DetikHot

art

Sirin Menjadi Pohon

Sabtu, 18 Nov 2017 10:50 WIB  ·   Kiki Sulistyo - detikHOT
Sirin Menjadi Pohon Ilustrasi: Nadia Permatasari/detikcom
Jakarta - Sirin tenggelam. Danau tenang beriak sebentar. Danau di sebelah selatan lembah dan rumah-rumah. Matahari juga hampir terbenam. Warna magenta memancar dari angkasa seakan-akan sebatang pohon menggugurkan bunga-bunganya dari atas sana. Tekanan air mendesak dada Sirin. Secara alami perlawanan tubuhnya atas ancaman kematian membuat ia menggerak-gerakkan tangan dan kaki. Tapi dua pasang tangan dan kaki itu terikat pada tiang kayu. Ia rasakan pelan-pelan, jalan pernapasannya menyempit. Segala sesuatu menjadi kabur. Ia rasakan ada yang bergerak di dalam dirinya. Segumpal daging. Bukan. Lebih seperti segumpal asap.

Suatu malam jauh sebelum peristiwa itu, dari balik rimbun belukar, Morkopio berkata, "Kau terlambat." Sirin memang terlambat kembali ke rumah. Ketika pucuk-pucuk pegunungan mulai samar oleh selimut kabut, Sirin masih cukup jauh dari rumah. Ia mencari tanaman legundi untuk bahan obat. Sirin senang mencium daun legundi yang mirip kemangi tapi lebih pekat dan tajam. Menguarkan aroma pahit yang segar. "Bantu aku membawa kelinci-kelinci ini. Kau lihat, kakiku terluka ketika berburu tadi," lanjut Morkopio. Sesaat, antara terkejut dan lega, Sirin melihat kilatan aneh pada mata Markopio.

Sirin mengenal Markopio dari seorang kawan, ketika di masa persembunyiannya, ia harus pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Kawan itu membawa Sirin ke permukiman di lembah ini. Suatu kawasan kecil yang tampak ganjil karena dari arah mana pun orang luar tidak akan tahu bahwa di balik rimbun hutan bakal ada permukiman. Bisa dikatakan suatu tempat sempurna bagi seseorang yang sedang dikejar-kejar algojo. Perlawanan Sirin dan kawan-kawannya yang cukup keras pada perusahaan penambangan raksasa mengharuskannya tetap sembunyi. Dibanding tempat-tempat persembunyian lainnya, permukiman di lembah ini terasa sangat nyaman.

Markopio sepertinya adalah pemimpin di kawasan ini. Dalam hati, Sirin tak bisa menampik bahwa ada hal yang tak wajar pada lelaki ini. Dia seperti gabungan antara benda mati dan manusia purba. Rambutnya selalu kusut dan kasar bagaikan ijuk. Cambang dan bulu-bulu di tubuhnya dibiarkan begitu saja, tak pernah dirapikan. Punggungnya sedikit bungkuk, dan keseluruhan anatominya tampak kasar seakan-akan ia mengenakan kerangka manusia zaman batu. Markopio juga tak pernah bicara banyak. Bila tak sedang berburu dia duduk-duduk saja di bawah pohon besar dekat rumah. Pada saat itu Markopio akan kelihatan serupa binatang yang diawetkan.

Semula terbit keraguan dalam diri Sirin untuk tinggal di permukiman ini, apalagi ia diharuskan tinggal bersama Markopio. Bagaimana pun juga, Sirin seorang perempuan, dan Markopio adalah laki-laki yang hidup sendirian. Tapi karena tak ada pilihan lain, Sirin menurut saja. Kenyataannya keraguan itu tak terbukti, jangankan bersikap tidak baik pada Sirin, Markopio bahkan berlaku seolah-olah tidak ada Sirin di rumah itu. Sirin harus mengurus semua keperluannya sendiri.

Sebelum meninggalkannya, kawan Sirin –yang sebelah matanya ditutup kain hitam, seperti bajak laut dalam komik- sempat berpesan agar Sirin tidak terlalu sering keluar rumah. Harus tetap waspada meskipun tempat itu sangat jauh dari keramaian. Sesekali Sirin berjalan-jalan. Permukiman ini tak luas, hanya beberapa orang saja yang pernah ditemuinya. Rumah-rumah mereka juga selalu sepi. Sirin bahkan tidak pernah melihat ada anak-anak. Orang-orang itu bercocok tanam, berburu hewan pengerat, dan sekali waktu membawa pulang ikan. Selebihnya, Sirin tidak tahu aktivitas mereka.

Setelah waktu berlalu timbul keinginan Sirin untuk melakukan sesuatu. Dia seorang botanis, ahli tanaman yang punya ketertarikan khusus pada tanaman obat. Suatu kali ia melihat seorang laki-laki yang sedang membawa ikan berjalan tertatih-tatih. Pada betisnya terlihat luka yang cukup lebar. Darah merembes dari daging koyak itu. Dengan sigap Sirin mencari daun Tapak Kuda untuk mengobati luka laki-laki itu.

Sejak itu, di saat-saat tertentu orang-orang datang ke rumah untuk minta obat. Di satu sisi hal itu menyenangkan buat Sirin, tapi di sisi lain itu mengkhawatirkan, mengingat dirinya akan makin dikenal, dan bisa saja itu membahayakan keselamatannya. Lagi pula apa yang dilakukannya belum mendapat persetujuan dari Markopio. Meski pun lelaki itu diam saja, Sirin merasa harus menjelaskan posisinya.

Pada suatu sore Sirin mendapat kesempatan bicara dengan Markopio. Setelah kecanggungan yang singkat, di luar dugaan, Markopio ternyata enak diajak bicara. Dia membebaskan Sirin untuk melakukan apa saja. "Toh, itu hanya untuk sementara, bukan?" katanya. Dalam waktu singkat mereka sudah terlibat dalam pembicaraan serius. Pikiran Markopio cukup terbuka, wawasannya juga luas. Sirin tidak tahu dari mana Markopio memperoleh semua itu. Mungkin dulu dia juga seorang aktivis, kata Sirin dalam hati.

"Apa Bung punya keluarga?" tanya Sirin tiba-tiba. Suasana percakapan seketika berubah. Air muka Markopio meredup. Sirin agak menyesal mengajukan pertanyaan itu, buru-buru dia berkata, "Maaf, tidak apa-apa jika tidak berkenan menjawab." Tapi Markopio menjawab, "Tidak, aku tidak punya keluarga." Sirin menatap Markopio lekat-lekat. Mata mereka bertemu, ada kilatan aneh di mata Markopio. Sejak itu Markopio tak pernah lagi bicara dengan Sirin.

Sampai malam di mana Sirin kembali melihat kilatan aneh di mata lelaki itu.

***

Sirin mengambil dua ekor kelinci mati dari tangan Markopio. Bulu kelinci yang putih kotor oleh noda darah. Di tangan Sirin, tubuh kelinci-kelinci itu seperti gumpalan kain basah. Daun-daun legundi dalam kantung pandan disampirkannya di pundak. Ia lihat Markopio menunduk. Suatu sayatan cukup lebar terlihat di betisnya. Dalam remang malam darah yang keluar dari sayatan itu berwarna biru. "Jalan duluan," kata Markopio. Tak berapa lama setelah meninggalkan Markopio,

Sirin mendengar suara-suara di belakangnya. Ia menoleh, tak ada siapa-siapa. Tapi suara yang terdengar tadi sangat dekat. Mungkin suara binatang di semak-semak, pikir Sirin. Sirin tak lagi menghiraukan suara-suara itu, tetapi kemudian ia merasakan embusan napas kasar di tengkuknya. Sirin yakin bahwa ada seseorang –oh tidak, beberapa orang- sedang berada di belakangnya. Ketika ia menoleh, ia rasakan tubuhnya terdorong dengan keras. Kelinci di tangannya terlepas, daun-daun legundi dalam kantung pandan berhamburan. Tubuh Sirin telungkup membentur tanah, ketika ia membalikkan tubuhnya, sesuatu yang tak terlihat menindihnya. Leher Sirin seperti tercekik, seluruh sendi-sendinya seakan terkunci. Ia seperti merasakan sesuatu yang tak terlihat itu memasukkan lembing ke dalam tubuhnya. Lalu lembing itu ditarik kembali, dan jiwa Sirin turut bersamanya.

Markopio muncul tiba-tiba beberapa saat kemudian. Sirin merasa seperti baru saja terbangun dari tidur. Ia mencium bau amis. Sirin memeriksa tubuhnya. Tak ada yang luka, tak ada rasa sakit. Bau amis itu berasal dari kelinci hasil buruan Markopio. Tas berisi daun legundi masih tersampir di pundaknya. "Kenapa berdiri di situ, ayo jalan," kata Markopio.

Setelah peristiwa itu, Sirin sering kehilangan kesadaran. Tubuhnya melemah, seakan-akan ada sesuatu yang menyedot tenaganya. Ingatannya memudar. Ia susah membedakan kenyataan dan halusinasi. Orang-orang di permukiman dilihatnya berjalan tanpa menyentuh tanah, wajah mereka sama semua, dan mereka bicara dengan bahasa yang tak lagi dimengertinya. Lalu pada suatu hari Sirin terjaga dari tidurnya, dan tak menemukan siapa-siapa di pemukiman itu. Tempat itu bahkan bukan lagi pemukiman. Rumah dan orang-orang telah lenyap. Sirin sendirian di tengah belantara lebat. Kengerian mencengkeramnya, lalu Sirin tak sadarkan diri dan sesaat setelah terjaga ia sudah terpancang di sebuah tiang kayu, tepat di tengah danau. Ia tidak tahu bagaimana bisa berada di situ. Sirin melihat permukaan danau yang demikian tenang sampai-sampai dia mengira itu bukanlah danau, melainkan lembaran langit yang terlepas.

Tiang itu perlahan-lahan miring ke depan seperti tak bisa lagi menahan beban. Tubuh Sirin menyentuh air, lalu tenggelam sedikit demi sedikit. Permukaan danau beriak sebentar. Di dalam air, Sirin hampir kehilangan kesadaran. Ia tak merasakan lagi bobot tubuhnya. Ia ringan seperti segumpal asap. Tubuh Sirin seperti terapung-apung dalam cahaya. Perasaan itu demikian lama, seakan-akan berlangsung selamanya. Lalu ia rasakan kakinya tertancap di dasar danau, tubuhnya bergerak meninggi. Menembus permukaan danau, tubuhnya terus bergerak naik. Sirin dapat merasakan udara malam, dapat merasakan kehadiran bintang-bintang.

Tiba-tiba gerakan tubuhnya berhenti. Danau di bawahnya lenyap seakan menguap begitu saja. Sirin melihat langit begitu dekat. Bulan keluar dari perangkap awan. Baru kali ini ia melihat bulan demikian besar. Dari kejauhan Sirin mendengar suara dengung samar-samar dari barisan manusia yang bergerak di bawahnya. Orang-orang itu tampak begitu kecil seperti liliput. Mereka membawa obor dan kapak. Lelaki yang berjalan paling depan, berhenti tepat di bawah kaki Sirin. Ia mengenali lelaki itu sebagai kawannya, yang sebelah matanya ditutup kain hitam. Lelaki itu mengucapkan kata-kata yang tak dimengertinya, sebelum mengayunkan kapak ke kaki Sirin persis seperti orang sedang menebang pohon.

Kekalik, 2017

Kiki Sulistyo lahir di Kota Ampenan, Lombok. Menulis puisi dan cerpen. Buku puisinya yang telah terbit Penangkar Bekisar dan Di Ampenan, Apa Lagi yang Kau Cari? Ia mengelola Komunitas Akarpohon di Mataram, Nusa Tenggara Barat

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com

(mmu/mmu)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed