Dalam keterangan pers yang diterima detikHOT, Rabu (25/1/2017), acara akan dibuka dengan pertunjukan wayang oleh dalang Pak Toyo dengan judul 'King Parikesit'. Lakon ini menceritakan tentang seorang raja yang bertemu seorang pertapa ketika tengah berburu kijang. Sang raja marah karena pertapa tak kunjung merespons segala pertanyaannya. Kemarahan sang raja justru berbuah malapetaka bagi dirinya sendiri.
"Wayang artinya bayangan. Cerita di dalam wayang adalah refleksi dari watak manusia sendiri dan oleh karenanya menjadi pengingat kita untuk selalu mawas diri," kata Dalang Pak Toyo.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Usai penampilan pembuka, acara akan dilanjutkan dengan diskusi yang menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai bidang. Mereka adalah Yannick Lintz (Penanggung Jawab Departemen Seni Islam Museum Louvre Paris), Elizabeth Inandiak (sosiolog, penulis), Christian Girard (Guru Filsafat Sekolah Internasional Prancis Jakarta), Elisa Sutanudjaja (Penanggung Jawab Program Pusat Studi Perkotaan RUJAK) dan Wregas Bhanuteja (sutradara film pendek 'Prenjak'). Diskusi dimoderatori oleh Dominique Roubert (Atase Pers Kedubes Prancis di Jakarta).
Yannick Lintz sebagai Penanggung Jawab Departemen Seni Islam Museum Louvre Paris mengatakan saat ini di Grand Palais di Paris tengah berlangsung sebuah pameran yang dipersembahkan bagi upaya peninggalan sejarah di Suriah.
"Sebagai bagian dari upaya pelestarian benda bersejarah juga, kami membidik generasi muda melalui pendidikan untuk melatih empati dan kepedulian mereka sedini mungkin pada peninggalan bersejarah," katanya.
Eizabeth Inandiak yang juga penulis 'Centhini' juga bakal hadir mengisi diskusi. Sutradara Wregas Bhanuteja juga akan berdiskusi setelah pemutaran film karyanya berjudul 'Prenjak/ In The Year of Monkey' (2016).
'La Nuit des Idees' berlangsung pada 26 Januari pukul 18.00 WIB di Auditorium IFI, Jakarta.
Baca Juga: 'Cantik Itu Luka' Versi Bahasa Finlandia dan Kroasia Terbit Agustus
(tia/mmu)











































