DetikHot

art

Pameran Foto 'Di Mana Garuda', Melihat Keberagaman Indonesia

Kamis, 07 Sep 2017 15:54 WIB  ·   Bagus Kurniawan - detikHOT
Pameran Foto Di Mana Garuda, Melihat Keberagaman Indonesia Pameran Foto 'Di Mana Garuda' Foto: Bagus Kurniawan/detikHOT
Yogyakarta - Pewarta Foto Indonesia (PFI) Yogyakarta menggelar pameran foto bertajuk 'Di Mana Garuda' di Bentara Budaya Yogyakarta. Sebanyak 47 foto tunggal dan 8 foto cerita yang menjadi bagian sebuah cerita menarik yang ada dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam pameran yang akan berlangsung hingga 13 September 2017 itu tidak hanya menampilkan berbagai lambang burung garuda saja. Garuda Pancasila tidak hanya dipahami secara tekstual hanya sebuah teks Pancasila maupun sebagai lambang negara dan Pancasila sebagai dasar negara saja.

"Kami bergerak untuk perubahan bangsa Indonesia yang lebih baik, ada banyak peristiwa sehari-hari yang direkam dan mengandung makna lebih dalam," kata ketua PFI Yogyakarta Tolchah Hamid di Bentara Budaya Yogyakarta (BBY), Kamis (7/9/2017).

Menurutnya 'Di Mana Garuda' menjadi tema besar yang mampu menceritakan fenomena sosial, budaya, nasionalisme dan keberagaman Indonesia. Para fotografer berbagai media di Yogyakarta ini tidak hanya mengemban tugas untuk memenuhi pekerjaan kantor saja. Namun turut menjadi bagian dalam menyadarkan dan mengembalikan apa yang seharusnya dilakukan oleh semua orang atau seluruh lapisan masyarakat untuk bisa menjadi menjaga keharmonisan, kerukunan, toleransi, solidaritas sosial dan rasa nasionalisme.

Suasana di dalam pameran 'Di Mana Garuda'Suasana di dalam pameran 'Di Mana Garuda'. Foto: Bagus Kurniawan/detikHOT
Budayawan Sindhunata mengungkapkan jika ada pertanyaan di mana garuda, mungkin ia hilang lalu dicari. Jika garuda adalah burung, maka dicari di pohon-pohon, atau di hutan-hutan. Tapi garuda bukan sekadar burung.

Menurut Romo Sindhu, panggilan akrabnya, Garuda adalah simbol kebersamaan. Dalam kebersamaan, orang saling menghargai dan menghormati. Dia kemudian menunjukkan sebuah karya foto, saat para pemuka agama Buddha melakukan ritual pindapata di Pecinan Kota Magelang. Perempuan-perempuan, siapa saja termasuk ibu-ibu Muslim yang berhijab, memberikan sedekah pada para biksu Buddha yang sedang berjalan untuk meminta-minta. "Tak ada rasa risih untuk memberi pada mereka yang berbeda keyakinannya," paparnya.

Karena kebersamaan, juga di hari raya Idul Fitri, orang-orang Katolik memberikan ucapan selamat Hari Raya kepada saudara-saudara Muslim. Senyum dan kegembiraan terukir di wajah-wajah mereka. Maaf lahir batin tak hanya diberikan kepada sesama Muslim, tapi juga kepada saudara-saudara lain.

"Orang jadi merasa terlepas dari beban, terbebas dari kesalahan, karena menerima maaf dari saudaranya di saat warga Muslim merayakan hari raya kemenangan," katanya.

Suasana di dalam pameran 'Di Mana Garuda'.Suasana di dalam pameran 'Di Mana Garuda'. Foto: Bagus Kurniawan/detikHOT
Sindhu mengatakan Garuda adalah kerinduan. Kerinduan akan saat, kebersamaan dan persatuan, kendati kemajemukan dan perbedaan, dapat dijaga dan diandalkan.

Foto-foto karya para fotografer ini juga menggambarkan Garuda adalah penolakan terhadap kekerasan yang ingin memecah belah persatuan kesatuan.

"Garuda tidaklah hilang. Ia tetap hidup di manapun. Karena itu sebagai simbol pun, ia terus dibuat dan diproduksikan di berbagai tempat dan waktu. Ini menunjukkan, bahwa Garuda itu adalah harta yang tak pernah bisa habis digali," katanya.
(bgk/dar)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed