DetikHot

art

Surat Perihal Kita dalam Sebuah Kamar yang Kutulis pada Kamar yang Lain

Sabtu, 16 Sep 2017 09:54 WIB  ·   Irma Agryanti - detikHOT
Surat Perihal Kita dalam Sebuah Kamar yang Kutulis pada Kamar yang Lain Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta - Kepada AY yang bukan seorang kekasih,

Aku ingin kau tahu pada malam ketika kita bercakap-cakap di kamar itu; kamar yang hanya dihuni ranjang dan sebuah televisi yang kubiarkan terus menyala hanya agar aku tak merasa sepi itu membuatku diserbu ketakutan-ketakutan. Begitu takutnya aku hingga setiap kali aku mendengarmu bicara, perasaan rawan itu mencekatku dan aku seperti disergapnya sepanjang malam.

Aku kira warna kamar yang pucat bisa sangat mempengaruhi perasaan, juga segala yang ada di dalamnya, semisal tirai yang bergantungan pada kisi-kisi tua, lampu yang menyala seadanya, kesunyian itu, mengingatkanku pada sajak-sajak seorang penyair. Bahwasanya aku bukanlah seorang yang terlatih menyatakan perasaanku. Aku kira semua perempuan mengalaminya. Bisa jadi karena itu juga perempuan seringkali dianggap rumit, meski ada banyak yang tak begitu dan karena itulah aku menulis surat ini, agar kau tahu bahwa aku bisa sangat cemas hanya karena sebuah kamar.

Adalah kesalahan jika kau pikir aku cukup merasa nyaman lantaran membiarkan tubuhku terbaring setengah telanjang dengan seulas senyum terbaik yang bisa kuberikan padamu. Tubuh yang kubiarkan menggeliat menindih bantal. Lekuk liku yang berbaur dengan hangat lipatan selimut seraya menyimakmu bicara dengan sepenuh perhatian. Sungguh, aku sedang pura-pura tak mengeluhkan apapun, dan satu-satunya yang bisa kulakukan adalah memandangimu yang tengah mengisap rokok dengan helaan penuh kepuasan.

Aku nyaris ingin mengenakan pakaianku, dan meninggalkan kamar itu. Tadinya kupikir aku bisa sedikit menghiasi kamar itu dengan pita warna-warni atau balon-balon udara tapi sayangnya aku tak berhasil menemukannya. Aku merasa telah kehabisan akal. Seketika aku ingin tahu apa yang dilakukan kawanku, seorang partner song di sebuah karaoke dengan kamar-kamar gelap yang dipenuhi asap rokok. Aku hendak membandingkan dua kamar dengan kerentanan yang sama itu. Dua kamar dengan kegelisahannya masing-masing. Aku mengingat cerita-ceritanya. Betapa ia terbiasa membagi tubuh dan perasaannya meski dirinya telah bersuami. Betapa ia terbiasa pura-pura tak mengeluhkan apapun pada semua tamu yang ia temui. Betapa aku saat itu mencoba berusaha menjadi dirinya.

Tapi, malam ini aku sedang mendekam di kamarku. Kamar dengan warna biru lembut dan tirai keemasan ditimpa cahaya bulan, melambai-lambai keluar jendela. Aku berdiri dan menyibaknya hingga terbuka lebar. Angin hangat menerpa wajahku, menghangatkan tubuhku, menghangatkan segala sesuatu yang ada di dalam kamar, membuat helai-helai rambutku jadi bubar berhamburan.

Sedetik perhatianku tertuju pada seekor burung yang terlihat di kejauhan. Seekor malang itu menabrak pepohonan dan sayapnya barangkali patah. Ia berjalan tertatih-tatih dan hilang di tengah rimbun dedaunan yang jatuh terserak. Sungguh, situasi yang sama sekali berbeda dengan yang kudapati di kamar pucat itu. Maka sebelum aku hendak mengingatnya lagi aku telah terserap dalam arus pikiranku sendiri dan aku hanya mampu mengingatmu.

Aku mengingat kau yang berkisah tentang dirimu. Kau yang tengah merintis sebuah kantor saham setelah sempat tumbang sebelumnya (ketika itu aku ingin menyarankanmu menonton film The Wolf of Wall Street, seorang pemilik kantor saham yang diperankan Leonardo Dicaprio). Kau yang memiliki kemampuan dan kekuasaan lebih dari cukup untuk meraup pundi-pundi uang dan memutuskan apapun justru kini tak berdaya oleh cinta yang kau sendiri pun tak mengerti. Sedang aku, aku tentu saja hanya jadi pendengar keluh kesahmu yang setia meski sesungguhnya ada banyak hal menggelisahkan yang ingin juga kusampaikan. Hal-hal yang tak pernah menjadi penting bagimu.

Kalau saja kau tahu warna pucat kamar itu seolah-olah telah mengambil seluruh energi yang kupunyai hingga tak ada lagi yang sanggup kulakukan selain hanya mendengarkanmu. Membuat pikiranku melompat kembali kepada sosok kawanku yang barangkali tengah melayani tamu-tamunya. Katanya padaku suatu kali, laki-laki yang kerap datang tak hanya iseng atau mencari hiburan semata tapi kebanyakan dari mereka butuh mencari seorang pendengar yang baik, pendengar keluh kesah mereka tanpa perlu ditimpali dengan banyak pertanyaan. Ia, kawanku itu, tak tahu saat ini aku sedang menyepakatinya.

Sungguh kau tak perlu merasa bersalah, sebab aku pun tak ingin telanjur mencintaimu. Itulah kenapa aku tak pernah mau menghalangi, pun tidak berniat menghalangi pilihanmu untuk menikahi kekasihmu itu. Aku tak akan menuntut sesuatu yang tak mungkin meski perasaan manusia kerap berubah-ubah. Pernah aku ingin menghadiahimu sepotong sajak yang romantik milik seorang penyair tapi aku tak pernah tahu seberapa jauh kau punya perasaan semacam itu. Bagaimanapun aku akan merasa sangat bodoh jika bertanya bagaimana sebetulnya perasaanmu padaku sebab katamu aku bisa menderita karenanya.

Dan, hari itu kamar tempat kita bercakap-cakap terasa segelisah hatiku saat menebak-nebak semuanya. Aku mencoba menutupi buah dadaku yang tersembul saat selimut tersingkap dan aku serta merta ingin menceritakan perasaan itu ke dalam surat ini, bahwa aku tak akan lupa pada malam-malam itu. Tapi kini, di kamar ini, di kamar milikku sendiri, aku menatap ke dalam cermin di sisi jendela dan melihat diriku sendiri di sana sedang menulis sepucuk surat dengan ketenangan yang tak pernah terlihat sebelumnya.

Kupikir aku mesti menuliskan hal ini kepadamu. Memang tak penting tapi ketakutan adalah sebuah perasaan yang bisa dibagi. Jika kau tak bisa melakukan apapun lantaran tengah ketakutan, kau perlu membaginya dengan seseorang. Katakan padanya seberapa takutnya dirimu pada sebuah kamar atau barangkali pada sebuah hati yang sepucat kamar.

Jika kamar itu begitu kelabu hingga tak ada satu pun ketakutan yang bisa kaubagi, tak mengapa, kau bisa mengisahkan apapun yang terjadi padamu. Berkisahlah tentang hal-hal kecil yang ingin kau lakukan tapi tak bisa. Tapi jika kau balik bertanya apa yang bisa kuceritakan dari diriku sekarang, tentu saja tak ada, sebab siapapun tahu, pendengar yang baik selalu suka menyembunyikan rahasia.

Dan, ketika surat ini selesai, dari atas meja di sisi jendela, aku meraih sebuah buku puisi milik seorang penyair dan membacanya dalam keheningan –puisi yang juga bicara tentang perasaan takut. Puisi yang berjalan tenang dalam kepalaku seperti perempuan yang diarak ke hadapan altar dalam sebuah misa. Aku pun mengingatmu sekali lagi.

Mataram, 2017

Irma Agryanti cerpenis dan penyair, lahir di Mataram, Lombok. Buku keduanya Kejahatan Ciuman akan segera terbit. Bergiat di Komunitas Akarpohon


Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter
detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com



(mmu/mmu)

Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed