Novel karangan penulis asal Ukraina tersebut dinilai mampu mencampuradukkan beragam genre, dari jurnalisme investigatif, kritik, sampai kisah perjalanan. Dengan begitu, Pomerantsev mengalahkan rival penulis dunia lainnya dengan karya yang meliputi kategori fiksi, non-fiksi, dan puisi.
Yakni buku kumpulan puisi tentang pedesaan Irlandia 'The River' oleh Jane Clarke, 'The Great Explosion' oleh Brian Dillon yang mengisahkan tentang kebakaran di sebuah pabrik pada 1916 silam, 'Weatherland' Alexandra Harris tentang sejarah musim di Inggris, 'The Shepherd's Life' oleh James Rebanks, dan 'This Divided Island' oleh Samanth Subramanian tentang sejarah peperangan di Sri Lanka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam sebuah wawancara kepada Guardian, seperti dikutip detikHOT, Selasa (24/5/2016), Pomerantsev yang lahir di Ukraina dan kini tinggal di London telah bekerja sebagai wartawan, sutradara film, dan juga konsultan Uni Eropa, dan Bank Dunia. Ia telah merasakan beragam rezim kekuasaan di negara asalnya, hingga era Rusia baru.
"Rusia yang baru menjadi negara terkaya, enerjik, dan paling berbahaya. Mereka memiliki minyak, wanita paling cantik, dan sekutu," katanya.
Salah satu dewan juri Kate Adie mengatakan novel Pomerantsev mengungkapkan era baru Rusia yang lebih modern sekaligus banyak keserakahan di dalamnya. "Ia mampu menyampaikan dalam prosa panjang yang berkilauan, tajam, dan banyak implisit kepada pembaca," tandas Adie.
Penghargaan Ondaatje diberikan kepada penulis fiksi, non-fiksi, maupun puisi yang memberikan semangat baru terhadap ranah sastra internasional. Penghargaan ini diberikan untuk menghormati Christopher Ondaatje dan pemenang yang menang mendapatkan hadiah sebesar Β£10,000 atau senilai Rp 196 juta.
(tia/tia)











































