DetikHot

art

Di Mana Kodok di Musim Gugur di Washington?

Sabtu, 11 Nov 2017 10:35 WIB  ·   Ucu Agustin - detikHOT
Di Mana Kodok di Musim Gugur di Washington? Ilustrasi: Nadia Permatasari/detikcom
Jakarta - Kartik menempelkan pipinya ke kaca jendela. Bus berjalan tenang melintas jalan-jalan di seputaran Connecticut Avenue dan Woodley Park lurus menuju Macomb Street. Pohon-pohon di luar sana sudah memerah, menguning, menggugur, dan orang-orang yang berkelebat menyeberang jalan tampak seperti pemandangan dalam lukisan yang romantik. Cahaya sore membayang berkemilau jatuh, daun-daun coklat kering bertabur ke arah si penyeberang, angin meliukkan dahan-dahan kecil yang rapuh di pohon penuh ranting sesuka hatinya. Di mana kodok di musim gugur di Washington DC?

Kodok melintas begitu saja di kepalanya karena beberapa jam lalu di kelas, Kateøina baru saja mempresentasikan puisi Jan Neruda. Tak pernah ia ketahui sebelumnya kalau nama penulis Chile Ricardo E.R. Basoalto atau yang lebih dikenal sebagai Pablo Neruda mengambil nama belakangnya dari nama pengarang asal Chekoslovakia itu. Jan Neruda, penulis abad ke-19 yang dikenal di Eropa Tengah dengan selera humornya, menulis salah satu puisi bertema ilmiah yang dipersentasikan Kate, dengan cara yang mudah dipercakapkan sehari-hari oleh orang-orang di negara yang dikenal dengan kecantikan kota Praha dan sosis klobása-nya itu. Setidaknya, begitu tadi menurut keterangan Kate, Neruda sang jurnalis, penulis, prosais, aktivis adalah juga seorang yang pandai mengambil hati, dengan tulisannya yang kritis jenaka. Ia melambangkan pribadi orang Czech yang sangat suka mengkritisi diri sendiri, tapi juga tidak mau terlampau serius.

"Meski sudah meninggal lebih dari satu abad lalu, sampai kini anak-anak di Sekolah Dasar di negaraku, juga di SMP serta SMA di Czech, masih membaca Jan Neruda. Lihat sendiri bagaimana dia menggambarkan astronom sebagai moles—tikus tanah, di puisinya kan?" kelopak mata Kate yang dipulas pewarna hijau muda kebiruan mengerjap-ngerjap, memperkuat kesan bangga yang tersirat di wajahnya yang cantik tirus. The proud Czech! Begitu dia pernah menyebut dirinya, dan mewanti-wanti seisi kelas untuk jangan salah menyebut nama negaranya dengan Chechnya.

Di negara yang disebut-sebut beribu kota tereksotik di dunia dan belum pernah dikunjungi Kartik itulah, ditulis dalam puisi Jan Neruda, para kodok pernah duduk di sekitaran genangan air, menatap langit yang tinggi, dan seekor guru kodok memukul-mukul tengkorak, bicara tentang langit, bintik-bintik terang di sana yang dari bumi terlihat seperti terbakar, dan manusia berusaha mengawasinya.

"…..astronomers
Like moles, they dig for learning."

Begitu tadi Kateøina di kelas mulai membaca puisinya dalam bahasa Czech bersama Bill—guru hari Rabu mereka yang membacanya dalam bahasa Inggris.

Ketika para tikus itu mulai memetakan bintang-bintang
yang maha luas jadi mengecil dua puluh juta mil, jadi satu kaki saja

Lalu, saat para tikus itu sudah bisa memprediksi
(andai kau percaya mereka…)
Neptunus tiga puluh kaki jauhnya
Venus, kurang dari satu kaki saja…

Kartik membayangkan ia adalah salah satu dari para kodok itu, yang terkagum dengan pengetahuan sang guru kodok. Dari mana ia sebagai kodok mengenal dunia astronomi? Bukankah kodok begitu jauh dari langit? Dan andaipun bisa melompat, paling jauh dan paling tinggi lompatannya hanya bisa 150 kali ukuran tinggi badan spesies mereka saja? Telinga sebesar apa yang dimiliki guru kodok hingga bisa mendengar hasil riset para manusia tikus yang coba menggali pengetahuan tentang langit, para astronom itu? Apakah kodok juga berada di lab? Atau di kafe? Dari mana mereka mendengar perbincangan para astronom?

Kalau matahari dicacah, kata para tikus --astronom itu, (dan para kodok mendengarkan dengan kagum cerita sang guru kodok), akan didapati tiga ratus ribu bumi dan sedikit sisa. Matahari membantu kita menggunakan waktu. Putarannya mengelilingi langit, membagi hari kerja ke dalam jadwal siang, malam. Tetap dalam tahunan.

Komet, itulah yang masih sulit dan aneh. Bukan pertanda jahat, tak ada alasan untuk takut.

Dan kalau kita menggunakan Spektroskop, cahaya mengatakan, bintang yang jauh itu...dan bumi yang dekat ini, memiliki komposisi yang sama. Bintik-bintik terbakar yang menyala di langit itu, mereka semuanya matahari. Beberapa berwarna hijau, beberapa berwarna biru, beberapa berwarna merah membara.

Di halte bus Van-Ness, sekelebat Kartik melihat seorang anak lelaki berkulit hitam masuk ke bus dan menempelkan kartu smartrip-nya, menggendong ransel serut berlogo biru bundar bertulis NASA. Angkasa biru berbentuk bakso besar dengan orbital yang menjadi latar belakang tulisan NASA, mengingatkan Kartik pada kawanan kodok yang menatap langit. Bus terus melaju menuju Chevy Chase.

***

Malam itu Kartik bermimpi. Sawah terbentang luas di hadapannya, tapi tidak berwarna hijau seperti yang dikenalnya. Ada sesuatu yang aneh yang membuat hamparan sawah di depannya itu tampak terlapisi warna yang membikin matanya tidak bisa melihat dengan terang. Ada selarik hitam yang membayang. Dan pelan-pelan saja Kartik kemudian menyadari kalau saat itu ia sedang berada di suatu malam. Gelap. Di hadapannya, hamparan sawah.

Suara kodok begitu keras terdengar di telinganya. Ia ingat ibunya pernah bilang, kalau kodok riuh bernyanyi di sawah, itu pertanda hujan akan datang. Tapi tak ada geledek atau tanda petir datang dari langit di atasnya malam itu. Meski tak ada juga bintang, tapi tak ada juga awan yang tampak sedang berpesta di atas sana.

Dalam mimpi, segala hal begitu cair. Dari jauh, ia melihat kakak lelakinya berjalan dengan seekor kodok. Kodok itu tidak berdiri, tapi tidak juga melompat, sang kodok besar berwarna albino tampak berjalan dalam posisi duduk. Masihkah bisa sang kodok disebut berjalan, sementara ia duduk?

"Eh, tahu nggak?" begitu kodok itu bicara kepada Kartik saat keduanya tiba di tempat Kartik duduk di dalam saung di depan hamparan sawah di malam gelap. "Kamu tuh salah menerjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia!"

"Oh ya?" Kartik kaget. "Salah yang mana?"

"Puisi Jan Neruda yang dibacakan Bill yang judul Inggrisnya jadi Do Frogs Exist There Too? Masa kamu bilang saya guru kodok? Tidak pernah mengenal kata katak?" Kodok albino itu membentak. Bintik bintil-bintil putih di kulitnya yang albino geradak tampak bergetar. Kartik tak tahu apakah sang kodok raksasa marah atau tidak, ekspresi di wajah kodok itu tidak bisa dipahaminya meski suaranya jelas terdengar besar menggelegar.

"Dunia kodok sedang panas, Tika. Seharusnya kamu tahu itu..." Itu kang Asep, kakaknya yang bicara. Di Indonesia, orang-orang memangilnya Tika. Namanya Kartika, memang. Tapi di Washington DC, orang-orang memanggilnya Kartik saja. Dua suku kata lebih mudah bagi teman-teman baru Kartika untuk mengingatnya. Tapi kodok ingin disebut katak? Hah?

"Jadi sekarang untuk meredam suasana, juga untuk bikin semua tampak lebih sopan, para kodok sudah mengatur undang-undang baru untuk menyebut diri mereka semua katak."

Kang Asep sudah jadi juru diplomasi warga kodok? Frog advocate? Kartika agak kaget juga mendengar pernyataan kakaknya.

"Heh, kamu salah!" lagi-lagi kodok raksasa di depan Kartika membentak. "Frog itu katak! Toad itu kodok! Kalau kamu bilang frog advocate, itu berarti pengacara para katak, bukan pengacara para kodok, tahu!" Sang kodok bersuara penuh getar, mengomentari apa yang ada di kepala Kartika seakan tahu apa yang dipikirkannya.

"Frog, seperti kamiiiiii!" Suara melengking kecil terdengar dari satu arah dan tiba-tiba sesuatu melompat tinggi. Lima ekor katak hijau berkaki ramping dengan tungkai yang kuat dan terlihat panjang, meloncat berhamburan ke beberapa arah. Dari salah satu yang melompat ke saung lalu nemplok di lantai bambu dekat Kartika, bisa terlihat ada semacam jaring di kakinya yang menautkan antara telapak dengan jari kaki para katak tersebut. Itu katak! Jerit benak Kartik.

"Nah…kalau mereka, itu kodok!" masih suara yang melengking kecil. Tiga katak yang tadi melompat ke bawah saung, kini meloncat-loncat. Mereka seakan menyambut beberapa kodok yang datang mendekat melompat-lompat.

Ya Tuhaaan!

Bukan hanya semua yang terjadi itu mengingatkan Kartika dalan scene di sebuah cerita bergambar untuk anak, tapi dalam mimpinya itu pun Kartika ingat, betapa benar sabda kodok albino raksasa! Harusnya ia cek dulu di kamus online sebelum mengartikan di kepalanya kalau frog itu kodok, tanpa dia tahu ada kata lain dalam bahasa Inggris juga untuk makhluk amfibi itu. Toad, Kodok! Frog, katak!

"Nah, kan!" Suara si kodok raksasa itu lagi. Dia melompat-lompat seakan senang dan lagi-lagi seolah mampu membaca pikiran Kartika. Tiga kodok kecil yang baru datang dengan cara lompat pun turut melompat-lompat juga di sekitarnya.

"Dan ada juga kata bangkong kan?"

Kartika melirik. Siapa tadi itu yang bicara? Kenapa suaranya seperti Bill, si guru hari Rabu? Bill bicara Indonesia?

"Bangkong, itu sama seperti kodok! And they called toad. Frog is for katak!" Kang Asep sudah hilang, di samping Kartika antara dia dan kodok albino raksasa kini berdiri Bill dengan T-shirt berkerahnya yang khas berwarna biru navy.

"Tapi, panggil kami semua katak!" si raksasa bersuara keras penuh getar lagi.

"Katak! Katak! Katak! Katak!" semua katak dan kodok kecil berteriak dan melompat meloncat. "Katak! Katak! Katak! Katak!"

"Baik, frog untuk Katak!" Kartika akhirnya bicara.

Lalu sekonyong suara-suara katak-katak lainnya di sawah menyambutnya. "Katak! Katak! Katak! Katak!" Suara itu bergemuruh. Dan Kartika sudah tentu tak mau lagi dibentak, kata kodok di kepalanya sementara seakan menghilang di suatu tempat di laci dalam benaknya, meski tak memunah. Memori seakan menelan sementara kata itu dalam otak Kartika, mengambil peran untuk menyelamatkannya dari keadaan yang tak menguntungkan. Dan yang mereka dengar kemudian...

Suara katak demi katak yang terus saling sahut-menyahut, antara yang di darat, di sungai, dan di sawah, membikin gelap malam di desa yang lengang dengan persawahan itu menjadi begitu merdu sekaligus sangat riuh ber-katak-katak-katak-an. Lalu….

'Ctarrrr!'

Ada yang menyambar dari langit di atas sana.

Cahaya yang merambat maha cepat dan bersuara mengagetkan itu seakan merespons nyanyian para katak di sawah. Dalam cahaya sekilat yang turun merambat membawa energi listrik itu, sesaat, Kartika bisa melihat katak albino raksasa itu berkelopak mata hijau, Bill masih berkulit putih bermata biru, dan hamparan sawah tampak seperti permadani hijau pupus kekuningan menuju masa panen yang mulai kekurangan air.

Percik hujan turun bermula rintik lalu jadi begitu deras. Para dewa dan malaikat sedang mandi malam-malam di atas sanakah? Para katak dan kodok kompak bernyanyi. Kartika mendongakkan wajah, hujan dari langit jatuh besar-besar ke mukanya, satu-dua masuk ke mata, ia membiarkan mulutnya terbuka, "Frog untuk katak! Toad untuk kodok!"

Dan, begitulah mimpinya berakhir. Joana membangunkannya karena ia mendengar Kartika berteriak-teriak.

"Are you ok, Kartik?" tanya perempuan asal Paraguay itu. Di rumah yang disewanya bersama di area Chevy Chase, Washington DC, Kartika telah kembali menjadi Kartik.

Kepada Joana ia bilang ia baik-baik, hanya mungkin pelajaran bahasa Inggris di sekolah sedang agak membingungkannya. Jangan terlalu fokus, itu nasihat Joana setelah ia sedikit mendengar cerita Kartik tentang mimpinya, sebelum ia meninggalkan perempuan itu dan menyenggol bahu Kartik serta bilang, "Omong-omong mimpimu mengerikan juga ya. Kamu lagi belajar bahasa Inggris, eh di mimpi seekor katak sama guru bahasa Inggrismu muncul! Ngeri banget! Itu kamu stres tuh!" ucapnya sambil terkikik.

Kartik senyum saja sambil bilang terima kasih sudah membangunkannya.

Sawah kembali datang di benak Kartik seiring langkah Joana yang terdengar menjauh. Suara kodok, suara jangkrik, suara burung, suara-suara itu yang di Tanah Airnya hanya bisa didengar di daerah-daerah perdesaan, ironisnya justru di daerah-daerah pemukiman warga di Amerika masih bisa didengar. Setidaknya, di Chevy Chase tempatnya kini tinggal.

Suara kodok, harus diakuinya memang tak ada, tapi suara tongeret bahkan bisa muncul di area yang masih merupakan kawasan Washington DC yang ditinggalinya kini. Bahkan pada malam-malam di musim semi ia berkali-kali melihat kunang-kunang beterbangan meski tak berkelompok. Di depan bangunan apartemen yang pernah ditinggalinya, ia terbengong-bengong menyaksikan lima ekor kunang-kunang terbang berselipan membawa cahaya di pantatnya di antara gundukan tanaman yang berbunga, di antara daun-daun di pepohonan besar di pinggir jalan. Cahaya lampu mobil dari jalan, memunahkan cahaya kecil kelap-kelip di pantat para makhluk kecil yang tidak mengetahui teori cahaya seperti Tesla itu.

Kartik bangkit dari ranjangnya. Mendekat ke arah jendela kamar dan menggeret sedikit tirainya. Adakah ia rindu Cianjur? Setahun sudah ia tak melihat sawah.

Di hadapannya, dalam selubung malam, daun-daun pohon maple menari-nari dalam warna kuning dan kering. Bangunan apartemen yang pernah ditinggalinya dari jauh terlihat seperti mercusuar yang membiaskan banyak cahaya. Satu-dua lampu mobil yang melintas di ujung jalan terlihat seperti cahaya senter. Dua rumah di seberang tampak gelap. Sekitar sepuluh meter terhalang beberapa pohon di area hijau, lurus di hadapannya, taman bermain para kanak terbentang, juga dalam gelap. Itu agak jarang terjadi.

Kartik membuka jendela kamarnya. Udara dingin musim gugur menyerbu masuk menerjang rambut dan wajahnya. Gelap. Sunyi.

Di mana bulan? Ia mengeluarkan kepalanya dari jendela mencoba-coba mencari benda langit di atas kepalanya yang kerap menimbulkan perasaan sendu itu. Lalu ia teringat para tikus tanah itu, moles, para astronom yang disebut Jan Neruda melalui cerita sang guru katak. Manusia yang terus berusaha menggali tahu tentang langit dan galaksi serta bintang dan planet yang beredar bersama bumi.

Kalau ia bertanya pada tikus penggali pengetahuan langit tentang kenapa ada malam, akankah jawabannya karena bumi bulat dan matahari ada di sisi sebaliknya?

Kalau ia bertanya kenapa bintang-bintang terlihat di waktu malam, akankah jawabannya karena tak ada matahari?

Hhhmm….

Kartik menarik kepalanya ke dalam kamar dan gantian mengeluarkan tangannya dari jendela mengusap udara dingin yang tak terlihat. Ia berpikir. Mungkin andai di bumi tak terjadi malam, planet ini akan baik-baik saja, meski ia bertanya-tanya masihkah bumi akan tampak berwarna biru bila dilihat dari angkasa? Tapi bagaimana dengan astronomi? Kajian ilmu tentang bintang-bintang dan planet serta galaksi di angkasa sana akankah juga gelap alias tak pernah ada seiring malam yang tak pernah terjadi dan matahari akan memiliki banyak sekali ahli-ahli?

Lalu siapa yang akan mengapresiasi gelap? Bagaimana jadinya ilmu sejarah tanpa penemuan tikus-tikus tanah penggali pengetahuan langit yang digambarkan kerap nungging di lab atau di padang-padang di dalam kubah pengamatan dan berusaha berkomunikasi dengan planet lain dalam selubung malam?

Siapakah yang akan mencari tahu, ada apakah di luar sana? Adakah mereka para kodok, katak, tikus dan manusia juga berada di gugus lain planet di luar galaksi itu? Ada siapa di atas sana?

Kartik menarik tangan dan menutup jendela kamarnya. Ia melangkah kembali ke ranjangnya. Entah kapan ia bisa kembali bertemu sawah dan saudara-saudaranya di Indonesia sana. Kartik belum tahu. Yang ia tahu, besok ia harus kembali belajar bahasa Inggris bersama teman-temannya sesama imigran. Dan tak ada sawah dalam perjalanannya menuju sekolah.

Chevy Chase, Sat-Nov 4, 2017.

Ucu Agustin telah menerbitkan buku kumpulan cerpen Kanakar (Mahatari, 2005) dan Dunia di Kepala Alice (Gramedia, 2007). Belakangan menekuni pembuatan film dokumenter dan telah menyutradarai antara lain Konspirasi Hening (2011) dan Di Balik Frekuensi (2013). Kini menetap di Washington DC

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com

(mmu/mmu)

Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed