Yogie Achmad Ginanjar Terkejut Berhasil Menang di Sovereign Asian Art Prize 2017

Yogie Achmad Ginanjar Terkejut Berhasil Menang di Sovereign Asian Art Prize 2017

Tia Agnes - detikHot
Rabu, 10 Mei 2017 14:40 WIB
Yogie Achmad Ginanjar Terkejut Berhasil Menang di Sovereign Asian Art Prize 2017
Foto: The Sovereign Art Foundation
Jakarta - The Sovereign Asian Art Prize baru saja mengumumkan dua nama pemenang dari penghargaan bergengsi di Asia tersebut. Salah satunya adalah Yogie Achmad Ginanjar yang menang lewat voting publik.

Seniman lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) ini mengaku terkejut dengan terpilih nama dia.

"Suprised! Karena Sovereign Asia Art Prize (SAAP) merupakan salah satu Art Award paling prestisius di dunia Seni Rupa, khususnya di Asia. Untuk dinominasikan menjadi peserta saja saya sudah merasa sangat bersyukur," tutur Yogie Achmad Ginanjar kepada detikHOT, Rabu (10/5/2017).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Yogie Achmad Ginanjar pun lebih terkejut lagi ketika namanya berhasil masuk sebagai pemenang untuk menerima penghargaan pilihan publik. Serta diundang langsung ke Hong Kong untuk menerima penghargaan.

"Saya lebih terkejut lagi. Fakta bahwa publik banyak memilih karya saya adalah hal yang sangat membahagiakan bagi saya sebagai seniman, karena salah satu pencapaian seniman dari karya seninya adalah ketika karya seninya banyak diapresiasi oleh publik," lanjutnya.

Selain Yogie Achmad Ginanjar, seniman asal Yogyakarta Uji 'Hahan' Handoko juga masuk sebagai finalis. Dia menampilkan karya embroidery berjudul 'Stronger and Harder'. Kedua karya seniman Indonesia tersebut terpilih serta dinominasikan oleh Rifky Effendy.

Seleksi Ketat, Tertutup dan Kompetitif

The Sovereign Asian Art Prize 2017 dikenal sebagai ajang penghargaan bergengsi bagi seniman-seniman di Asia. Kompetisi tersebut diketahui sangat ketat, tertutup dan kompetitif. Penyelenggara dari Sovereign Art Foundation menunjuk para ahli seni di masing-masing negara Asia untuk memilih beberapa seniman yang berasal dari negara tersebut.

Pihak penyelenggara pun memilih para nominator yang terdiri dari kurator seni, kritikus, pemilik galeri, dan profesi lainnya di bidang seni rupa.

Khusus Indonesia sendiri, nama kurator kenamaan Rifky Effendi terpilih sebagai nominator yang menominasikan seniman yang dinilai memiliki reputasi yang baik.

"Selanjutnya para seniman yang ditunjuk diminta untuk mengirim foto karya yang diikutsertakan lengkap dengan CV, Portfolio juga konsepnya," kata Yogie Achmad Ginanjar.

Total karya yang masuk ada 530 karya dari 300 seniman. Kemudian, tim dewan juri menyeleksinya hingga terpilih 30 karya sebagai finalis.

"Alhamdulillah dari Indonesia, saya dan Hahan terpilih oleh dewan juri sebagai finalis," tuturnya.

Ke-30 karrya masuk dipamerkan sebanyak dua kali. Pertama, di The James Christie Room, 22/F Alexandra House,18 Chater Road, Central, Hong Kong, 19 – 21 April. Kedua, di The Rotunda: Exchange Square, 8 Connaught Place, Central, Hong Kong, 25 April – 4 Mei 2017.

Selama pameran berlangsung, tim panitia juga menggelar voting via internet. "Berdasarkan informasi yang saya terima kemudian, karya saya paling banyak mendapatkan Vote baik Vote melalui Internet dan Vote secara langsung dari para pengunjung pameran di Hong Kong. Alhamdulillah," pungkasnya. (tia/dar)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads