Salah satu pemilik toko buku Causeway Bay Bookstore bernama Lam Wing Kee, 61 tahun mengadakan konferensi pers dan menceritakan tentang penahanan tanpa proses hukum tersebut. Kasus mereka mencekam karena Tiongkok dinilai mengganggu kebebasan berekspresi di Hong Kong.
Lam menceritakan sebelum tokonya dibeli oleh Gui, dia diculik di kota Shenzhen pada 24 Oktober. Setelah diamankan, diborgol, dan ditutup matanya, ia diinterogasi dan ditahan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya dipenjara sendirian, di bawah pengawasan 24 jam dan tidak diperbolehkan meninggalkan sebuah ruangan kecil. Saya tidak disiksa secara fisik tapi diteror secara psikologis," katanya, dilansir dari BBC, Jumat (17/6/2016).
Contohnya saja sikat gigi yang digunakannya sangat kecil dan terhubung dengan benang nilon. "Ketika saya menyikat gigi, penjaga akan memegang ujung lain dan setelah selesai, sikatnya harus dibuang. Mereka takut saya akan mencoba bunuh diri dengan menelan sikat gigi. Seseorang pasti telah melakukan sebelumnya," lanjut Lam lagi.
Baca Juga: Tertarik Kolaborasi Bareng di 'Australasian Association of Writing Programs'?
Maret lalu, ketiga rekannya dibebaskan dan dikembalikan ke Hong Kong. Sedangkan Lam dipindahkan ke sebuah kamar di kota Shaoguan, provinsi Guangdong. Ke-5 penerbit dan penjual buku yang hilang adalah Lui Bo yang hilang 15 Oktober. Lalu ada Cheung Jiping hilang di Dongguan 15 Oktober. Dua hari kemudian, Gui Minhai menghilang di Thailand.
Seminggu kemudian, Lam Wing-kee menghilang, dan Lee Boo, 65 tahun juga menghilang di Hong Kong pada 30 Desember. Buku berjudul 'Nightmare' disebut-sebut terkait dengan Sage Communications (perusahaan penerbitan yang merilis buku tentang kritik terhadap pemerintah Tiongkok).
(tia/mmu)










































