DetikHot

art

Pameran Grafis Bonaventura Gunawan dan 5 Juta Cukilan Kayunya

Senin, 14 Ags 2017 14:40 WIB  ·   Bagus Kurniawan - detikHOT
Pameran Grafis Bonaventura Gunawan dan 5 Juta Cukilan Kayunya Pameran Grafis Bonaventura Gunawan dan 5 Juta Cukilan Kayunya Foto: Bagus Kurniawan/ detikHOT
Yogyakarta - Seniman Bonaventura Gunawan menggelarkan pameran tunggal seni grafis di Bentara Budaya Yogyakarta (BBY). Dia menggelar pameran bertajuk 'Re-Public: Reminding of Exsistence' yang digelar hingga 20 Agustus setelah vakum lama di seni grafis.

Dia memamerkan sejumlah karya yang merupakan hasil seni grafis print making. Beberapa karyanya berukuran besar dan ada yang berukuran kecil. Salah satu karya yang paling menarik adalah karya berjudul 'Democracy Is My Li(f)e'. Karya ini berukuran cukup besar 210 x 488 sentimeter dengan bahan hardboard.

Ada beberapa karya sosial di antaranya berjudul 'Operasi Tangkap tangan' berbahan hardboard. Kemudian 'Makarria' dengan bahan hardboard ukuran 165x120 cm dan 'Colling Down' ukuran 100x80 cm dan lain-lain.



"Karya ini saya kerjakan selama sebulan lebih. Ada jutaan cukilan kalau mau dihitung. Tapi kalau yang kecil-kecil bisa saya kerjakan sehari sampai seminggu," kata Gunawan di Bentara Budaya Yogyakarta (BBY) di Jalan Suroto, Kotabaru, Yogyakarta.

Menurutnya, karya yang menjadi masterpiece dalam pameran tersebut dibuat dengan melihat latar belakang keadaan bangsa Indonesia akhir-akhir ini. Karya menceritakan aktor-aktor politik Indonesia mulai dari awal proses seorang masuk jadi orang partai.

"Ada gambaran orang saling menindas, menginjak satu sama lain. Ada proses penyaringan, ada hukum rimba untuk berkuasa. Namun setelah keluar juga jadi badut dan akan berakhir di penjara atau masuk kotak," katanya.

Pameran Grafis Bonaventura Gunawan dan 5 Juta Cukilan KayunyaPameran Grafis Bonaventura Gunawan dan 5 Juta Cukilan Kayunya Foto: Bagus Kurniawan/ detikHOT


Menurutnya, semua karya yang dipamerkan merupakan gambaran realitas sosial, politik, kemasyarakatan yang ada saat ini dan ada yang harus dibenahi.

"Karya-karya saya ini bisa sebagai peringatan dini atas segala sesuatu yang tak beres dan terjadi sekarang ini. Ini realitas yang ada dan perlu dikritisi melalui seni," papar Gunawan.

Gunawan juga mengaku ada rasa khawatir seni ini akan punah. Seni yang sempat berkembang pada awal abad ke-13 hingga ke-14 ini berangsur-angsur dijauhi setelah teknik-teknik pencetakan ­modern berkembang diawali dengan ditemukannya mesin cetak.

Sementara itu, kurator pameran Kuss Indarto menambahkan sampai saat ini jarang ada seniman yang benar-benar menggeluti seni grafis seperti yang dilakukan B.Gunawan. Meski bakat kuatnya di seni grafis tersebut, dia cukup lama menghilang dari peredaran seni di Yogyakarta.

Pameran Grafis Bonaventura Gunawan dan 5 Juta Cukilan KayunyaPameran Grafis Bonaventura Gunawan dan 5 Juta Cukilan Kayunya Foto: Bagus Kurniawan/ detikHOT


"Bakatnya di grafis terutama cukil kayu sangat kuat sejak dulu," ungkap Kuss Indarto yang juga adik kelas saat kuliah di ISI Yogyakarta.

Kuss memaparkan karya seni grafis bukanlah karya sederhana. Ada banyak teknis yang harus dikuasai dan tidak semua orang akan tahan atau mau menekuninya. "Inilah tantangan yang tengah digeluti dengan baik oleh Gunawan, Bagaimana seni grafis ini mempunyai teknik cetak tinggi dan itu adalah bagian dari minat, kemampuan dan kecintaannya pada teknik klasik," katanya.

Dia mencontohkan ketekunan Gunawan saat menggarap karya berjudul 'Democracy Is My Li(f)e' dengan bahan hardboard berukuran 210 x 488 cm. Karya ini dikerjakan selama sebulan penuh. Dia rela berkonsentrasi tidak bekerja yang lain dan hanya mengerjakan karya tersebut.

"Kalau dihitung ada 5 jutaan cukilan kayu di karya itu," kata Kuss.

Sementara itu dosen Pasca Sarjana ISI, Dr Suwarno Wisetrotomo menambahkan tema-tema lanskap sosial terutama persoalan politik kekuasaan berhasil diwujudkan dengan utuh dan daya pesona karya-karya Gunawan.

"Tema-tema ini selalu kita temui dalam kehidupan manusia sehari-hari. Ada aktor intelektual, yang mana hero, mana badut-badut politik, mana yang oportunis, dan yang mana sang korban. Ada keculasan, kemunafikan, kesedihan dan kegetiran," katanya.



Menurut Suwarno karya Gunawan terlihat monokrom, tapi sesungguhnya berlapis-lapis warna yang dicapai dengan teknik reduksi yakni sebuah teknik yang bertumpu pada satu lembar hardboard sebagai klise yang dicukil. Selanjutnya dicetak sesuai kebutuhan warna yang diinginkan hingga klise terakhir yang hanya menyisakan bentuk yang terakhir.

"Semakin banyak warna yang diinginkan, klise akan semakin rusak. Karya Gunawan rata-rata menggunakan 7-22 warna yang berarti dicetak 7-22 kali. Sebuah karya yang panjang yang dilakoni dengan kesenangan dan kenikmatan," paparnya.

Dia menambahkan keterbatasan mata kirinya yang tidak berfungsi akibat kecelakaan saat main bulu tangkis, dia mampu menaklukkan medium dan tekniknya. Dari mencukil hingga mencetak hasilnya tidak mengecewakan. "Itu teknik yang dikuasainya sejak lama atau sejak mahasiswa," pungkas Suwarno.


(bgs/tia)

Photo Gallery
1 1 2 3 4 5 6
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed