Pameran yang dikuratori oleh Jeong-ok Jeon, mengatakan seni, data dan teknologi mampu menjadi trend. "Di era Big Data, seniman visual telah melakukan perkembangan ekstrim dalam menggunakan medium. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang berkarya menggunakan obyek atau subyek konkrit, seniman masa kini mengeksplorasi data yang abstrak sebagai bahan dasar," kata kurator yang kini berdomisili di Indonesia, Jumat (2/9/2016). Sebelumnya, dia pernah berkarier sebagai kurator di Seoul, Paris, Venesia, Brisbane, Bangkok, dan Washington DC.
Simak: Kisah Doraemon dan Hanoman Meriahkan Malam Budaya Indonesia di Hokkaido
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Suar Artspace yang mendukung eksibisi juga mengungkapkan lewat 'Visualizing the Invisible' bertujuan untuk memperlihatkan bahwa batasan kreativitas sangat luas dan tak berujung. "Seni bisa ditemukan dalam semua hal, dalam masyarakat, data, dan teknologi," tutur juru bicara Suar, Nin Djani.
Seniman yang berpartisipasi adalah Angelica Dass (Brazil), Angki Purbandono (Indonesia), House of Natural Fiber/ HONF (Indonesia), Hysteria (Indonesia), Mioon (Korea Selatan), dan Sey Min (Korea Selatan). Pameran akan berlangsung hingga 6 September mendatang.
(tia/doc)











































