidup ayah semasa kecilnya. Dua pohon jambu itu ditanam dengan tangan ayah sendiri, ketika ia masih berusia enam tahun.

"Kelak, tanaman ini sangat berguna bagi kehidupan kita, Nak," itu kata-kata kakek yang diucapkan pada ayah ketika itu.

***

Makin hari aku semakin disibukkan dengan pekerjaan. Aku harus memberikan les privat dari rumah ke rumah. Untuk membantu keuangan Mas Bono, suamiku yang menjadi pegawai kelurahan, terpaksa aku harus mencari tambahan penghasilan dengan memberikan les Matematika pada anak-anak sekolah.

Jadi, aku hampir tak punya waktu lagi untuk mengurus halaman rumah yang sedemikian luas. Paling tidak, aku hanya sebatas mengurus keperluan keseharian, bersih-bersih di lingkungan dalam rumah. Pernah suatu ketika ayah memintaku menjual saja jambu-jambu air itu ke pasar untuk menambah penghasilan.

"Ini adalah rezeki bagi keluargamu juga, Nduk," ujar ayah suatu ketika.

Aku terdiam mendengar saran ayah. Menjual jambu ke pasar sama sekali tidak terpikirkan dalam benakku, dan itu hampir tak mungkin kulakukan. Waktuku sudah habis untuk mengajar dan memberikan les keliling. Kukatakan alasan itu pada Ayah, yang kemudian menerimanya dengan kekecewaan.

Lantaran tak ingin melukai perasaan ayah, diam-diam aku menemui Mbok Rebi tetanggaku. Dia seorang janda yang memiliki dua orang anak yang sudah sekolah di SMA. Pekerjaannya menjual bubur keliling kampung setiap pagi. Pikirku, mungkin Mbok Rebi lebih membutuhkan tambahan rezeki. Lalu, kukatakan padanya agar dia meminta izin ayahku untuk menjualkan jambu-jambu air itu ke pasar. Ternyata Mbok Rebi sangat berterima kasih padaku, dan esoknya ia menemui ayah di pembaringan.

"Kalau memang itu sangat berguna bagimu, ambil saja seluruh hasil penjualan jambu itu untuk keluargamu," ujar ayahnya dengan senyum tersungging di bibirnya.

Sejak itu, Mbok Rebilah yang mamanen jambu-jambu air itu untuk dijual di pasar. Aku menolak tatkala dia memberikan sebagian keuntungannya kepadaku. Mungkin sebagai gantinya, Mbok Rebi rajin menyapu halaman rumahku dari daun-daun jambu yang rontok. Kini, sejak ayah hanya berbaring di pembaringan karena sakitnya, Mbok Rebilah yang menjadi penggantinya menyapu halaman setiap hari.

Suatu ketika saat Mbok Rebi kuberi sedikit uang lelah telah menyapu halaman, ia menolak dengan halus. "Rezeki penghidupan dari jambu ini sudah cukup besar dibanding sekadar tenaga saya untuk nyapu halaman ini, Mbak Putri," ujarnya lugu, yang membuatku terharu.

Aku baru sadar, ternyata pohon jambu ini tak hanya memberikan keteduhan di halaman rumah ini saja. Namun, juga membawa rezeki bagi orang lain. Baru kusadari betapa dalam makna kata-kata yang diucapkan ayah beberapa waktu lalu.

Sampai pada suatu malam, aku dipanggil ayah ke kamarnya. Dengan isyarat dari matanya, ia memintaku mendekat, lalu ia membisikkan sesuatu ke telingaku. Entah, rahasia apa yang ingin diungkapkan padaku.

Dan, inilah yang perlu kuceritakan kepadamu. Ayah memintaku untuk menanam pohon jambu biji di halaman pojok sebelah utara, yang tanahnya lebih gembur dibanding sisi-sisi yang lain. Ia katakan, dua pohon jambu itu sudah terlalu tua seperti dirinya.

Esok harinya, setelah aku mendapatkan bibit pohon jambu air yang jenisnya persis seperti dua pohon jambu terdahulu, aku menanam bibit pohon jambu itu. Letaknya juga persis seperti yang diucapkan ayah. Mbok Rebi dan Manto, anaknya, bahu-membahu membantuku menggali lubang. Setelah bibit itu tertancap dan aku guyur dengan air, kami bertiga bernapas lega.

Aku sadar, sebuah pohon ternyata juga punya keterbatasan sebagaimana usia manusia. Suatu ketika entah kapan, pohon jambu tua itu pun akan tua, lapuk dan mati, dan akan digantikan pohon jambu air yang baru kutanam itu. Hmm... sebuah kehidupan baru bakal dimulai.

Kami bertiga pun segera ke kamar untuk menemui ayah. Ingin kukabarkan bahwa pesan ayah telah kami penuhi. Kulihat ayah terbaring di kasur dengan wajah tersenyum. Hati-hati kusentuh tangan ayah sembari kubisikkan namanya, namun tidak bergeming. Panggilan itu kuulangi, namun tetap saja diam.

Tiba-tiba aku merasa curiga ada yang tidak beres dengan ayah. Coba aku raba dadanya, tak ada gerakan. Aku guncang-guncang tubuh ayah sembari kuteriakkan namanya berkali-kali. Namun, tetap saja ayah tidak terbangun. Tidak terbangun.

Hamdani MW adalah nama pena dari Suhamdani, tinggal di Turisari, Solo

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com

(mmu/mmu)

FOKUS BERITA:Cerpen detikHOT
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed