'Mencicipi' Karya Seni Instalasi Seniman Korea-Indonesia

'Mencicipi' Karya Seni Instalasi Seniman Korea-Indonesia

Tia Agnes - detikHot
Senin, 31 Okt 2016 10:18 WIB
Mencicipi Karya Seni Instalasi Seniman Korea-Indonesia
Foto: Tia Agnes/ detikHOT
Jakarta - Apa yang terlintas di benak jika mengunjungi pameran seni yang mewajibkan pengunjungnya menggunakan kelima panca indra? Aneh atau memang sudah seharusnya?

Ketika melihat sebuah lukisan dipajang di pameran tertentu, seseorang biasanya menggunakan indra penglihat untuk menentukan lukisannya disukai atau tidak. Atau ketika menyentuh seni instalasi yang interaktif, kita akan menggunakan gerak tubuh untuk melakukannya. Kini, lewat eksibisi berjudul 'Dialogue with the Senses'- Pameran Seni Media Instalasi Korea-Indonesia' yang digelar bertepatan dengan Korea Festival di Jakarta, pengunjung diwajibkan menggunakan panca indra di setiap karya.

Dimulai dari karya Anang Saptoto asal Yogyakarta yang bersifat anamorfosis. Anang memilih peristiwa Asian Games di tahun 1962 sebagai subyek karyanya. Dia menyajikan momen permainan bulu tangkis dan balap sepeda di rangkaian karya seni instalasi 'Games of the New Emerging Forces' (GANEFO/ Pesta Olahraga Negara-negara Berkembang). Melihat ruangan yang penuh area bermain, banyak pengunjung yang mencoba bergaya layaknya sedang bermain bulu tangkis.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

'Mencicipi' Karya Seni Instalasi Seniman Indonesia-KoreaFoto: Tia Agnes/ detikHOT


Ke ruangan di sebelahnya, kita akan mendapati seni instalasi yang terinspirasi dari eksploitasi komoditas gula yang ada di Indonesia. Berbentuk seperti bongkahan batu warna-warni, 'Sucker Zucker' menceritakan kilas balik sejarah kolonial terkait gula.

"Elia Nurvista memang tertarik soal isu makanan dan memasak. Sekilas pas dilihat mungkin seperti batu saja, tapi ini sebenarnya bisa dimakan, lho. Ada bongkahan batu kecil yang sebenarnya itu adalah gula," ujar asisten kurator, Evelyn Huang, ketika detikHOT mengunjungi Galeria Fatahillah, Minggu (30/10/2016) lalu.

'Mencicipi' Karya Seni Instalasi Seniman Indonesia-KoreaFoto: Tia Agnes/ detikHOT


Di tengah karya terdapat 'Sucker Zucker' yang bisa dikoleksi dengan harga Rp 75.000. detikHOT pun mencoba karya tersebut. Awalnya terasa manis, lalu muncul rasa pahit. "Itu pahitnya dari biji mahoni. Seperti itulah sejarah kolonial gula di Indonesia semasa dahulu," tutur Evelyn.

Di seberangnya, terdapat 'The Trio Angels' Heri Dono yang terinspirasi dari film 'Charlie Angels'. "Heri Dono sengaja dihadirkan karena dia adalah pelopor seni kontemporer Indonesia, meski karya lainnya high-tech, tapi Heri Dono dengan banyak alasan harus ditampilkan," tambahnya.

Masih di ruang yang sama, terdapat lilin aromaterapi dari Fajar Abadi. Ada mangkuk bergambar ayam khas Indonesia dan doenjang jjigae ditaruh di atas wadah kaca. Panca pencium menyimbolkan 'Rasarumah' ketika Fajar beresidensi di Korea beberapa waktu lalu.

'Mencicipi' Karya Seni Instalasi Seniman Indonesia-KoreaFoto: Tia Agnes/ detikHOT


Di ruang yang didominasi warna biru, seniman asal Korea Selatan Park Seung Soon menghadirkan 'Symphonie Aquatique'. "Dengan memencet kabel ini, lalu tangan menyentuh air yang ada di mangkuk gelas, maka akan menimbulkan bebunyian dan musik tradisional khas Indonesia. Karya ini sangat interaktif dan mengajak pengunjung untuk bermain," lanjut Evelyn.

Di depannya, Ricky 'Babay' Janitra menciptakan instalasi pemetaan video lewat 'Illogical Room' (Ruang Irasional). Beberapa lapis kelambu nyamuk digantung di langit-langit dan diproyeksi oleh citra sinyal dan bunyi. Persis di seberangnya lagi, ada Hye Rim Lee, Choi Suk Young, dan satu lagi yang sangat menarik yakni 'Jangdna' karya Kim Hyung Joong.

'Mencicipi' Karya Seni Instalasi Seniman Indonesia-KoreaFoto: Tia Agnes/ detikHOT


Kurator Jeong-ok Jeon dalam pengantarnya mengatakan hidup di era digital, kita mengalami bagaimana para indra bekerjasama sebagai satu komponen yang saling memicu. Sebagai sebuah perpanjangan dan katalis dari kehidupan sensoris kita, media tidak hanya memengaruhi seluruh aspek indrawi, tapi juga membuka pintu bagi sensasi baru.

Pameran 'Dialogue with the Senses' karya 9 seniman Korea-Indonesia masih bisa dilihat di Galeria Fatahillah hingga 3 November mendatang!

(tia/dal)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads