DetikHot

art

Gandeng Teater Koma, 'Akhir Pekan di Museum' Kembali Hadir

Senin, 15 Mei 2017 16:30 WIB  ·   Tia Agnes - detikHOT
Gandeng Teater Koma, Akhir Pekan di Museum Kembali Hadir Foto: dapoerdongeng
Jakarta - Memasuki tahun kelima, program 'Akhir Pekan di Museum' yang digagas oleh Museum Nasional bersama kurator dapoerdongeng Yudhi Soerjoatmodjo kembali hadir menggandeng Teater Koma. Tema besar program tahun ini mengusung tentang keberagaman sekaligus pembauran, di tengah kritik dan penolakan terhadap kebhinekaan Indonesia.

Pada Minggu (14/5) lalu, program 'Akhir Pekan di Museum' menampilkan lakon dari Teater Koma tentang artefak di dalam museum. Bahkan program ini dinilai berhasil meningkatkan jumlah pengunjung.

"Kami butuh bermitra dengan orang-orang kreatif demi menciptakan terobosan-terobosan yang bisa menghidupkan kembali minat keluarga dan anak-anak Indonesia untuk berkunjung ke museum," tutur Direktur Museum Nasional Intan Mardiana dalam keterangan yang diterima.

Baca Juga: Teater Koma Kembali Pentas di 'Akhir Pekan @Museum'

Data yang tercantum dari dapoerdongeng, sepanjang tahun 2013-2016, program ini tak hanya berhasil menambah 13 ribu pengunjung dan lebih dari 500 ribu pengunjung, tapi juga meningkatkan frekuensi kunjungan mereka.

Teater Koma pentas 'Akhir Pekan di Museum' di Museum Nasional JakartaTeater Koma pentas 'Akhir Pekan di Museum' di Museum Nasional Jakarta Foto: dapoerdongeng


Saat program diluncurkan tahun 2013, sebanyak 51 % penonton disurvei mengaku sudah 3 tahun lamanya tidak mengunjungi Museum Nasional. Tahun ini, jumlah tersebut menurun drastis menjadi tinggal 2 % saja. Di tahun 2016, survei terhadap 530 responden menunjukkan sebanyak 43 % pengunjung kini telah mengunjungi museum lebih dari sekali dalam setahun.

"Meningkatnya kunjungan ke museum tidak bisa dilepaskan dari inovasi menghidupkan artefak dari zaman lampau melalui storytelling pentas dongeng dan panduan jelajah museum," tutur Yudhi Soerjoatmodjo.

"Ini upaya kami untuk mengajak anak-anak dan keluarga, untuk belajar kritis dalam melihat suatu persoalan, mempelajari, dan mempertimbangkan dulu berbagai sudut pandang, agar tidak sekadar latah dengan apa yang mereka lihat dan dengar di masyarakat," pungkasnya.



(tia/dar)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed