Diciptakan selama empat bulan, usai menerima penghargaan Gatot menceritakan gagasan lukisannya serta teknik 3Dimensi yang diciptakannya. Teknik yang dipadukan dengan kriya itu yang memukau perhatian tim dewan juri sehingga memutuskan karya Gatot bersifat global, unik, bernilai tinggi, serta berbeda dengan seniman-seniman lainnya.
Menurut pria lulusan ISI Yogyakarta, di dalam lulisannya menampilkan keunikan Indonesia. "Saat kondisi yang mencekam, ada bom, dan terorisme, masyarakatnya masih ada yang beraktivitas seperti biasanya, jualan sate, naik metromini, dan lain-lain. Masih ingat kan berita tentang tukang sate yang laris pas lagi ada serangan bom di Sarinah. Potret tersebut yang mau saya tampilkan," katanya saat mengobrol di Ciputra Gallery, semalam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Apa yang saya tampilkan adalah sebuah akumulasi dari banyak kejadian di Indonesia," tambah dia.
Sepanjang prosesnya, Gatot sempat mengalami kegagalan sebanyak tiga kali. Kesulitan dalam membuat karya mixed media ini mengharuskan dia menggonta-ganti material. Kata Gatot, ada tiga lapisan kesulitan di karyanya.
Pertama, adalah seni kriya, seni patung, dan seni lukis. "Memang lebih dominan seni lukis, tapi di sini saya harus memotong, menyusun, dan melewati tahap sketsa, studi karya, menempel efek 3D, lalu mulai melukis lagi. Colouring-nya untuk menciptakan efek 3D," tambahnya.
Di tengah hiruk pikuk kota Jakarta dan segala macam kejadian yang terjadi, lanjut Gatot, kita pastinya tidak akan keluar dari negeri ini. "Benar atau salah ya ini adalah rumahku."
Ke depannya, lukisan Gatot akan dikompetisikan di tingkat regional untuk memenangkan penghargaan UOB Southeast Asian Painting of the Year. Gatot bersama pemenang dari Malaysia, Singapura, dan Thailand akan memperebutkan hadiah utama. Nantinya, seluruh karya yang memenangkan kejuaraan akan dipamerkan di UOB Art Gallery, Singapura. Gatot juga berkesempatan memenangkan program residensi selama satu bulan di Fukuoka Asian Art Museum.
Sebelumnya pria kelahiran Bogor ini pernah memenangkan Winner Indonesian Art Award (2008) dan UOB Painting of the Year (2011). Dia pun aktif mengikuti pameran sejak 2010 lalu di Singapura 'Simple Pleasure', 'Sh Contemporary 09' di Shanghai, dan 'ASYAFF' di Korea Selatan. (tia/dar)










































