DetikHot

art

Pukulan Telak

Sabtu, 07 Apr 2018 10:06 WIB  ·   Eko Triono - detikHOT
Pukulan Telak Ilustrasi: Nadia Permatasari/detikcom
Jakarta - Dia pernah memukulku. Dan, kemarin dia kirim pesan; ketemu di gedung rektorat kampus, sayap barat. Kutemui, dan dia sedang menunggu seperti jamur putih berdasi hitam yang tumbuh di bangku kayu.

"Aku udah melamar ke seratus dua puluh sembilan tempat. Tak ada yang mau nerima," katanya sepolos Spongebob. "Aku ke sini mau kembalikan ijazah. Ini menunggu rektor selesai rapat akreditasi."

Kutanyakan sekali lagi apa maksudnya? Takut-takut aku salah dengar.

Dia menjelaskan bahwa ketika lulus sekolah, sebelum masuk kuliah, dia pernah dapat undian lotre. Dia membelikan ibunya, yang janda dan karyawan pabrik bulu mata palsu, televisi empat belas inci. Penjualnya memberi kartu jaminan tiga tahun. Kalau tidak bisa dipakai atau rusak dalam jangka itu, silakan dikembalikan. Ketika cari info kuliah, dia lihat brosur-brosur iklan kampus. Tertulis visi-misi mulia dan keterampilan dan jaminan kerja.

Dia sudah lulus kuliah. Mendaftar kerja pontang-panting, tapi tidak juga bisa dipakai ijazahnya.

"Lagi pula, ini ijazah baru dua tahun tiga bulan," katanya kemudian, "Belum tiga tahun."

"Kamu keliru, Gun," kataku selembut mungkin, tentu atas nama institusi tempatku mengabdi saat ini. "Ini kampus bukan pabrik tivi atau bulu mata palsu."

Dia agak tersinggung soal bulu mata palsu, kemudian meluruskan dasi yang kutaksir sisa yudisium.

"Apa bedanya?"

"Tentu saja beda, Gun, Gunawan."

Kujelaskan di sisinya, sambil sesekali membungkuk dan memekik dalam bisik bahwa pendidikan adalah investasi peradaban. Ini bukan ruang pabrik atau kapitalisme. Pendidikan merupakan ruang kultural, kebudayaan, tempat untuk memanusiakan manusia, dan seterusnya.

Pendek kata, kujelaskan padanya visi-misi universitas sebagaimana yang kudapat saat pelatihan menjadi pegawai.
"Tapi aku pernah telat membayar iuran," sela Gunawan, "Dan kampus bilang sistem sudah ditutup. Aku sampai mengemis dan menangis agar bisa ikut kelas. Mereka bilang tidak peduli. Sistem sudah ditutup. Apa bedanya dengan pabrik? Mesin sudah dimatikan."

"Gun, itu hanya oknum. Dengar," kataku kemudian.

Kuurai lagi bahwa di kampus ini, lihat sekeliling, semuanya tertata rapi. Pelayanan, mulai dari bagian kemahasiswaan dan keuangan, ramah bukan kepalang.

Mereka, dan rumput-rumut di taman tahu persis bahwa bukan hanya melayani manusia yang harus dimanusiakan, tetapi melayani peradaban sebuah bangsa. Mereka tidak boleh menjadi seperti Orde Baru yang memutus rantai intelektual menjadi ekspatriat, tidak boleh membunuh rantai intelektual baru dengan sikap feodal plus nafsu kapital, Gun. Kamu pernah lihat mereka mengantuk? Tidak, pelayan peradaban tidak boleh mengantuk apalagi ketiduran dan pulang gasik, Gun. Itu namanya peradaban ngantuk dan peradaban pulang gasik jadinya.

Kamu pernah lihat mereka main game di komputer? Apa jadinya kalau peradaban ditinggal main game sambil makan lemper di jam kerja, iya, 'kan? Tentu jadi peradaban lemper nantinya.

Atau, kamu pernah lihat mereka cuek menggosip saat mahasiswa datang meminta stempel berbayar dan tanda tangan atau bahkan membentak-bentak mereka dengan wajah cemberut marmut? Demi ilmu-pengetahuan, Gun, itu mustahil. Bakal jadi peradaban apa bangsa ini kalau layanan akademiknya lebih mementingkan harga sandal, grup gosip, daripada cahaya cemerlang sepertimu dan pelita gemilang sahabat-sahabat mahasiswa?

"Plok!"

Gun meneplok nyamuk.

Ada merah darah di tengah telapak kirinya dan seekor nyamuk yang remuk dalam hitamnya.

Melihat diamnya, hasrat dendamku melanjutkan penjelasan atas nama citivas akademika. Itu baru dari layanan akademik. Belum lagi dari pengajarnya, Gun. Dosen-dosen kita dulu itu bukan seperti rekaman yang diputar tiap semester.

Kamu tahu sendiri apa jadinya peradaban kalau tiap semester mengulang rekaman yang sama? Jadi peradaban rekaman kan? Belum lagi yang satu ini: Gun, mereka itu menulis mati-matian, riset banting tulang siang malam, dengan imbalan hanya beberapa puluh atau ratus juta, mungkin besar dibanding upah minum rakyat jelata yang mereka teliti atau harga novel yang mereka kaji, tetapi sangat kecil di mata peradaban.

Itu sebuah usaha agung untuk bisa masuk indeks scopus. Kamu tahu scopus?

Scopus bukan bulu mata palsu di pabrik ibumu atau tivi empat belas incimu dengan garansi dua tahun, Gun. Itu tingkat dewa kalau boleh dibilang. Itu puncak dari ilmu-pengetahuan, Gun.

"Tapi kenapa dengan ilmu-pengetahuan itu aku tidak dapat kerja dan jumlah pekerjaan sedikit padahal kampus dan penelitian banyak?"

"Gun, Gun, itu bukan urusan kampus dan dosen."

"Kok begitu?"

"Kampus itu menciptakan pekerja, bukan lapangan kerja. Kalau ada yang tidak berhasil bekerja, itu kesalahan mahasiswa itu sendiri."

"O, berarti kalau tiviku itu tidak bisa dipakai salah tivinya, bukan pabriknya?"

"Tivinya."

"Kalau rambut tidak bisa disulam jadi bulu mata juga salah rambutnya?"
"Rambutnya."

"Kalau botol air mineral ini rusak pada hari keluar pabrik juga salah botolnya?"

"Botolnya."

"Kalau tangan ini mukul bacot akademikmu pakai sepatu yang salah juga sepatunya?"

"Sep... eh, jangan begitu, Gun. Kita bisa bicara baik-baik."

"Ya. Tapi, aku tetap harus ketemu Pak Rektor dan mengembalikan ijazah ini."

Duh, mampus, pikirku. Kalau sampai dia menghadap Pak Rektor, tentu Pak Rektor akan tanya angkatan berapa. Terus kalau dia bawa-bawa namaku dan sebut-sebut aku yang belum lama jadi dosen sastra di sini, bisa kacau-balau urusan masa depanku. Aku harus mengambil langkah terhadap Spongebob putih berdasi hitam ini.

"Begini, saja, Gun," aku bersiasat.

"Kita menunggu di kantin dekat perpustakaan pusat, bagaimana?" tanyaku. "Sambil minum es dan mengenang masa lalu."

Gunawan setuju dan kami di sana mulai membicarakan, lebih tepatnya aku mengarahkan, ke masa silam. Mulai dari masa kuliah awal dengan diplonco dengan tugas bawa celana dalam yang direndam kecap asin dan topi dari wadah nasi yang entah tujuannya untuk apa, hingga soal titip presensi, membolos, baca puisi heroik sambil demonstrasi meneriakkan pentingnya keadilan sosial, berambut gondrong, memprotes kenaikan uang pangkal, mendekati adik angkatan atau mahasiswa yang baru masuk, sampai soal mengemis-ngemis nilai di hadapan dosen, dan mencium tangan selepas ujian.

Ringkasnya, kami ketawa-tawa sambil mengudap gorengan yang biasanya di masa kuliah kami jadikan lauk andalan.

Aku berharap Gunawan lupa tujuannya ke kampus. Kalau pun tidak lupa, paling minimal, Pak Rektor sudah selesai rapat lalu berpindah ke rapat yang lain, sebagaimana tugas hidupnya di dunia ini. Dengan demikian, Gunawan baru bisa menemuinya besok atau lusa atau bahkan minggu depan kalau rapatnya ternyata di luar kota, luar negeri, atau luar angkasa.

Bayangkan apa yang akan terjadi jika Gunawan benar-benar bertemu Pak Rektor hari ini dan dia berkata di hadapan rektor yang terhormat dan mulia itu: 'Pak, saya kembalikan ijazah dan minta uang ganti. Ijazah ini tidak laku. Saya tidak mendapat pekerjaan. Saya minta uang kembali.' Tidak, tidak. Itu tidak boleh terjadi. Gunawan harus kutahan lebih lama di kantin ini. Persoalan kelasku bisa ditunda atau bilang saja aku sedang sakit. Ini masalah institusi; citra akademik; menjaga marwah akreditasi nasional; aku harus memperjuangkannya sampai titik darah penghabisan.

"Aku pernah memukulmu," ujar Gunawan tiba-tiba, "aku minta maaf."

"Tidak masalah, Gun," batinku, meski jengkel juga, sialan, kapan bisa kubalas langsung, tetapi mengingat aku ini akademisi, ya, bersikap pemaaf akan terkesan lebih terdidik.

"Kudengar kamu mengajar sastra?"

"Iya," jawabku.

"Mahasiswamu akan jadi sastrawan?"

"Tidak juga," aku agak gugup, "bisa peneliti atau yang lainnya."

Gunawan mencondongkan badannya, menekankan kalimatnya, "Jadi, kalau mahasiswa kedokteran belum tentu jadi dokter, ya?"

"Kalau itu sudah pasti."

"Kenapa mahasiswa sastra tidak pasti?"

"Ya, ketidakpastian itu adalah ruh kreativitas, Gun," aku ngarang.

"Ketidakpastian mendapat pekerjaan sepertiku juga? Melamar ke seratus dua puluh sembilan tempat dan ditolak. Kalau begitu apa gunanya membuka jurusan sastra menurutmu?"

"Kupikir jurusan lain juga banyak yang tidak pasti. Kuliahnya apa, kerjanya apa. Begini saja, Gun, bagaimana kalau kamu kuberi pekerjaan. Aku punya banyak, maksudku, beberapa proyek penelitian, kita bisa kerja sama. Nanti, ada bagi hasil. Bagaimana?"

"Jadi begini caramu melakukan penelitian peradaban? Peradaban proyek?"

"Bukan begitu, Gun," serba salah jadinya, "Maksudku, ayo, kita selesaikan masalah, maaf, keuanganmu tanpa harus mengembalikan ijazah itu."

Gunawan bersandar pada kursi.

Tangannya melepas dasi yang kutaksir sisa yudisium bertahun-tahun silam, "Aku tidak bermasalah dengan uang."

"Lha, tadi maksudmu tidak diterima pekerjaan?"

Gunawan tertawa. Tawa yang menang yang rahasia. Kemenangan yang aneh, seperti saat dia memukulku di tahun-tahun terlewat, ketika aku ketahuan berselingkuh dengan pacarnya dan Gunawan mengajakku bertanding satu lawan satu. Terang saja, dia pernah belajar silat. Babak-belur jiwa-ragaku kemudian.

"Justru aku ke sini mau memberimu uang, ini!" Gunawan mengeluarkan amplop setebal sekitar sepuluh senti. Aku khawatir ini suap. Meski, disuapi berarti menyenangkan.

Gunawan kini mengambil sikap yang sangat bersahabat:

"Aku dengar kabar bahwa kamu masih mengontrak rumah bersama istri dan anakmu yang masih kecil, sementara kamu di sini belum lagi diangkat jadi pegawai tetap. Aku memang tidak mendapat pekerjaan, tetapi aku punya pekerjaan sendiri dan mempekerjakan orang lain. Kamu tahu? Aku punya pabrik bulu mata palsu dan enam toko elektronik sekarang. Aku sengaja ingin janjian sama kamu untuk mengingatkan soal ijazah ini, sebab di antara teman yang lain, kamulah yang berkesempatan mengajar. Kamulah yang akan memainkan peran pada masa depan sekian banyak orang. Jangan sampai kamu beri mereka ketidakpastian. Aku tidak punya janji dengan Pak Rektor atau siapalah itu. Mereka tidak akan memberi ganti atau sejenisnya. Kita ini pernah bermain teater, bukan? Sekarang, tanpa mengurangi rasa hormat, ambillah ini, jika butuh apa-apa, silakan hubungi. Salam buat anak dan istrimu. Aku tidak bisa lama, ada urusan bisnis ke Singapura."

Sebuah pukulan lain menghancurkan jiwa-ragaku yang lain. Melampaui soal ijazah atau pekerjaan atau uang. Tetapi, istriku.

Istriku saat ini adalah mantan pacar Gunawan, yang dahulu pernah kuselingkuhi dan aku babak-belur jadinya.

Jangan-jangan diam-diam dia mengadukan semua hal yang kami alami pada Gunawan?

(2018)

Eko Triono menulis cerita dan esai. Buku cerpennya Agama Apa yang Pantas bagi Pohon-pohon? (Divapress, 2016) memenangkan Buku Sastra Terbaik Balai Bahasa Yogyakarta 2017, dan finalis Kusala Sastra Khatulistiwa 2016; kumpulan cerpennya yang lain berjudul Kamu Sedang Membaca Tulisan Ini (Basabasi, 2017); novelnya Para Penjahat dan Kesunyiannya Masing-masing (Gramedia, 2018) adalah Pemenang III Unnes International Novel Writing Contest 2017

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com


(mmu/mmu)

FOKUS BERITA:Cerpen detikHOT
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed