DetikHot

Cerita Pendek

Drama Korea dan Bagaimana Kau Harus Mati

Sabtu, 06 Okt 2018 10:20 WIB  ·   Aminah Wahyudin - detikHOT
Drama Korea dan Bagaimana Kau Harus Mati Ilustrasi: Anggi Dimas Ramadhan
Jakarta - "Beri tahu aku satu cara untuk mati, yang menyenangkan dan tidak menyakitkan."

Kepalamu sudah pusing. Matamu berkedip berat, nyaris terkatup rapat. Tapi, kau belum juga puas meski telah menonton tiga episode drama korea itu berturut-turut.

Bukankah drama itu sudah tamat sejak dua minggu lalu? Kau tertinggal jauh.

"Lebih asyik menonton maraton seperti ini."

Kau berguling ke sisi kiri ranjang, menyandarkan ponsel pintar berukuran 5 inci itu ke tembok lalu melemaskan jari-jari tangan yang kebas karena menahan ponsel itu terlalu lama. Kau memang suka menghabiskan akhir pekan menonton drama Korea semalam suntuk lalu bangun kesiangan dengan perasaan puas keesokan harinya. Karena kau bukan seorang penyabar, menunggu setiap episode tayang sambung menyambung seminggu sekali membuatmu frustrasi.

"Kau tahu, kenapa Jonghyun lebih memilih menghirup karbon monoksida dari briket yang terbakar? Konon katanya itu cara yang bagus untuk mati sementara ini. Tulangmu tak akan remuk seperti jika kau melompat dari gedung tingkat tinggi. Batok kepalamu tak akan hancur dan otakmu tak akan terburai seperti jika kau menembakkan peluru ke pelipismu. Dan, itu tak akan terlalu sakit, kukira. Mungkin kau akan merasa pusing dan sesak untuk sesaat sebelum hilang kesadaran lalu mati dalam tidur yang damai."

Aku menyuruhmu tidur, tapi kau terus mengelak. Drama berjudul Familiar Wife yang kau tonton sedang seru-serunya. Perempuan berkaus belel itu ngamuk karena suaminya pulang terlambat. Rambut keritingnya diikat sembarangan, menambah kesan garang di wajahnya yang memerah marah. Ia melempar sepotong capit kepiting yang hendak dimasak ke arah suaminya. Dengan efek slow motion yang dramatis capit itu terbang, ujungnya yang runcing sempat menggores pipi si suami sebelum berhasil menghindar.

Lemparannya pasti kencang sekali, lihat bagaimana capit kepiting itu menancap cukup dalam di papan rolet yang tergantung di dinding ruang keluarga mereka.

"Bagaimana kalau minggu depan kita jalan-jalan?" kau tiba-tiba mengubah topik pembicaraan. "Banyak spot air terjun di beberapa desa terpencil yang ditemukan baru-baru ini. Agak jauh memang. Tapi, aku jamin kelelahan setelah perjalanan yang kita tempuh akan terbayar lunas setelah tiba di sana. Sungainya jernih bergradasi biru kehijauan, pemandangannya bagus dan belum banyak dikunjungi wisatawan. Lokasi yang pas untuk mati tenggelam di tengah-tengah alam yang indah. Aku jelas tidak bisa berenang. Orang-orang tak akan tahu kalau aku sengaja bunuh diri di sana. Ah, sekarang sudah masuk musim penghujan. Jika beruntung kita bisa ke sana saat air caah*. Sempurna bukan?"

Aku menatap mata sembabmu yang mendadak berbinar secerah pantulan sinar matahari di air terjun yang baru saja kau ceritakan.

Kau sungguh tak tahu bagaimana sakitnya ketika air memenuhi rongga paru-parumu.

"Oh ya? Sesakit apa?"

Aku berdecak. Kau jelas lupa bagaimana rasanya terbatuk-batuk karena menghirup air saat belajar berenang dulu. Itu sebabnya kau berhenti belajar dan tak pernah bisa berenang hingga sekarang.

Kau tertawa. "Ah, benar juga. Aku hampir muntah karena air kolam berkaporit itu tertelan cukup banyak. Lagipula instrukturnya galak. Pernah satu kali dia hampir mendorongku ke kolam tanpa pelampung."

Suami istri itu bertengkar hebat. Si suami yang lelah sepulang kerja marah bukan main saat menemukan istrinya sedang merendam konsol gim yang ia beli diam-diam. Kelopak matamu lagi-lagi terasa berat saat menyaksikan adegan mereka saling menyalahkan satu sama lain. Mata pucat si istri memerah berkaca-kaca. Si suami keluar rumah dengan sandal terbalik lalu menangis di pintu masuk gedung apartemen mereka.

Dan, air matamu tak terbendung lagi.

Apa kau tak lelah selalu menangis setiap menonton melodrama murahan seperti itu?

"Ini komedi romantis, bukan melodrama."

Aku menelengkan kepala. Terserahlah.

"Kau belum memberiku jawaban. Bagaimana aku harus mati? Jangan menyuruhku untuk gantung diri, terlalu menyakitkan. Kau akan terkencing-kencing karena kandung kemihmu meledak dan tahimu akan menyembur keluar dari lubang dubur. Itu memalukan."

Setelah menyeka ingus dengan tisu kau melanjutkan. "Akhir-akhir ini ada cukup banyak surel berita duka cita. Seorang buruh di pabrikku meninggal mendadak ketika sedang tidur. Lalu, anak seorang pegawai cleaning service meninggal karena meningitis. Aku iri sekali pada mereka. Kau ingat, minggu lalu seorang artis meninggal karena penyakit mag. Aku juga punya penyakit mag, kenapa aku tak mati-mati? Aku banyak makan pedas dan mie instan, kenapa lambungku tak kunjung rusak dan aku tak mati-mati?"

Kenapa kau sangat ingin mati?

Kau memalingkan wajah, kembali fokus pada layar ponsel yang kini tergenggam erat di tanganmu dan menggantung kurang dari sejengkal dari wajahmu. Kasihan sekali matamu itu, dipaksa memelototi layar sekecil itu. Tapi kau tak peduli. Malam kian larut. Suara burung hantu terdengar dari kejauhan, bersahutan dengan suara pentungan yang kian lama terdengar kian dekat. Langkah-langkah berat sepatu bot melintas di depan rumah. Itu pasti satpam yang bertugas ronda malam ini.

Kau menghela napas berat. Suara-suara itu selalu mengingatkanmu kepadanya saat sendirian di rumah malam-malam seperti saat ini. Tapi, tak akan ada yang mengetuk pintu besok pagi. Kau tahu itu.

"Kadang saat berangkat atau pulang kerja, aku diam-diam berharap bus karyawan yang kutumpangi mengalami kecelakaan. Kau tahu kan sasak beusi** yang melintang di atas Sungai Cikao itu? Aku membayangkan bus kami menabrak pagar pembatas lalu setengah bagiannya tergantung di bibir jembatan. Tapi, biar aku sendiri saja yang mati, karyawan yang lain jangan. Mereka semua harus berhasil diselamatkan sebelum bus itu tidak lagi tertahan lalu jatuh ke dasar sungai dengan aku yang masih terjebak di dalamnya."

Kupikir kau tak mau tubuhmu rusak. Dan, cara mati seperti itu pasti sangat menyakitkan.

Kau tercenung lalu menepuk jidat pelan.

"Bodoh! Harusnya kau tahu, manusia tak ada yang sempurna," omelmu pada layar ponsel.

Tokoh utama laki-laki berjingkrak kegirangan lantaran istrinya tiba-tiba berganti dalam semalam. Saat bangun di pagi hari yang cerah, perempuan galak berwajah kucel itu menghilang, digantikan seorang perempuan cantik yang bahkan tetap cantik saat tertidur pulas. Bibirnya ranum tak meneteskan air liur sedikit pun. Seolah pepatah 'kecantikan alami seorang perempuan terpancar sempurna saat bangun tidur' hanya berlaku untuknya.

Andai hidup ini seajaib drama.

Kau menguap lebar. Bening menggumpal di antara kelopak matamu yang membengkak.

"Haruskah aku mengambil pisau dapur saja? Jika urat nadimu diputus sekarang, besok pagi mungkin kau tak akan bangun lagi. Mungkin akan sedikit lebih sakit daripada luka iris. Kau hanya perlu tertidur sambil menunggu darah di tubuhmu terkuras habis." Kau tampak berpikir sejenak lalu melanjutkan. "Tapi, nanti kasur ini akan penuh noda darah. Sayang sekali kalau tidak bisa digunakan lagi."

Aku diam, bingung harus menjawab apa lagi. Familiar Wife masih berputar tapi fokusmu perlahan kabur.

Kau masih bergeming bahkan setelah sekian menit aku menunggumu beranjak ke dapur dan mengambil pisau seperti yang baru saja kau rencanakan.

Kenapa? Kau takut?

"Tolong ambilkan pisaunya. Aku malas bangun."

Menyerah karena aku diam saja, kau melirik sebuah tabung kecil di atas nakas.

"Kita tidak punya briket. Mungkin akan lebih simpel menghirup obat nyamuk semprot saja."

Matamu terpaku pada tabung itu lama, lalu berkedip dan kembali menatap layar ponsel. Kau melirik tabung itu lagi, lalu beralih ke layar ponsel lagi. Begitu terus entah berapa kali.

Kau dengar itu? Di kamar sebelah Ibu mendengkur cukup keras. Tidurnya lelap sekali, mungkin amat lelah setelah memijit nyaris sepuluh orang siang tadi. Jika kau mati, dia pasti ingin mati juga saking sedihnya. Arwahmu tak akan tega melihatnya pingsan berkali-kali setelah tak henti menangisi kematianmu yang konyol itu.

Mari tidur dan berdoa semoga sel-sel otak kita rusak dalam semalam dan besok kita terbangun dalam keadaan demensia seperti ibu si tokoh utama perempuan dalam drama yang sedang kau tonton itu.

Manusia kebanyakan tak sadar, lupa adalah nikmat Tuhan juga.

Keterangan:
* caah: air bah yang tiba-tiba muncul karena hujan deras di hulu sungai (Bahasa Sunda)
** sasak beusi: jembatan besi

Aminah Wahyudin lahir dan menetap di Purwakarta

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com


(mmu/mmu)

FOKUS BERITA:Cerpen detikHOT
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed