DetikHot

art

Pentas Tari 'Split': Tubuh dalam Ruang yang Terkikis

Senin, 06 Ags 2018 13:55 WIB  ·   Is Mujiarso - detikHOT
Pentas Tari Split: Tubuh dalam Ruang yang Terkikis Pentas Tari 'Split': Tubuh dalam Ruang yang Terkikis. Foto: Dok. Salihara
Jakarta - Panggung itu serupa lapangan yang dibatasi oleh garis putih membentuk kotak persegi. Tak ada dekorasi. Setelah ruangan gelap selama beberapa detik, secercah cahaya menangkap dua sosok di sudut belakang. Dua perempuan, berdiri menyerong, sebelah-menyebelah, diam beberapa saat sebelum kemudian melakukan gerakan-gerakan ritmis yang seragam. Awalnya, mereka hanya bergerak di sekitar sudut itu, namun lambat-laun mulai menjelajahi seluruh panggung. Dingin, kaku, robotik, namun terasa ada harmoni.

Dua perempuan itu seolah-olah satu. Selama kurang lebih dua puluh menit mereka melakukan gerakan-gerakan yang sama, kebanyakan adalah gerak tangan. Sesekali mereka bergeser, meluncur, berputar, dengan gerakan yang mengingatkan pada unsur-unsur balet. Perhatian penonton terbetot pada setiap detail gerakan, menjelajahi setiap inci tubuh kedua penari. Tak ada "kostum". Setiap gerakan seolah mengikuti irama musik yang monoton, menciptakan ketegangan tersendiri, menyelimuti keluasan panggung yang tak memberikan pemandangan apapun, selain dua sosok tubuh yang terus bergerak bersama-sama dengan agresif.

Pentas Tari 'Split': Tubuh dalam Ruang yang TerkikisPentas Tari 'Split': Tubuh dalam Ruang yang Terkikis Foto: Dok. Salihara

Itulah kesan pada menit-menit awal yang tertangkap dari pentas tari bertajuk 'Split' karya koreografer Lucy Guerin di gelaran Salihara International Performing-Arts Festival (SIP Fest) 2018 di Komunitas Salihara, Jakarta. Harmoni itu diakhiri ketika dua penari tersebut, Melanie Lane dan Lilian Steiner, dengan santai melangkah ke bagian belakang, seolah mengambil jeda istirahat, mengelap keringat, kemudian merentangkan garis putih yang membagi panggung menjadi dua kotak. Kini, panggung telah menjadi separo, dan keduanya memulai gerakan-gerakan yang lebih provokatif. Tak ada lagi keseragaman; mereka seolah saling berebut ruang dan perhatian penonton dengan caranya masing-masing.

Dengan cara yang sama, selama 50 menit pertunjukan berlangsung, kedua penari terus-menerus membagi ruang panggung menjadi semakin kecil. Waktu pun menjadi ikut terbagi-bagi. Harmoni ditata ulang dari awal. Penonton seolah-olah menunggu, apa yang akan terjadi selanjutnya. Ketegangan baru. Konflik baru. Tubuh-tubuh yang terus bernegosiasi dalam ruang yang semakin menyempit. Ada saat ketika mereka saling mendesak, mendorong, memelintir, memiting kepala, menginjak, mencakar-cakar, mencabik-cabik. Dan, ruang terus terbagi-bagi sampai akhirnya keduanya hanya bisa berdiri saling memunggungi dengan kaki jinjit.

Lewat 'Split' Lucy Guerin memadukan antara kekuatan konsep dan kejelian dalam menciptakan gerak yang menerjemahkan keutuhan struktur tari melalui elemen-elemen paling dasar. Yakni, bagaimana tubuh tak henti-henti menyesuaikan dengan ruang dan waktu yang terus menyusut. Jika seni adalah simbol kehidupan, maka panggung yang terkotak-kotak dan makin menyempit ciptaan Guerin adalah resonansi dari dunia di luar sana, kehidupan yang tengah menghadapi konflik akibat ruang yang kian habis, dan waktu yang makin menipis. Namun, penonton tentu bebas menafsirkannya sesuai dengan penangkapan dan referensi masing-masing.

Yang jelas, lewat representasi dua penarinya, 'Split' mampu menawarkan pertunjukan yang menarik, menegangkan, hingga pada titik tertentu bahkan mungkin bikin merinding; sebuah pengalaman yang kaya antara kesunyian meditatif dan gerak yang riuh, namun elegan dan menawan. Jika dua penari di atas panggung itu bisa dilihat sebagai satu kesatuan, maka penonton pun ada kalanya bisa merasakan bahwa mereka adalah bayangan dari diri kita sendiri yang tengah bercermin, dan mengenali dan menyusun kembali struktur tubuh dalam ruang dan waktu yang terkikis.

Pentas Tari 'Split': Tubuh dalam Ruang yang TerkikisPentas Tari 'Split': Tubuh dalam Ruang yang Terkikis Foto: Dok. Salihara

Bukan kebetulan atau perkara teknis semata, bahwa pertunjukan ini mensyaratkan penontonnya untuk menitipkan gadget dan alat apapun yang berkamera. Penonton memasuki ruang pertunjukan hanya dengan tubuh sendiri, yang telah dilucuti dari perangkat digital yang sehari-hari sudah tak pernah terpisahkan lagi. Penonton seperti memasuki dunia yang terpisah, untuk merasakan dan melihat dirinya seutuh-utuhnya, melalui dua tubuh penari di panggung. 'Split' berhasil mengajak kita kembali ke tubuh sendiri, dengan segala kekuatan dan keindahannya, dan merasakan kewajaran -kealamian- kehidupan yang mungkin telah lama tidak kita rasakan.

Dipentaskan dua hari pada Sabtu dan Minggu (4-5/8), 'Split' menjadi pembuka perhelatan SIP Fest, hajatan dua tahunan yang digelar selama sebulan penuh. Lucy Guerin adalah koreografer dan sutradara yang lahir di Adelaide, Australia dan berproses dalam penciptaan tari di New York. Sekembalinya ke Australia, ia mendirikan Lucy Guerin Inc. 'Split' menerima penghargaan bergengsi untuk kategori Penari Terbaik dari Helpmann Award pada 2017. Sebelumnya, Lucy Guerin sendiri telah menerima penghargaan Outstanding Contribution to Dance dari Australia Council Award pada 2016.


(mmu/mah)

Photo Gallery
1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed