DetikHot

art

Jendela Kereta

Sabtu, 09 Des 2017 11:40 WIB  ·   Magdalena I. Ovi - detikHOT
Jendela Kereta Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta - Jendela kereta adalah layar terindah. Aku sanggup selama lima jam perjalanan hanya dengan memandang ke jendela. Jalan yang sama yang kulewati namun pemandangan yang berbeda kudapatkan setiap pekan. Iya. Setiap pekan. Aku salah satu anggota manusia PJKA (Pulang Jumat Kembali Ahad), pekerja perantauan, ibu dari dua anak perempuan, Arimbi dan Iswara. Senin sampai Jumat merantau; Jumat sore mengejar kereta, pulang menemui keluarga, lantas kembali pada Ahad. Begitulah sudah kujalani dua tahun ini.

Dan, jendela kereta api yang kutumpangi selalu menayangkan pertunjukan layar kaca dengan berbagai scene dalam setiap perjalanan pulangku.

"Sendiri?" pria di sebelahku mulai mengganggu. Terkadang aku berniat membeli dua tiket khusus untuk mengosongkan bangku sebelahku. Tapi uangku tidak sebanyak itu hingga pasang headset, pura-pura tak mendengar cara paling mungkin. Walau kabel headset itu hanya menempel di telinga tanpa kuputar apapun.

Dari ujung mataku terasa pria di sebelah menyelidik mencari tahu, apa gerangan yang membuatku menumpu pandangan ke jendela kereta. Terpaku.

***

Rintik hujan di kaca jendela adalah pembuka episode hari ini. Telapak tangan mungil menempel di kaca yang basah, lantas mengusap berputar sehingga seraut wajah tampak menempel di sana. Aku tersenyum. Wajah yang menempel di kaca jendela itu memicingkan mata berusaha melihat ke dalam, namun sepertinya cahaya luar dan tetesan hujan mengganggunya.

"Ibu!" teriaknya sambil menggedor kaca jendela, "Bukakan pintu!"

Aku sangat akrab dengan raut gadis kecil di layar kaca jendela kereta itu. Dia salah satu tokoh serial layar kaca jendela kereta yang canggih ini. Lebih canggih dari smartphone dan gawai tablet mana pun. Dia bisa membaca arah pikiranku. Di sisi lain dia memberi kejutan-kejutan padaku dengan adegan atau tema yang tak terduga. Aku dibawa menjelajah ke ruang-ruang waktu, terowongan masa yang sepertinya bisa kutebak kelanjutannya, namun tetap aku seringkali dibuat terkejut olehnya.

Kereta menyusuri perkampungan. Rel berderit berusaha tetap menegakkan posturnya, untuk meyakinkan para penumpang, bayaran tiket adalah sepadan. Masih kokoh dan kuat, kereta memperlambat lajunya ketika berusaha menerobos lorong perkampungan yang kian menyempit. Gadis kecil tadi terlihat masih berusaha menghindar dari hujan, dan terus menggedor pintu rumahnya.

"Ibu!"

Pintu terbuka. Wanita yang —belum tampak jelas wajahnya— membukakan pintu itu, kembali menutup pintu rumahnya. Dari atas loteng rumah, gadis kecil yang setengah basah itu sudah kembali muncul. Di atas genteng dia berteriak, "Aku temukan layang-layangnya…"

Aku terhenyak. Seperti tak asing perkampungan ini. Aku dan Luki teman kecilku. Kami berdiam di loteng rumah, memandang tetangga-tetangga lain yang sudah pergi. Sederet telah berganti menjadi tembok tinggi panjang. Dan di balik tembok, traktor, paku bumi, pekerja-pekerja yang sibuk membangun halaman untuk gedung yang konon tertinggi di kota ini.

Kereta api menyusup ke gang sempit, anak-anak mabuk lem di lorong-lorong gelap, mereka tak lagi punya tanah lapang. Perkampungan itu kehilangan setengah cahaya mentari yang tersekap di balik gedung yang tak hanya tinggi, tapi meraup langit angkasa.

Seorang renta meraih tongkat bambu gemetar demi melayangkan selembar jariknya yang basah ke atas genteng, mencari sepapar sinar matahari. Wanita belia merapatkan jaket menyamar pria saat pulang kerja tengah malam menghindar dari segerombolan di ujung gang. Seorang pria mengendap-endap keluar dari rumah pacar gelapnya. Remang-remang, Tanpa sadar aku telah tersandar di sebilah bahu datar.

***

"Oh, maaf…" baru kusadari, pria di sampingku bukan lagi pria tadi, atau kemarin, atau pekan lalu. Aku tak lagi ingat saat ini Jumat yang ke berapa aku di atas kereta yang sama, sejak kepindahanku dua tahun yang lalu.

Pria di sampingku, mungkin sudah 60 tahun lebih usianya. Darinya aku bisa mencium aroma parfum yang tak lazim. Bukan wangi. Tapi aroma yang menenangkan. Seperti tangerine. Atau, patchouli. Entahlah.

Kutegakkan kembali badanku yang sempat lelap sesaat di bahu pria itu. Tanpa sempat kusadari napas panjang terhela dari dadaku. Jendela kereta dipenuhi bintik-bintik gerimis. Langit senja membias, menjatuhkan cahaya keemasannya. Gerimis menjelma benik-benik jingga.

"Kamu yakin?" suara suamiku menanyakan untuk ke sekian kalinya.

"Sudah terjadi, ya harus yakin," jawabku.

"Dengan alasan kesehatan kita sebenarnya bisa membatal…"

Jangan!" sahutku, "Nyawa sudah ditiupkan, ini sudah takdir. Kita akan teruskan."

Dan, begitulah aku hamil lagi anak ketiga. Dengan setiap akhir pekan perjalanan 317 km (kurang lebih), dan kembali akan kuhadapi pre-eklamsia.

"Ibu tak boleh hamil lagi ya," tandas obgyn-ku. Tapi kehidupan bukan dia yang menentukan. Maka tetap kusandang janin ini sebagai tebusan.

"Kenapa ibumu?" tanya Luki sahabat kecilku.

"Tidak kenapa-napa," jawabku memandang langit yang menjelma langit-langit.

"Kudengar ibumu hampir mati," mendengar kata-kata Luki aku merasa seperti ada yang menyengat ubun-ubun dan ulu hatiku.

"Kalau masih hampir berarti itu omong kosong," tandasku.

***

Air yang bergulir di tepian kaca jendela kereta bagai membentuk garis wajah. Ayu nan langsat kulitnya. Walau dahinya selalu berkerut, dan mata kelabu menyandang suramnya pemandangan hidup. Ibuku tak banyak bicara. Namun, kalbunya bagai lorong dengan dinding menjurus dalam kekelaman penuh pahatan kasar aksara serapah.

Guliran air gerimis mengaliri pipinya berbaur dengan air mata. Dan, tak seruas jari pun menyambut turut mengusapnya. Tak juga jariku.

Jendela kereta membawa paras ayu nan langsat kulitnya ke penjuru perkampungan yang kumuh dan pengap. Hingga tak sanggup lagi aku memandangnya. Ingin kuubah channel pertunjukan layar kaca jendela ini. Namun, nyatanya tetap kuhadapi raut wajah bermata kelabu menyandang suramnya pemandangan hidup, hingga yang paling sanggup kulakukan adalah membayangkan, siapakah gerangan yang akan menjemputku nanti?

Apakah suamiku akan membawa Arimbi dan Iswara? Atau, dia hanya sendirian membawa dirinya dan pandangan mata hangatnya yang selalu menyelamatkan penatku? Nyatanya, yang kudapati kembali wajah ayu nan langsat kulitnya, walau dahinya selalu berkerut, dan mata kelabu menyandang suramnya pemandangan hidup. Ibuku.

***

Langit berhenti merintih. Langit lelah abu kemerahan menyisakan aroma tanah basah yang menyelip di sela jendela kereta. Senja merah menjelma gelap. Aku menatap perkampungan yang diterangi lampu-lampu remang. Lantas kulihat ayahku, dalam upayanya tetap menemani ibu. Walau dalam padanya tak pernah menyatu. Aku menyeka batinku yang mengisak. Kenapa ada cinta dalam pertahanan rasa muak?

"Tak berhenti doaku semua anak-anakku tak akan memahami batinku, jangan ada yang memahami batinku, cukup kalian tahu saja... Pahami segala yang indah saja," bisik ibuku dalam beberapa kali usapan tangannya dalam tidurku.

Dan, layar kaca jendela kereta memampang langit malam yang gelap gemerlap berkalung gemintang berbandul purnama. Kereta api merambat memasuki gerbang kota. Menyusuri halaman gedung putih hijau. Gedung dengan ruang-ruang kaca transparan. Aku bisa melihat orang berlalu lalang dalam kepanikan layaknya instalasi gawat darurat. Kereta masuk ke lorong gedung. Kulihat ibu mertuaku duduk dipeluk iparku. Sebuah ruangan transparan memunculkan Arimbi dan Iswara. Mereka tak tambak bahagia. Tapi juga tak terlihat berduka. Mereka hanya lelah. Aku meraba jendela. Hatiku berdesir saat kutemukan suamiku duduk di tepi tempat tidur. Jemarinya bertautan. Siapa yang sedang ditungguinya? Seorang terbaring dengan selang dan entah alat apa di wajahnya. Kudekatkan diriku untuk mencari tahu, siapa gerangan dia yang terbaring di samping suamiku?

Tubuh wanita yang tak kukenal, tapi wajah itu…

"Betha… pulanglah…" suamiku menautkan jemarinya di sela jemari wanita yang terbaring itu. Betha… Kenapa dia memanggilku?

"Badannya membengkak, seperti waktu hamil Arimbi dan Iswara," desis mertuaku saat ada kerabat yang datang, "Dokter bilang sudah tak boleh lagi hamil, tapi semua sudah telanjur..."

Isak tangis memecah. Suamiku bergumam menyebut nama Tuhan. Aku mendapati wajahku membayang di kaca jendela kereta. Wajah itu terbalut alat bantu pernapasan. Dirikukah itu? Tuhan menorehkan tanda koma di wajahku.

***

Aku berdiri dari kursiku. Kupandang lekat-lekat pria di sampingku.

"Pak… Sudah sampai, Pak?"

Pria beraroma tangerine itu mengangguk.

"Saya antar kamu…" detik berikutnya sudah kudapati dia menggandeng tanganku.

"Suami saya mana, Pak?" tanyaku mulai panik tanpa aku sanggup melepas tanganku darinya.

Pria itu menjawab dengan cara mengarahkan tangannya ke jendela kereta yang lain. Kudapati jendela kereta lebar menganga.

Suamiku berdiri di ambang jendela. Tangannya menjulur. Sangat lekat kudengar, "Pulanglah…"

Kurasakan tangannya mengusap tanda koma di wajahku. Berangsur pudar dari perlekatannya hampir tiga hari perjalanan pulang terpanjang kereta apiku.


Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com



(mmu/mmu)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed