DetikHot

art

Sumur Kiai Jalal

Sabtu, 05 Mei 2018 10:42 WIB  ·   Adi Zamzam - detikHOT
Sumur Kiai Jalal Ilustrasi: Nadia Permatasari/detikcom
Jakarta - Sami percaya bahwa sumur Kiai Jalal sebenarnya tidak bertuah. Yang menjadikannya istimewa sudah tentu adalah Kiai Jalal itu sendiri, dengan doa-doanya yang mustajab, dengan nasihat-nasihatnya yang menyejukkan. Meski kemudian keyakinannya ini sering terdera keraguan, sebab kenyataannya sudah ratusan orang yang tertolong dengan lantaran meminum air sumur itu. Termasuk Sami sendiri.

Tentu saja Sami tak akan pernah lupa bagaimana dulu ia bisa terdampar di pondok pesantren Kiai Jalal ini. Konon ia sempat diringkus oleh Bashar dan Amin-dua murid generasi pertama Kiai Jalal.

"Kemarikan dia, biar aku kasih minum," cerita Bashar-menirukan suara Kiai Jalal. Kesadaran Sami konon perlahan kembali seiring pengobatan yang dilakukan Kiai Jalal setiap hari-dengan hanya menggunakan air sumur yang didoainya.

Sampai sekarang Sami bahkan tak canggung mengincar air dalam gelas bekas manaqiban atau selamatan yang dipasrahkan ke Kiai Jalal. Ada sensasi tertentu yang tak bisa ia ceritakan setiap habis meminum air berbau doa tersebut. Yang jelas, nasihat-nasihat Kiai Jalal jadi mudah merasuk ke dalam kepalanya. Tubuh Sami pun entah mengapa jadi terasa enteng.

Tapi belakangan ini, semenjak Kiai Jalal berangkat menunaikan ibadah haji, kesabaran dan keyakinan Sami benar-benar sedang diuji. Banyak orang yang menganggap bahwa air sumur Kiai Jalal benar-benar bertuah.

"Dia suka kejang-kejang, Kang," perempuan itu mengadu. Sementara suaminya sibuk menenangkan si bocah yang sedari tadi begitu rewel.

"Dia pasti suka diganggu...," Sami, sambil menyuguhkan teh hangat.

"Iya, benar, Kang!" seru si suami. "Kadang dia juga suka menjerit-jerit sendiri saat tidur."

"Bukan itu maksudku!" seru Sami. "Jangan suka dijebleh, mengerti? Biar kalau tidur dia tidak terbayang-bayang...."

Pasangan suami-istri itu tak menyahut. Hanya menatap Sami penuh tanya. Sami sendiri sedang teringat dengan anaknya yang kini entah bagaimana keadaannya. Istrinya selalu bilang anaknya kurang susu. Sejak mulai memulung lagi, air susunya memang berkurang drastis. Ia pun meminta, seperti para tetangganya. Susu Formula. Tapi penghasilan Sami tak mencukupi. Hampir selalu tak cukup.

"Pak Kiai enggak ada ya, Kang?" setelah jeda yang cukup lama, pertanyaan itu baru terlontar.

"Kiai Jalal sedang pergi haji," kembali menyilakan mencicipi suguhan.

Suami-istri itu berembuk sejenak.

"Apa kami boleh minta air sumurnya?" si suami memberanikan diri.

"Buat apa?" tentu saja sebenarnya Sami mafhum, hampir semua pasien yang datang ke sini selalu dibekali air sumur oleh Kiai Jalal.

"Buat tombo, Kang. Soalnya sudah empat hari ini Mulyono begitu."

Sami menghela napas pendek. "Air sumur itu enggak bisa menyembuhkan. Atau begini saja. Nanti aku bilangkan ke Kiai Jalal. Biar dikirimi doa dari sana."

Suami-istri itu melongo. Saling pandang. Mereka bahkan datang lagi untuk kali kedua ketika Sami tak mau mengabulkan permintaan itu.

"Kalau kalian beranggapan air sumur itu bisa menyembuhkan, itu namanya syirik," ujar Sami. Juga kepada semua orang yang maksud kedatangannya juga hendak meminta obat dari Kiai Jalal.

Kedatangan orang-orang yang ingin berobat ini masih saja tak terbendung. Meskipun Kiai Jalal tak ada. Dari yang minta suwuk, penglaris, pengasih, sampai ada juga yang minta untuk penenang. Mereka bahkan memaksa Sami mendoai air sumur itu sebagai ganti Kiai Jalal, seolah keputusasaan telah menutupi mata dan hati mereka. Sebagai murid tertua, Sami pun akhirnya tak memiliki pilihan.

"Kenapa tidak ke dokter saja, atau menunggu kepulangan Kiai Jalal?" Sami enggan.

"Doa saya tidak semustajab Kiai Jalal," Sami terang-terangan menolak permintaan sang tamu. Pada taraf ini, entah mengapa ia teringat dengan kecerewetan istrinya yang saban hari gemar membentak atau mengomel agar Sami jangan malas cari uang.

"Saya ini cuma murid beliau," Sami merendah. Tapi orang-orang ini banyak yang rela datang kembali demi meluluhkan kekeraskepalaan Sami.

Sami mulai luluh ketika dua malam berturut Kiai Jalal mampir ke dalam mimpinya. Dalam mimpi itu-Kiai Jalal yang sedang berhaji memberi nasihat, agar Sami menolong siapa saja yang datang kepadanya dengan tulus. Tanpa pikir panjang lagi akhirnya Sami pun selalu meniupkan surat Al Fatihah sebelas kali ke arah air yang hendak ia serahkan kepada mereka yang sowan meminta pertolongan Kiai Jalal.

Mulanya, Sami sudah berancang-ancang tak akan ambil pusing dengan apa pun yang akan terjadi nantinya. Kepalanya serasa panas jika memikirkan hal itu. Tapi begitu beberapa orang yang kemarin datang meminta pertolongan kini kembali datang membawa sebentuk rasa terima kasih, dada Sami tiba-tiba bertambah lapang dan semakin lapang. Ia mulai percaya bahwa semua nasihat Kiai Jalal benar adanya. Termasuk bahwa jatah rezeki sudah diatur dan ditetapkan oleh Yang di Atas.

Keinginan Sami untuk pulang pun mulai menggebu-gebu. Ia sudah tidak sabar menunggu kepulangan Kiai Jalal. Keberaniannya untuk kembali mengarungi hidup berumah tangga kembali tumbuh dan semakin tumbuh.

***

Tiga bulan kemudian, cerita ini berlanjut dengan keheranan Sami dengan perilaku istrinya. Kecerewetan istrinya tak juga berubah. Tabiat, kelakuan, dan terutama keyakinannya yang menyedihkan itu masih saja seperti dulu.

"Buat apa kau kembali pulang kalau masih jadi pemalas?! Apa kau pikir makanan bisa jatuh dari langit, ha?!" suara cemprengnya seolah tak ingin memberi kesempatan Sami untuk menghela napas.

Tapi Sami sudah menyiapkan mental sedari awal kepulangan, "Memang bisa. Rezeki itu sudah ada yang atur. Kau boleh saja tidak percaya."

"Ternyata penyakitmu belum sembuh. Aku tak mau memelihara parasit di rumah ini. Kembalilah sana!"

"Aku bisa buktikan...." ujar Sami kalem. Berjuang agar emosinya tak turut terpancing. Diingat-ingatnya selalu bahwa ia sudah dua tahun berguru kepada Kiai Jalal.

Selang beberapa menit, Sami pun meletakkan dua bungkus rokok pemberian Kiai Jalal di kotak penjualan bensin milik istrinya. Baru saja ditinggal makan siang, terdengar teriakan seseorang yang menanyakan rokok tersebut. Ternyata Haji karim, yang hendak menengok pepadi di sawahnya.

Sami pun buru-buru memperlihatkan uang hasil penjualan dua bungkus rokoknya ke hadapan sang istri.

"Lihat, hanya dengan modal dua bungkus rokok, aku pun bisa dapat laba tiga puluh ribu," dengan wajah yang amat riang.

"Itu karena Haji Karim tahu, di mana Kang Sami dua tahun kemarin. Beliau juga sering menolak aku kasih kembalian saat beli bensin. Itu karena beliau kasihan dengan kita, Kang..."

"Bukan. Itu karena rezekiku memang sudah dijatah segitu jumlahnya," Sami ngotot meyakinkan istrinya.

Hari berikutnya, ketika lima rokok hasil penjualan dua rokok kemarin masih utuh bersandar di jeruji kawat kotak penjualan bensin, Sami pun kembali berujar, "Kau lihat, kalau memang tak ada rezeki, bahkan lima bungkus rokok dipajang pun tak ada yang laku."

"Kalau Kang Sami enggak kerja, ya mana ada rezeki?"

"Kerja itu cuma sarana, alat. Kalau Yang di Atas memang tak memberi, ya tak dapat," ujar Sami dengan penuh pengertian, mengingat istrinya yang memang minim pengertian agama.

"Maunya Kang Sami sebenarnya apa sih? Cuma enggak mau kerja kan?"

"Ya kerja, Min. Kalau ada yang bisa dikerjakan. Aku cuma ingin kau tak perlu merisaukan apa yang seharusnya tak perlu dirisaukan. Kau pernah lihat cicak? Apa kau pernah lihat dia kekurangan makanan? Setiap hari selalu saja ada nyamuk bodoh yang mendekat dan merelakan diri menjadi santapannya. Hingga cicak tersebut masih terus hidup," ujar Sami masih dengan penuh kesabaran.

"Pokoknya Kang Sami harus cari kerja, titik. Kalau mau jadi pemimpin harus bisa bertanggung jawab!"

Perdebatan itu pun kembali berujung rasa panas dan menemui jalan buntu.

Sami kembali ke pondokan Kiai Jalal dengan membawa sekeranjang beban rasa kesal dan heran.

"Sebaiknya tak usah," ujar Kiai Jalal ketika Sami bilang ingin ambil air sumur untuk menyembuhkan istrinya.

Senyum Kiai Jalal bertambah lebar tatkala Sami bilang bahwa air sumur itu bisa menyembuhkan segala macam penyakit-seperti yang telah ia buktikan kemarin-kemarin.

Senyum Kiai Jalal berubah menjadi tawa tatkala Sami bilang istrinya sakit!

Kalinyamatan - Jepara, 2016.

Adi Zamzam buku kumpulan cerpen terbarunya berjudul Menunggu Musim Kupu-Kupu (Penerbit Basabasi, 2018)

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com
(mmu/mmu)

FOKUS BERITA:Cerpen detikHOT
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed