detikHot

Suka Duka Penari Balet Pria

Stereotip Masyarakat Jadi Alasan Minimnya Penari Balet Pria

Jumat, 25 Agu 2017 14:00 WIB Tia Agnes - detikHot
Stereotip Masyarakat Jadi Alasan Minimnya Penari Balet Pria Foto: Getty Images
Jakarta - Tarian balet dianggap sebagai dasar teknik seni pertunjukan. Menjadi seorang penari balet perempuan atau disebut balerina juga terdapat tantangan tersendiri di Indonesia. Latihan yang membutuhkan kerja keras, konsisten, pengaturan emosi dan waktu hingga kerjasama dalam tim adalah hal-hal yang harus diperhatikan bagi seorang penari.

Di berbagai penjuru dunia, penari balet pria atau disebut danseur dalam bahasa Italia dianggap sebagai profesi langka. Tak banyak penari pria yang handal dan belajar tak kenal henti. Merebaknya stereotip yang tiada henti mengenai penari pria itu membuat minimnya Sumber Daya Manusia (SDM). Mengapa?

Tabita Mallat dari Ballet.id (Yayasan Bina Ballet Indonesia) mengatakan minat anak laki-laki untuk belajar balet dapat dikatakan karena stigma yang beredar.



"Stigma yang melekat itu bahwa penari balet itu gemulai. Stigma muncul sederhananya karena masyarakat kita kurang terpapar pada balet taraf internasional. Mereka umumnya cuma tahu balet sebatas angsa-angsa putih yang mengepak atau putri-putri cantik bertutu. Jadi otomatis berpikir balet sama dengan gemulai, jadi penari balet pria sama dengan pria gemulai," terang Tabita ketika dihubungi detikHOT, Jumat (25/8/2017).

Padahal, lanjut Tabita, gerakan yang ada di dalam tarian balet pria dan perempuan sama sekali berbeda. Salah satunya adalah gerakan penari balet pria yang harus melakukan gerakan mengangkat balerina tinggi-tinggi sampai ke atas kepala dan terkadang satu tangan.

"Kalau wanita itu lebih menggambarkan kehalusan dengan menggunakan pointe shoes. Kalau pria gerakannya lebih banyak meloncat tinggi dan berputar yang sangat atletis," tambah Tabita.



Hal yang sama juga dikatakan oleh pengajar Ballet Sumber Cipta, Alexander Mawuntu. Minimnya penari balet pria karena pandangan orang-orang.

"Rata-rata pandangan orang tentang penari balet laki-laki itu masih negatif dan tabu," ujar Alex.

Dia kembali menjelaskan di dunia tari balet tidak bisa dipungkiri hal-hal berbau 'feminin' kental sekali. "Ditambah lagi, di balet klasik perempuanlah yang lebih ditonjolkan sehingga muncul istilah ballerina. Kalau masyarakat kita mau buka pikiran dan melihat bidang lain, pasti akan jadi pemikiran yang berbeda," tutur Alex.

Pengajar Marlupi Dance Academy (MDA), Claresta Alim justru menuturkan para penari pria harus menjaga pergaulan di lingkungannya. "Pergaulan jadi hal terpenting yang harus dijaga."


(tia/nu2)

Photo Gallery
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikhot.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com