DetikHot

art

Anggrek Penghabisan

Sabtu, 28 Apr 2018 11:52 WIB  ·   Topilus B. Tebai - detikHOT
Anggrek Penghabisan Ilustrasi: Denny Pratama/detikcom
Jakarta - Engkau pergi dariku delapan tahun yang lalu dan sejak itu, kecuali foto dengan dia di Facebook yang menunjukkan kau benar-benar sudah pergi, saya tidak mendapat kabar apa-apa tentangmu. Kau juga tak kunjung datang saat jubah putih ini tersemat tanda imamat. Mataku telah lelah bersusah payah menemukan senyum dengan lesung di pipimu itu di tengah ribuan wajah yang terarah padaku di dalam katedral ini.

Mataku mencari-cari tiada henti apakah kau akan datang dengan pakaian hitam yang kau ambil dariku sepuluh tahun yang lalu itu, seperti janjimu. Aih, delapan tahun bukan waktu yang singkat. Saya tahu, Maria. Tapi di hatiku ini, di dalam taman kita ini, kau telah menumbuhkan sepokok anggrek yang pernah mekar. Ia masih ada. Pokoknya masih ada. Hanya saja tidak berbunga. Ia kekurangan sari yang memberinya kehidupan.

Dari lagu pembukaan hingga detik-detik saya harus tengkurap menyatakan tanda saya hanyalah setitik debu di hadapan Tuhan yang dijadikan alat-Nya untuk menjalankan tugas perutusan-Nya di tengah dunia, Maria, kau tak datang juga. Saat komuni dibagikan hingga kepada lagu penutup, mataku selalu bergerilya ke setiap sudut gereja yang dipenuhi umat Katolik ini. Kau tak tampak juga.

Sudah setahun sejak imamatku, kau masih tetap menghilang. Mencarimu adalah upaya menjaring angin, bahkan sepotong pun cerita tentangmu tak kutangkap.

Akhir-akhir ini kurindu dirimu. Seminggu yang lalu, saya duduk-duduk sambil menikmati pokok anggrek di taman kita. Batang, ranting, daun-daunnya semua kelihatan getir di tengah ketidakpastian: hidup tak mampu, mati tak sudi. Lihatlah daunnya yang menguning. Tangkainya telah mengering. Kupikir-pikir, pokok anggrek ini tak layak tumbuh. Tapi, sabar. Lihatlah, Maria ada sebuah kuncup bunga. Akan ada anggrek mekar lagi di taman kita.

Kaukah itu yang datang diam-diam, menyelinap saat aku sibuk dengan katakese, pendidikan bagi penerima sakramen komuni dan sakramen pembaptisan, lalu menyiraminya dengan sari-sari air matamu lantaran iba pada anggrek di taman kita, lalu pergi menghilang karena takut mengusikku yang kini telah memproklamasikan diri menjadi milik semua umat Tuhan?

Saya justru lebih semangat karena mekarnya memberiku harapan. Harapan bertemu denganmu. Lalu telah kusaksikan sendiri suasana itu, seperti di awal kita tanam pokok anggrek dan saling senyum saat bulir bunga menghancurkan kelopak yang melingkupinya, lalu matahari pagi menguatkan helainya, hingga mekarnya tahan lama, tidak layu oleh mentari siang dan tidak goyah oleh angin sore.

Saya lalu jadi lebih semangat menjalankan tugas perutusanku di tengah umat Tuhan. Angin telah lelah mendengar doaku: boleh saya ketemu kau, sekali saja....

Iseng depan notebook, saya terhenyak sesaat ketika kubuka puisimu. Ingatkah kau saat kita mendiskusikan judulnya? Pulang sekolah, berdampingan sambil pulang ke rumah, acuh pada teman-teman yang mengolok kita berdua, hanyut pada obrolan kita. Hari itu, engkau menginjak hari kedua setelah ulang tahun ke-18. Kita saling tukar foto dan novel, dan tiga hari setelahnya kita terlibat adu mulut. Dalam novel itu, yang kau sukai adalah karakter si ular.

Sore hingga seminggu setelahnya adalah 'masa-masa kritis' untuk anggrek di taman kita, hingga pada akhirnya, pagi itu kau telepon aku, cerita, 'aku ingin anggrek', dan saya bilang saya tidak bisa memberimu anggrek yang kau maksud.

Saat itu kita masih remaja dan betapa polosnya. Kita di kelas duabelas sekolah menengah atas milik Yayasan Muhammadiyah.

Lalu kau tunjukkan padaku esok hari, kau telah punya serumpun anggrek. Kendati kita sudah punya taman tempat ditanamnya anggrek kita, kau jawab, 'kau tetaplah dengan cita-citamu, saya mau satu yang jadi milikku seorang, saya telah miliki anggrek mekar, saya akan memelihara anggrek ini, menumbuhkannya.' Lalu, dengan kenakalan manjamu yang dibuat-buat itu, kau berlahan-lahan mulai mencampakkan keinginanku yang sederhana di hadapan apa yang tidak mungkin kupenuhi.

Kesalahanku saat itu: tergila-gila pada jubah putih, nama agung, dan harapan semua pihak di pundakku. Saya paham tapi menindihnya dengan segala daya yang kupunyai.

Kau dan aku sejak awal sama-sama mengerti bakal jadi begini ujungnya: kita semakin jauh. Semakin terpisah. Semakin hambar cintanya; cinta tanpa makna dan nyawa. Entalah. Tapi, senyummu itu selalu meluluhkan hatiku, berdaya magis mendinginkan didihnya darahku saat kau dan ularmu itu menari-nari menginjak-injak angrek mekar di taman kita, membuaiku dengan semua yang manis yang keluar dari mulutmu yang termanis. Jiwa yang polos ini kau cocok hidung bak induk kerbau, lalu kau peras aku: ini dan itu. Kusanggupi semuanya. Kuberikan semua.

Sungguh, itu semua bukan kenangan yang baik. Tak pantas kukenang di saat-saat seperti ini. Maafkan saya, Maria. Kau sebenarnya seorang gadis baik, terbaik yang kukenal. Bila tidak, anggrek di taman kita tak mungkin pokoknya tak lekang oleh waktu.

***

Seminggu yang lalu saya bermimpi tentangmu. Kau menjadi wanita gelandangan, terlihat tua. Jorok. Pakaianmu, astaga, compang-camping! Tak pantas bidadari Manado yang diciptakan oleh paduan pesona Danau Paniai dan pegunungan yang memagarinya, tempat kelahiranmu itu, terlihat seburuk itu.

Sehelai baju you can see yang sudah berubah warna karena air dan panas, lembab karena angin dan keringat, berlumuran oli, sperma, dan sampah jalanan kau kenakan. Mataku terbelalak. Kusebut namamu kuat-kuat. Langkah kaki gontaimu terhenti. Kau tidak mengangkat kepala yang lemas tertunduk itu dengan segera. Lalu dengan gerakan lambat, kau sibakkan rambut acakmu yang mirip ijuk basah yang meneteskan rintik hujan yang tidak kau hiraukan itu.

Diriku yang kau pandang. Ini saya. Saya. Hei, ini saya yang dahulu itu, yang pernah mencintaimu itu!

Kau kaget lalu malu. Kau pura-pura tidak mengenalku. Kau masih seperti yang dulu.

***

Sebenarnya saya tak ingin datang ke tempatmu hari ini. Malu!

Orang-orang bilang, dari alam barumu itu, kalian tahu semua, pastilah kau tahu si ular kepunyaanmu itu telah keluar dan pergi. Kini besar di taman lain.

Dengan perasaan bersalah yang amat dalam, tadi pagi, kuhancurkan taman kita. Lalu kusadari kaki ini melangkah, begitu saja, lalu tibalah saya di sini.

Begini ceritanya, Maria. Baru dua hari lalu kudengar perihal dirimu. Sudah dua minggu lalu kau pergi mendahuluiku ke alam sana. Kau bahkan tak sisakan waktumu sedetik pun untuk kulihat senyummu, kecuali semua impian dan cerita-cerita remaja yang dibalut kenangan yang kadang membuatku tertawa, tersenyum, sedih, lalu merasa bersalah, dan berakhir dengan doa di tengah taman anggrek kita. Tapi, semuanya tak bisa dipertahankan.

Lebih hebat dari ombak laut memukul pagar batas di Pantai Nabire, begitu sesalku memukul-mukul dinding nurani. Getarannya merasuki pikiran, menjalar lewat darah, mengalir melalui nadi ke seluruh tubuh.

Ampunanmu adalah penawar satu-satunya. Saya barangkali tak pantas di jalan ini, Maria. Hatiku tak tenang mendengar kepergianmu.

Memasuki arena ini, tak susah menemukan namamu. Seakan kau menuntunku ke rumah istirahat terakhirmu. Tadi saya masuki taman ini, dua kupu-kupu terbang dari balik salib dengan namamu ini. Seekor burung berteriak aneh, semoga saja bukan tanda penolakan kehadiranku darimu. Tapi, begitu aku menatap lama butiran tanah basah ini, gambaran senyummu terbayang, dan aku tenang.

Saat ini, burung-burung gereja telah pergi menjauh, kupu-kupu tadi telah hilang entah angin bahkan telah berhenti berembus. Saya pikir, kau ada bersamaku saat ini. Maaf tak bisa melihatmu. Semoga kau tak marah karena saya datang padamu.

Setelah menghimpun kekuatan dan menceritakan semuanya tadi, inilah yang hendak kukatakan. Semuanya itu telah jadi masa lalu kita, hanya bisa kusyukuri saat ini. Kau tetap bidadari. Selamanya bidadari.

Kau tahu, tak ada kekekalan kebahagiaan dan kenikmatan yang dapat digenggam manusia, siapa pun dia, sepanjang hidup. Segalanya hanya melintas, begitu saja, cepat, sesuai irama dan usaha, semua seperti angin yang lewat di depan kita. Bila tak meninggalkannya, kitalah yang ditinggalkannya. Saya sadar sesadar-sadarnya bahwa segala yang kulalui, apa pun itu, akan berakhir cepat juga, masing-masing dengan polanya sendiri. Giliranmu sudah, kini kutunggu giliranku.

Saya menyesal tak hadir dalam hidupmu. Kuingkari janji saat itu dengan memilih seminari karena dunia yang membentukku mengarahkanku ke situ. Bila kuingat semua di masa lalu, hatiku sendu, bergetar, dawai-dawai pilu terpetik mengalunkan melodi aneh. Maafkan jiwa penakut dalam tubuh ini bila salah-dosanya padamu telah kau bawa pergi juga ke alam sana. Semoga Tuhan mengampuniku.

Maria, saya minta maaf.

Doakan saya dari alam sana.

Kau telah menitip sepotong kata penghabisan yang berhasil membunuhku hingga hari ini. Saya bukan orang baik. Kau bukan malaikat jahat yang telah mencoba menghalangi jalan panggilan ini. Kita sama-sama manusia yang sedang di alam peziarahan menjawab panggilan Tuhan.

Taman anggrek kita kini tak ada lagi. Ia telah kuhancurkan. Ini tangkai anggrek penghabisan dari taman kita, kupetik tadi pagi sebelum ke sini, kuletakkan di sisi kanan nisanmu.

Topilus B. Tebai mahasiswa asal Papua, sedang tinggal dan kuliah di Semarang. Telah menulis sebuah buku kumpulan cerpen Aku Peluru Ketujuh (Penerbit Ko Sapa, Maret 2017). Menulis di website Komunitas Sastra Papua (Ko Sapa).

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com


(mmu/mmu)

FOKUS BERITA:Cerpen detikHOT
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed