DetikHot

Cerita Pendek

Ziarah Korban Perang

Sabtu, 29 Sep 2018 10:30 WIB  ·   Badrul Munir Chair - detikHOT
Ziarah Korban Perang Ilustrasi: Denny Pratama
Jakarta - Mereka membicarakan perjalanan itu sejak berbulan-bulan lalu. Wilma akan ziarah ke kubur kakeknya, sementara Daniel bisa pulang sebentar ke tanah leluhur kakeknya di Maluku. Mereka akan berpisah di Jakarta menuju tempat tujuan masing-masing, dan akan kembali berjumpa di kota yang sama tiga hari kemudian untuk melakukan perjalanan berdua ke berbagai tempat wisata sejarah di sekitar Jawa. Tiket perjalanan sudah dipesan jauh-jauh hari. Maka, ketika beberapa hari sebelum jadwal keberangkatan tiba dan Daniel bersikap seakan-akan tidak antusias mempersiapkan perjalanan mereka, Wilma jadi sebal.

"Tanah leluhurmu, Sayang, bahkan seumur hidupmu kau belum pernah menginjakkan kaki ke sana," Wilma kemudian mengingatkan kembali tentang buku-buku yang telah mereka baca, tentang Maluku, kapal-kapal perang Belanda yang tenggelam di Laut Jawa, juga brosur-brosur paket wisata ke berbagai tempat bersejarah peninggalan Belanda di Indonesia.

Daniel bergeming, larut dalam pikirannya sendiri, sebelum kemudian mengatakan secara jujur bahwa perjalanan mereka ke Indonesia sepertinya tidak terlalu penting untuk dilakukan.

"Bahkan walaupun kakekku orang asli Maluku, tidak jelas apakah keluarga kakek masih tinggal di sana dan masih hidup. Sejarah masa lalu kakek ikut terkubur setelah kematiannya. Tidak ada seorang pun yang kukenal di sana."

"Setidaknya kau datang ke sana, menghirup udaranya, dan meminum airnya. Ingatlah, separuh darah yang mengalir di tubuhmu adalah darah Maluku."

"Bukan separuh, sebenarnya, mungkin tak sampai sepertiga. Kau tahu, kakekku menikah dengan perempuan Belanda, dan ayahku yang memiliki aliran darah separuh Maluku separuh Belanda menikah dengan perempuan Belgia, ibuku. Dalam tubuhku mengalir darah dari banyak negara."

"Tidak masalah. Jika kau memang enggan datang ke Maluku, setidaknya kau bisa menemaniku ziarah ke makam kakekku," Wilma berusaha membujuk Daniel, berharap perjalanan yang sudah mereka rencanakan sejak jauh-jauh hari tidak gagal hanya karena sifat moody Daniel kambuh.

***

Mereka seakan-akan dipertautkan oleh garis nasib bahwa kakek mereka pernah tinggal di Indonesia, yang berjarak hampir separuh dunia dari Belanda.

Kakek Wilma, Maarten van Bauer, adalah salah satu awak kapal HNLMS De Ruyter yang dikirim ke Hindia Belanda menjelang Perang Dunia II, meninggalkan istrinya yang sedang mengandung, demi tugas dan panggilan jiwa. Maarten gugur di Laut Jawa pada 28 Februari 1942, ikut tenggelam bersama De Ruyter yang meledak oleh hantaman torpedo kapal Jepang.

Belasan tahun lalu, bangkai kapal De Ruyter ditemukan di dasar Laut Jawa, dan sejak itu kawasan tersebut dinyatakan sebagai kuburan perang. Beberapa tahun terakhir, setiap tanggal 28 Februari, pemerintah Indonesia memfasilitasi para keluarga korban perang yang ingin berziarah ke lokasi tempat kapal perang itu tenggelam. Kuburan perang itu ditetapkan sebagai Taman Makam Pahlawan di tengah laut. Untuk alasan itulah Wilma ingin datang ke Indonesia, ziarah ke kuburan kakeknya setidaknya sekali seumur hidup, sekaligus mengunjungi negeri tempat dulu kakeknya pernah berjuang.

Sementara, kakek Daniel adalah anggota tentara Hindia Belanda (KNIL) yang memilih mengungsi ke Belanda di awal tahun 1950-an. Kakek Daniel merupakan tentara pro-Belanda yang merasa keselamatannya terancam karena sikapnya yang lebih memihak Belanda alih-alih Republik Indonesia. Niatan semula untuk mengungsi hingga kondisi di Maluku aman ternyata menjadi lebih panjang. Sejak menginjakkan kaki di negeri Belanda, kakek Daniel menetap di sana dan tidak sekalipun pernah pulang kembali ke Maluku. Kelak, ketika Daniel lahir dan tumbuh menjadi kanak-kanak dan remaja, ingatan sang kakek tentang Maluku banyak diceritakan pada Daniel, yang sedikit-banyak menumbuhkan rasa penasaran terhadap tanah leluhur sang kakek.

Daniel dan Wilma bertemu dalam suatu kesempatan ketika mereka mengunjungi Museum Sejarah Maluku di Utrecht. Daniel mengunjungi museum itu untuk menghidupkan kenangannya akan negeri asal kakeknya tidak lama setelah sang kakek meninggal. Sementara, Wilma yang kebetulan melakukan kunjungan ke Utrecht penasaran akan keberadaan museum itu. Museum yang pada namanya disematkan nama salah satu pulau di Indonesia, negeri tempat dulu mendiang kakeknya ikut berperang dan gugur di sana.

Sejak pertemuan itu, mereka menjadi akrab dan semakin dekat. Pembicaraan tentang Indonesia menjadi topik yang sering mereka bahas di setiap mereka bertemu, bahkan ketika mereka menikah, topik tentang Indonesia tidak pernah benar-benar hilang. Pada suatu kesempatan, mereka saling mengutarakan keinginan untuk datang ke Indonesia. Wilma ingin berziarah ke kuburan kakeknya, sementara Daniel ingin mengunjungi Maluku, tanah moyangnya.

Rencana itu telah dipikirkan matang-matang dan semuanya terlihat baik-baik saja, sampai beberapa hari sebelum jadwal keberangkatan tiba-tiba Daniel menampakkan sikap yang bertolak belakang dengan keinginan yang telah mereka rencanakan bersama.

***

"Yakin tidak ikut?" tanya Wilma sekali lagi ketika ia mengemasi pakaiannya sendiri ke dalam koper. Jadwal keberangkatan kurang dua hari lagi, dan sikap Daniel masih belum berubah, tetap bersikeras mengurungkan niatnya untuk pergi dengan berbagai alasan yang bagi Wilma terdengar seperti dibuat-buat. Daniel mengizinkan Wilma untuk tetap berangkat sendirian, sementara Daniel akan menghabiskan hari-hari liburannya di rumah saja, melanjutkan penelitiannya yang sudah beberapa waktu terbengkalai.

Wilma benar-benar menyerah untuk membujuk ketika Daniel secara sepihak menghubungi maskapai penerbangan untuk membatalkan tiket yang sudah dipesan. Hanya tiket Daniel yang dibatalkan, sehingga mau tidak mau Wilma harus berangkat sendirian. Wilma tidak bisa berbuat banyak, dan tidak lagi berharap sikap Daniel akan berubah pada menit-menit terakhir menjelang waktu keberangkatan. Bagaimanapun tiket Daniel sudah dibatalkan, dan belum tentu mereka bisa memperoleh tiket besok atau lusa jika Daniel berubah pikiran.

Meski harus berangkat tanpa Daniel, rencana perjalanan Wilma tidak berubah. Sebab, menurut agen perjalanan yang akan mengurus liburannya, selepas melakukan ziarah ke kubur sang kakek, ada belasan orang Belanda lain yang juga menggunakan agen perjalanan itu pada jadwal yang sama, sehingga Wilma akan mendapatkan teman perjalanan ketika mengunjungi tempat-tempat bersejarah peninggalan Belanda di Indonesia nanti. Wilma mengemasi seluruh keperluan selama liburan di sana, dan tidak lupa memasukkan lukisan tua wajah mendiang kakeknya ke dalam koper --satu-satunya gambar wajah kakeknya yang dimiliki keluarga.

Ketika hari keberangkatan tiba, Wilma berjanji akan terus mengirim kabar pada Daniel, akan menghubunginya lewat video call jika Wilma menemukan sesuatu yang menarik, dan akan mengiriminya foto-foto tempat dan peninggalan bersejarah yang akan dilihatnya nanti.

***

Mereka berkumpul di dermaga khusus di pelabuhan, yang agak jauh dari dermaga lain tempat kapal-kapal penumpang bersandar. Tidak jauh dari tempat mereka berkumpul, sebuah kapal milik Angkatan Laut tengah bersandar, kapal yang akan membawa mereka berziarah ke tengah lautan tampat kapal perang De Ruyter tenggelam. Ada puluhan keluarga korban perang lainnya yang akan ikut kapal Angkatan Laut itu. Ketika menginjakkan kakinya di atas kapal itu, perasaan Wilma benar-benar takjub sekaligus haru. Ia membayangkan, mungkin mendiang kakeknya pernah merapat di dermaga ini, atau melewati selat ini. Ketika kapal mulai berangkat, rasa lelah setelah melakukan perjalanan mengarungi hampir separuh dunia, ditambah lagi perjalanan udara dari Jakarta ke Surabaya seakan tidak lagi dirasakannya.

Selepas meninggalkan selat dan kapal berada di laut lepas, orang-orang yang semula berdiri di haluan kapal bergegas masuk ke kabin penumpang. Angin terlalu kencang, sehingga akan sangat berisiko jika penumpang tetap berdiri di haluan. Seorang petugas mengabarkan bahwa perjalanan akan memakan waktu selama tiga jam. Petugas itu juga memberikan informasi mengenai prosedur tabur bunga yang akan mereka lakukan nanti, dan berapa lama mereka akan berhenti di sana sebelum kembali ke dermaga. Wilma mendengarkan arahan itu baik-baik, dan ketika petugas itu sudah meninggalkan mereka, Wilma berusaha untuk tidur untuk menghindari mual karena kapal tidak henti-hentinya bergoyang diterpa gelombang besar.

Wilma terjaga ketika beberapa petugas mengabarkan bahwa tidak lama lagi mereka akan tiba di lokasi. Wilma segera menjangkau barang-barang yang dibawanya, membuka koper, dan mengambil lukisan wajah mendiang kakeknya. Ditatapnya lukisan itu sembari tersenyum, seakan-akan Wilma mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa janjinya untuk berziarah ke kuburan sang kakek akhirnya bisa terlaksana.

Kapal benar-benar berhenti tidak lama kemudian. Seseorang yang sepertinya memiliki pangkat cukup tinggi di antara orang-orang berpakaian militer itu memberikan arahan singkat, memberikan informasi bahwa di titik inilah dulu kapal perang De Ruyter tenggelam. Selanjutnya, ia mempersilakan seluruh anggota rombongan untuk berdiri di dekat pagar untuk melakukan upacara tabur bunga.

Wilma berjalan mendekati pagar dengan membawa bunga-bunga dan lukisan wajah mendiang kakeknya. Wilma berdoa selama beberapa waktu, sembari mengenang dan membayangkan perjuangan kakeknya hingga akhirnya harus gugur di laut ini. Selepas berdoa, ditaburkannya bunga-bunga yang dibawanya ke tengah laut, dan ia bergegas kembali ke dalam kabin untuk mengambil telepon genggamnya, merekam orang-orang yang masih berdoa dan melakukan upacara tabur bunga. Wilma langsung mengirim video itu kepada Daniel.

"Sudah tabur bunga?" pesan balasan dari Daniel tiba tidak lama kemudian.

"Sudah. Seharusnya kau ikut denganku ke sini, biar bisa merasakan kebanggaan yang sama dengan yang kurasakan sekarang," balas Wilma, dengan melampirkan beberapa foto orang-orang yang menangis haru di atas dek.

"Sudah benar aku tidak ikut ke sana," balas Daniel kembali. Balasan yang membuat Wilma benar-benar marah. Ia berpikir, tidak sepatutnya Daniel bertingkah begitu ketika ia sedang dalam suasana berkabung di tengah laut. Kemarahan Wilma benar-benar memuncak ketika setelah pesan itu Daniel mengirimkan beberapa foto potongan berita dari surat kabar De Telegraaf dengan judul besar tentang pencurian kapal perang Belanda yang tenggelam di Laut Jawa.

"De Ruyter sudah hilang, Wilma, lenyap dari dasar laut," pesan dari Daniel terus datang bersusulan. Pesan itu disusul dengan foto bawah laut di lokasi tempat semula De Ruyter tenggelam yang dipotret ulang dari halaman De Telegraaf. Kini di tempat itu hanya terlihat cerukan yang luas dan dalam pertanda memang pernah ada kapal yang tenggelam di sana. Namun, kini kapal itu telah hilang, lenyap.

"Segeralah pulang, Wilma. Tidak ada gunanya mendoakan ikan-ikan."

Badrul Munir Chair lahir 1 Oktober 1990, lulusan pascasarjana Ilmu Filsafat UGM. Bukunya yang sudah terbit berjudul Kalompang (2014) dan Dunia yang Kita Kenal (2016). Saat ini tinggal di Semarang

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com


(mmu/mmu)

FOKUS BERITA:Cerpen detikHOT
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed