DetikHot

art

Semangka dalam Mangkuk

Sabtu, 06 Jan 2018 10:02 WIB  ·   Mashdar Zainal - detikHOT
Semangka dalam Mangkuk Ilustrasi: Nadia Permatasari/detikcom
Jakarta - Aku tak pernah bisa memahami hati lelaki. Semula aku mengira hati lelaki dan hati perempuan adalah hati yang sama lantaran mereka sama-sama manusia. Tapi rupanya tidak. Mungkin hati lelaki diciptakan dalam bentuk yang berbeda. Dan mungkin dari sesuatu yang berbeda. Entahlah.

Malam itu, kami berbaring miring di atas ranjang, saling berhadapan dan bergenggaman tangan. Seakan telah lama sekali kami tidak bertemu dan saling berhadapan. Kesibukannya dari waktu ke waktu bagai sebuah sekat yang menghalangi kami. Hingga malam itu, seolah kami baru bertemu lagi. Ia menatap mataku lekat-lekat, dan berbisik, "Sudah lama sekali aku ingin mengatakan sesuatu."

Terdengar romantis pada awalnya.

"Katakan saja!" sahutku.

"Tapi kau harus berjanji."

"Berjanji apa?"

"Setelah kau mendengar apa yang kuutarakan, kau tak boleh membenciku, kau tak boleh berhenti mencintaiku, dan kau tak boleh menuduh bahwa aku telah berubah, karena perasaanku padamu takkan pernah berubah. Kau tak boleh menuduhku begitu, meski dalam hati, meski tak kau ucapkan. Tapi kau boleh marah. Ya, kau boleh marah."

"Sepertinya kau serius sekali."

"Aku memang serius. Serius sekali."

"Kalau begitu cepat katakan!"

Ia masih menatap mataku dalam-dalam. Aku membalas tatapannya, seakan kami saling menyelami jiwa masing-masing lewat tatapan itu. Ia tampak menelan ludah, jakunnya turun naik satu kali, lalu ia mengatakannya, "Apa kau akan mengizinkan, kalau aku menikah lagi?"

Kata-kata itu. Detik pertama setelah mendengarnya, aku masih mengira ia mengucapkan kata-kata yang salah, "Apa kau bilang?"

Dan ia mengulangnya lagi dengan jelas, masih dalam keadaan berbaring, miring, saling berhadapan. "Apa kau akan mengizinkan, kalau aku menikah lagi?"

Setelah kata-kata yang kedua itu, pikiranku melayang-layang, membayangkan ia telah berduaan dengan seorang perempuan yang entah siapa dan di mana. Menerka-nerka, apa saja yang sudah mereka lalui berdua, tertawa, menangis, menyimpan sebuah rahasia, dan mungkin… dan mungkin… Semua itu ia lakukan di luar sepengetahuanku. Saat aku berjibaku dengan rasa lelah yang kusimpan sendiri, ketika mengurus anak-anak, menyelesaikan segunung pekerjaan rumah, hingga rasanya tulang-tulangku ini retak semua sangking lelahnya.

Aku mengambil posisi dukuk dan memeluk lutut. Melihatku terdiam dan mungkin sedikit gemetar. Ia berbisik ke telingaku untuk ketiga kalinya, "Apa kau akan mengizinkan, kalau aku menikah lagi?"

Telingaku berdengung dan terasa panas. Ia mengulangnya tiga kali. Seakan hal itu sangat penting baginya. Mungkin itu memang sangat penting baginya. Aku masih tidak menjawab. Karena, air mataku luruh begitu saja. Aku memeluk lututku yang terus gemetar. Tapi sepasang tangan rapuh yang memeluk itu ikut gemetar. Ada sesuatu yang mengguncangnya.

"Aku akan melihat anak-anak," ujarku mengalihkan pembicaraan sambil siap-siap beranjak dari ranjang. Tapi ia mencekal lenganku.

"Anak-anak sudah tidur. Tidakkah kita bisa membicarakan ini dengan damai?" ujarnya, seolah-olah tengah membicarakan persiapan pergi piknik.

Aku mengusap air mataku. Dan belum mengucapkan sepatah kalimat pun untuk menjawabnya. Ia bergerak mendekat, lalu merangkulku. Beberapa detik, lalu menatapku dengan air mata mengembang pula. Bagaimana lelaki ini melakukannya? Aku pernah mendengar sebuah ungkapan air mata buaya. Seperti itukah bentuknya? Tapi sungguh, kejam sekali memandang lelaki yang kuhormati dan sangat kucintai ini sebagai seekor buaya. Lalu apakah ini?

"Ini juga sulit bagiku, percayalah!" sambungnya. "Sekarang tenangkan dirimu, dan mari kita bicara baik-baik. Aku sudah bilang di awal, kau boleh marah. Sangat boleh. Tapi kumohon jangan membenciku dan menganggapku telah berbuat macam-macam."

"Aku yakin kau serius. Kau mengatakannya sebanyak tiga kali," kataku dengan suara goyah, "Jadi kau benar-benar ingin menikah lagi? Oh, entahlah, aku tak menduga akan membicarakan hal seperti ini denganmu. Dalam waktu yang sangat cepat. Yang kau lalukan padaku mirip seperti memasukkan daging beku yang baru kau ambil dari mesin pendingin, lalu mencemplungkannya ke dalam air mendidih di atas kompor. Ya Tuhan, bicara apa aku ini. Aku melantur, ya? Pasti aku berbuat salah lagi."

Ia menatapku, lalu berkata, "Gadis itu mahasiswaku, ia perempuan baik-baik, persis sepertimu. Dan yang harus kau tahu, kami belum pernah melakukan apapun, kami tak pernah pergi berdua-duaan, bahkan kami tidak saling bersentuhan, apalagi yang lebih dari itu. Dan harus kau ingat, perasaanku padamu tidak pernah berubah, tidak bergeser sedikit pun, aku mencintaimu seperti pertama kali aku mencintaimu. Aku menyayangimu seperti anak-anak kita, keluarga kita. Dan aku memuliakanmu seperti memuliakan para ibu," ia terdiam sebentar, menunduk, lalu mengangkat muka lagi, "Aku hanya mencoba berkata jujur. Kita telah hidup hampir sepuluh tahun. Dan selama ini, aku selalu berusaha untuk tidak berkata bohong padamu, meski itu sekadar gurauan."

"Aku percaya padamu! Tapi keputusan itu takkan berubah, bukan?"

"Yang kuucapkan bukanlah kalimat keputusan, tapi kalimat pertanyaan. Itu sebuah permohonan izin. Aku tak mau bermain kotor di belakangmu, karena itu tak benar, aku tahu itu akan menyakitimu. Sebab itu, aku memohon izin."

"Jadi, kau benar-benar ingin menikah lagi? Dan kau sudah jatuh cinta pada gadis itu bukan? Apa kau benar-benar jatuh cinta pada gadis itu?"

Ia mengangguk pelan. Seakan-akan takut itu akan menyakitiku.

"Baiklah, kau jatuh cinta pada gadis itu. Itu yang sangat menyakitiku. Kau sudah menyakitiku."

"Aku minta maaf."

"Aku memaafkanmu. Tapi aku tak tahu cara mengusir rasa sakit ini. Rasa sakit, yang rasannya, seperti menyuruhku untuk membencimu, bahkan mengutukmu."

Silih ia yang membisu.

"Jadi, jawaban apa yang ingin kau dengar?" ujarku lagi.

Ia masih membisu.

"Tak seorang perempuan pun di dunia ini akan menjawab pertanyaan seperti itu, bahkan mereka tak ingin mendengar pertanyaan sepert itu. Kalaupun mereka menjawabnya, mereka bukannya rela, tapi merelakan. Itu tak sama. Entahlah, ini cukup rumit. Aku ingin bisa memahamimu. Tapi aku masih kesulitan. Entahlah, mungkin berita ini terlalu mendadak atau bagaimana. Tapi sungguh, aku yakin aku akan kesulitan memahamimu. Aku akan kesulitan memahami hati lelaki."

Ia masih belum berkata sedikit pun, sepertinya ia sengaja memberiku ruang untuk menumpahkan kemarahan dan segalanya.

"Bagaimana mungkin seseorang bisa mencintai dua orang sekaligus. Itu pertanyaanku. Bagaimana kau bisa mencintai dua orang sekaligus? Oh tentu saja bisa, kau memiliki dua anak, dua ibu, dua ayah, dan aku yakin kau sangat mencintai mereka, semuanya. Tapi ini berbeda. Pasangan hidup bukanlah anak atau orangtua. Pasangan hidup adalah tempat di mana kau meletakkan hatimu padaanya dan ia meletakkan hatinya padamu. Aku menyebutnya saling tukar menukar hati. Itulah yang terjadi dengan dua orang yang saling jatuh cinta. Tukar menukar hati.

"Sebab itu, aku bertanya, bagaimana mungkin seseorang bisa mencintai dua orang sekaligus. Ketika kita jatuh cinta dan kemudian menikah, kubayangkan hatiku telah kucabut dari tempatnya dan kuletakkan di sebuah tempat yang seharusnya menjadi tempat bagi hatimu, sebuah tempat dalam tubuhmu, dan begitu sebaliknya. Hatimu telah menempati tempat di mana seharusnya hatiku berdiam. Itulah sebabnya aku menyukai apa-apa yang kau sukai, aku membenci apa-apa yang kau benci. Jika hatiku terluka, hatimu pun terluka. Jika hatimu berbunga, hatiku pun berbunga.

"Tapi, ketika kau bilang ingin menikah lagi, kau jatuh cinta pada perempuan lain lagi, aku membayangkan kau merogoh hatimu yang sudah kau letakkan dalam sebuah tempat di tubuhku, lalu memberikan hati itu pada gadis yang baru-baru ini kau cintai. Atau kalau tidak, kau akan membelah hati itu menjadi dua, separuh kau berikan pada gadis itu, dan separuh lagi kau sisakan untukku. Sebuah hati. Tepatnya separuh hati. Hati yang terbelah. Dan mungkin ia akan selalu berdarah, karena telah dibelah. Sementara itu, aku masih belum paham, bagaimana kau akan meletakkan hati gadis itu pada sebuah tempat tubuhmu, sementara tempat itu telah kutempati? Apa kau akan menciduk hatiku yang ada di situ, lalu membuangnya entah ke mana, dan menggantinya dengan hati gadis itu, yang sama sekali masih baru dan berbunga-bunga? Apakah begitu? Atau kau akan menjejalkannya secara paksa? Dua hati dalam satu wadah? Tidakkah kedua hati itu akan hancur atau terlempar salah satunya karena tempat yang tidak muat? Atau, mungkin hati lelaki memang berbeda dengan hati perempuan?

"Tapi, kalau hati lelaki dan hati perempuan itu sama, berarti kau seperti berusaha menaruh dua buah semangka dalam satu mangkuk. Hanya salah satunya yang akan mengisi. Sementara yang lain akan menggelinding pergi. Maaf, sepertinya aku terlalu banyak membaca novel. Entahlah, aku sudah terlalu banyak melantur. Jadi, kau sudah tahu jawabanku yang sejujurnya. Semua kukembalikan padamu! Kalaupun kau benar-benar akan membelah hatimu yang sudah kau titipkan padaku, menjadikannya dua bagian, aku tak bisa berjanji akan merawat hati yang tersisa itu dengan baik, karena hati itu sudah tidak utuh lagi, hati itu sudah terbelah. Aku tak tahu apakah ia akan bisa bertahan tanpa kehabisan darah. Yang jelas, hati yang kutitipkan padamu akan selalu utuh, sampai kapanpun, bahkan setelah hati itu kau buang diam-diam dari tempatnya karena ada hati yang baru yang lebih segar. Untuk memahami ketidakpahamanku ini, mungkin kau bisa membayangkan dirimu berada di tempatku."

Setelah kata-kata itu, aku terdiam. Bisu sempurna. Ia sepertinya juga tak bisa berkata apa-apa. Pada detik-detik yang hening itu, aku mendengar suara balitaku merengek dari kamar tidurnya. Aku pergi meninggalkannya yang terpancang seorang diri di atas ranjang. Duduk diam, menatapku pergi menjauh. Malam itu, aku tertidur di kamar anakku. Aku menatap wajah mungil yang lelap di hadapanku sambil membayangkan diriku yang terbungkuk-bungkuk merapikan serpihan hatiku sendiri yang telah berkeping-keping. Entah apa yang terjadi dengan hati lelaki itu pada menit-menit panjang selanjutnya. Malam itu, rasanya telah menjadi malam paling panjang yang pernah kami lalui. Hingga pada pagi buta ia membangunkanku. Mengajakku sembahyang. Lampu dapur telah menyala. Menguarkan aroma nasi matang dari mesin penanak. Mesin cuci di dapur juga sedang bekerja.

Lelaki itu berujar, dengan suara gamang penuh getaran, "Sebagai permintaan maaf, aku yang akan membuat sarapan, mencuci piring, membersihkan lantai, dan mengoperasikan mesin cuci selama seminggu ke depan."

Ia berdiri di ujung meja makan, mengelap piring dan sendok. Aku hanya menatapnya. Ia menghentikan gerakannya dan berkata lagi, "Jangan menatapku begitu! Kau tak percaya? Baiklah, aku akan berjanji bangun lebih pagi supaya tak terlambat kerja."

Dari ujung meja makan yang lain, aku dapat menilik sepasang matanya yang lelah, sepertinya semalam ia tidak bisa tidur. Di atas meja, telah terhidang aneka lauk, senampan puding berwarna merah jambu, serta buah semangka utuh yang sudah dikupas rapi dalam sebuah mangkuk.

"Kau benar, dua buah semangka tak akan muat dalam satu mangkuk!" lanjutnya.

Malang, 2017

Mashdar Zainal lahir di Madiun, 5 juni 1984; suka membaca dan menulis puisi serta prosa. Tulisannya terpercik di beberapa media. Novel terbarunya berjudul Garnis (2016). Kini bermukim di Malang


Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter
detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com



(mmu/mmu)

FOKUS BERITA:Cerpen detikHOT
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed