DetikHot

art

Pesan Pendek yang Membawa Kesedihan Panjang

Sabtu, 21 Okt 2017 10:18 WIB  ·   Cosmas Kopong Beda - detikHOT
Pesan Pendek yang Membawa Kesedihan Panjang Ilustrasi: Nadia Permatasari/detikcom
Jakarta - Klobot Bogel meneleponku ke kantor, "Nini Guhi sakit," katanya pendek. Aku diam sebentar dan mengatakan kepadanya bahwa aku akan segera pulang. Ia menutup sambungan telepon tanpa meninggalkan sepatah kata pun.

Akhir-akhir ini aku begitu lelah. Aku bekerja tanpa henti mengumpulkan uang demi menikahi Nini Guhi. Seluruh anggota badanku terasa sakit dan pikiranku disesaki dengan hal-hal aneh, sehingga membuatku tidak dapat beristirahat dengan baik pada malam hari sebagaimana biasa. Situasi ini justru membuat semuanya menjadi lebih buruk serta memperparah kesehatanku, sakit di kepalaku, dan linu pada tulang-tulangku semakin buruk sehingga sangat mengganggu kerjaku. Semangat kerjaku kemudian menurun drastis, membuat atasanku terlihat agak kesal. Sudah beberapa kali ia telah menegurku tanpa rasa hormat serta terkesan angkuh.

Hari Jumat siang, sebelum berangkat salat, melalui sekretarisnya, atasanku menyuruhku datang ke ruang kerjanya. Di ruang kerjanya ia menanyaiku dengan beberapa pertanyaan yang kupikir sudah ia persiapkan dengan baik sebelum itu. Aku menjawab semua pertanyaan dengan jujur tanpa menyembunyikan satu apa pun. Saat kuutarakan semuanya, ia menyimak dalam raut muka tak percaya, seolah semuanya yang keluar dari mulutku adalah omong kosong semata. Dengan nada ketus ia menanyai keinginanku. Dan, aku menjawabnya singkat dengan nada tak bersahabat bahwa aku ingin mengambil cuti dalam beberapa minggu.

Ia diam sesaat dan menatapku tajam ketika mendengar keinginanku tersebut. "Baiklah," katanya kemudian, "akan kuputuskan setelah selesai ibadah Jumat." Ia bangkit dan meninggalkan ruangan tanpa mengucapkan selamat siang padaku. Aku menyusulnya sampai di ruang tengah. Sebelum ia menuruni tangga menuju ke lantai bawah, ia sempat menengok ke arahku. Aku tetap dengan raut tak bersahabat, lalu ia pun pergi.

Pada saat aku hendak kembali ke ruang kerjaku, seorang pelayan menegurku. Rupanya ia orang baru di kantorku. Ia seorang gadis belasan tahun, berpostur tidak terlalu tinggi, lekuk tubunya bagus, dan memiliki keramahan luar biasa. Ia menawarkan kopi kepadaku, sehingga dengan senang hati aku mengabulkan tawarannya. Beberapa saat kemudian aku mendengar suara pintu diketok. Belum sempat aku menyilakan pelayan itu sudah berada di dalam ruangan. Ia meletakkan kopi di atas mejaku. Aku memperhatikannya tanpa kedip sehingga membuat ia sedikit kikuk oleh sorot mataku. Untuk menghilangkan rasa kikuknya, ia lalu berusaha menjeratku dengan senyum penuh gairah masa muda.

"Tuan Muda, itu kopinya," katanya dalam nada suara gadis remaja yang manja. "Ada apa, Tuan Muda? Tuan terlihat pucat." Ia cukup berani, pikirku.

"Semuanya baik saja," kataku sambil berusaha menyertai kata-kataku dengan satu garis senyuman termanis yang mekar di ujung bibirku agar tak membuatnya kecewa.

"Panggil saja Kamba. Arkian Kamba. Tolong jangan panggil aku dengan Tuan Muda." Ia tersenyum dan pamit diri meninggalkan ruang kerjaku. Aku mengawasi langkahnya hingga ke ambang pintu. Aku menyesap kopi yang baru saja disajikan sambil melanjutkan mengetik berita untuk terbitan esok hari. Tak beberapa lama kemudian sakit pada tulang-tulangku semakin memburuk. Linu pada sendiku betul-betul membuatku sedikit khawatir. Aku menghentikan aktivitas mengetikku, dan menyandarkan tubuhku ke tempat duduk.

Tapi lapar kemudian menyerangku. Dengan menahan sakit, aku berusaha turun untuk mencari makan di warung makan terdekat dari kantor. Ketika sampai di halaman depan aku melihat rombongan besar pegawai kantor yang baru saja menyelesaikan ibadah Jumat berjalan di seberang jalan di depanku dari arah selatan menuju ke utara. Tentunya rombongan itu akan menuju rumah makan Cina. Aku melihat atasanku berjalan bersama seorang gadis muda cantik di antara para rombongan. Karena asyik dalam percakapan dengan gadis muda itu, atasanku tak melihatku yang berdiri di depan halaman kantor.

Aku cepat-cepat menuju ke arah berlawanan dari para rombongan itu datang. Kuurungkan niatku untuk makan siang di rumah makan Cina yang semula telah masuk dalam rencanaku. Sudahlah, pikirku. Jika atasan mengizinkanku cuti, besok sebelum menuju Lamakura aku akan mampir ke tempat itu untuk menikmati sup herbal demi membantu staminaku sebelum menempuh perjalan jauh dengan kereta api pada malam harinya. Akhirnya, aku memutuskan makan roti bakar di kedai langgananku.

Matahari siang yang panas membakar kepalaku sepanjang perjalananku menuju ke kedai. Aku tiba di kedai dan mendapatkan kedai dalam keadaan tidak begitu ramai. Hanya ada tiga orang lelaki bertubuh kurus dengan jenggot tak terpotong rapi duduk mengelilingi satu meja. Aku masuk dan menempati satu meja kosong di dekat mereka. Kedatanganku tak mengecoh mereka. Mereka terus asyik dalam percakapan. Ketiganya berpenampilan nyaris sama, tak satu pun dari mereka mengenakan pakaian kasual terbaik miliknya, melainkan hanya kaos oblong, jeans, dan sepatu Nike yang nyaris sama keluaran terbaru. Sedikit perbedaan pada warna. Dari tanda pengenal yang tergantung di saku baju bagian depan dapat kukenali mereka: wartawan.

Kepada pelayan aku memesan roti bakar keju dan susu jahe. Aku mengeluarkan kotak rokok dan menyulut sebatang. Sakit pada sendi dan tulangku kambuh sehingga membuat aku duduk dalam situasi teramat gelisah. Tubuhku menjadi lemah dan tak bertenaga. Kurasakan mual dan pucat pada wajahku. Tapi dengan segala upaya aku berusaha lebih tegar menghadapi sakit di sendi-sendiku. Sakit yang menyerang sewaktu-waktu bisa saja mengakhiri segala-galanya, pikirku. Aku mematikan rokokku dan perlahan semuanya menjadi sedikit lebih baik.

Pelayan muncul dengan membawa pesananku. Pada saat yang bersamaan muncul dua perempuan dengan mengenakan seragam sebuah perusahaan media cetak. Satu di antaranya berkulit putih, berambut sedikit ikal, tinggi, dan memiliki dada yang menarik. Sedangkan yang lainnya sama sekali tidak masuk dalam kriteriaku. Keduanya bergabung dengan ketiga lelaki kurus yang tak simpatik itu. Percakapan mereka membuat bising di ruangan itu dan sangat mengganggu. Aku melahap hidanganku seolah tak mendengar apa yang mereka percakapkan.

Jarak yang begitu dekat dengan mereka membuat aku bisa menyimak dengan jelas topik yang dipercakapkan; rencana liputan dan upah yang diberikan perusahaan. Salah satu lelaki kurus dengan kumis kecoklatan mengeluhkan upah yang tidak pantas dengan jadwal liputan yang padat dan nyaris tanpa libur. Namun, belum selesai ia bicara, perempuan yang tidak masuk dalam kriteriaku menyelanya. Ia berbicara soal beberapa surat kabar cetak yang gulung tikar gara-gara tak mendapat iklan. Semuanya berlangsung begitu onar nyaris tanpa tata tertib.

Tak tahan oleh nada suara mereka yang semakin tinggi, aku berusaha melahap sisa rotiku dengan sedikit lebih cepat. Akhirnya tandas juga semuanya. Rasa mual dan pusing di kepalaku perlahan mulai berkurang. Aku memanggil pelayan dan membayar. Aku meninggalkan kedai dalam langkah yang tak tergesa-gesa, sebab ngilu pada sendi-sendi tulangku sama sekali tak bersahabat. Di depan pintu keluar kedai aku masih bisa menyimak percakapan lima orang wartawan itu. Kali ini penuh semangat dan berapi-api. Aku berjalan menyisir pinggir rumah toko untuk menghindari terik matahari. Beberapa bengkel seni, sekolah musik, toko buku loak, dan pejaja koran di sebarang jalan tampak ramai oleh pengunjung.

Di depan ruang kerja atasanku ada sebuah sofa. Aku duduk di sana menunggu atasanku memanggilku untuk memberikan kebijaksanaannya terkait dengan permintaan cutiku. Meski belum genap setahun, loyalitasku selama ini harus ia perhitungkan dengan baik. Jika tidak, izin cutiku akan tak dihiraukannya. Apalagi belakangan ini banyak kejadian yang harus diliput dan tak boleh luput dari mata media. Semuanya harus diawasi dengan baik demi menjalankan fungsi kontrol sosial terutama pada kebijakan kejaksaan dalam memutuskan perkara korupsi yang melibatkan beberapa pejabat negara. Kasus-kasus yang menumpuk bisa saja menghalangi izin cutiku.

Agak keterlaluan jika atasanku hanya memperhitungkan kepentingan-kepentingan itu dan mengabaikan permintaanku serta kesehatanku. Rekan wartawan lain di kantor ini tentu saja bisa menggantikanku untuk menjalankan tugas-tugas itu. Meski pada umumnya mereka belum berpengalaman dalam meliput kasus-kasus besar yang berkaitan dengan hukum, bukan menjadi dalih yang pas untuk mengelak dari tugas. Mereka harus dilatih untuk memikul tugas yang jauh lebih berat agar bisa menjadi lebih baik. Harus dibebankan kepercayaan yang besar kepada mereka, dari cara bergaul dan berbicara dapat kusimpulkan bahwa mereka cukup cerdas untuk segala macam kasus. Aku memiliki keyakinan, mereka tentu sanggup, hanya saja kesempatan belum diberikan kepada mereka.

Sekretaris atasanku menepuk-nepuk pundakku membuat aku kaget dan terbagun. Aku tertidur, pikirku. Sekretaris muda itu membawa pesan dari atasanku bahwa aku diminta segera masuk ke ruangan kerjanya. Aku bangkit dari dudukku menuju ke toilet. Kubasuh mukaku untuk menghilangkan bekas kantuk kemudian menyeka dengan sapu tangan. Di depan cermin aku berdiri cukup lama untuk melihat wajahku yang kurus, rambutku yang mulai memanjang, serta jenggotku tidak dalam keadaan rapi dan baik secara saksama. Aku merasa semakin yakin diriku akan berubah menjadi lebih buruk jika aku terus berada dalam tekanan kerja dengan imbalan rendah. Segala ketampananku telah direnggut oleh loyalitas.

Telah bertahun-tahun aku melatih diriku hanya demi uang dan pengalaman yang membuncit di dalam kepala, tapi selama itu pula aku tak menyadari sesuatu hal buruk telah mengikis tubuhku. Aku masih terlalu muda untuk merasakan penyakit di sendi-sendi tulangku. Tubuhku yang lemah memudahkan virus-virus penyakit menggerogotinya. Waktu istirahat yang kurang rupanya menuai akibat begini buruk.

Aku meninggalkan toilet penuh ketidakpercayaan diri. Perubahan di raut mukaku adalah aktor di balik semua ini. Sampai di depan pintu atasanku, aku menjadi semakin tidak percaya diri untuk menghadapinya. Tanganku gemetar saat hendak mengetuk pintu ruang kerjanya. Tapi aku memberanikan diri, sebab semuanya sudah dimulai. Nyaliku tak boleh kendur hanya karena kehilangan ketampanan. Atasanku menyilakan aku masuk setelah mendengar suara ketukan di pintunya.

Kami bercakap-cakap sebentar, dan akhirnya, di ujung percakapan ia mengizinkan aku cuti. Aku girang mendengar itu. Kebahagiaan yang berlangsung sangat sebentar. Ponselku berdering. Sebuah pesan masuk, dari Klobot Bogel, "Nini meninggal dunia."

Cosmas Kopong Beda mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Program Studi Jurnalistik Universitas Satya Negara Indonesia, Jakarta. Beberapa karyanya dimuat di Indo Pos, Kompas.com, dan Pos Kupang


Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com

(mmu/mmu)

Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed