Minimnya Festival Mural di Jakarta, Ini Pesan Darbotz untuk Pemerintah

Tia Agnes - detikHot
Selasa, 19 Apr 2016 11:03 WIB
Foto: Asep Syaifullah/detikHOT
Jakarta - Jakarta memiliki banyak tembok untuk dibuatkan grafiti dan mural. Namun, sayangnya ruang dan festival mural di ibukota belum banyak mendapatkan tempat dibandingkan ranah seni lainnya yang didukung pemerintah. Hal tersebut dikatakan oleh pendiri Tembok Bomber, Darbotz.

"Di luar sana banyak banget festival mural yang gede banget. Di sini untuk bikin project festival mural segede itu kayaknya masih susah," ucapnya di sela-sela pembukaan pameran kolaborasi 'Sama Sama' bareng 22 street artist di Garduhouse Art Space and Gallery.

Simak: Darbotz dan Ironi 'Tiban Meniban' Grafiti

Pemikiran dari pemerintah dan jajaran terkait, kalau mural dan grafiti itu harus yang literal atau bersifat normatif. "Jadi gambar orang yang lagi nyapu di jalan atau baca buku, dan yang semacamnya. Menanggapi Indonesia dan kotanya dengan gambar yang seperti itu," lanjutnya lagi.

Darbotz mencontohkan festival mural yang baru saja didatanginya di Taiwan bulan lalu. Di sana, festival mural berskala internasional mengundang banyak street artist ternama, dan membuat grafiti tidak hanya di tembok jalanan, tapi juga gedung sekolah dan pemerintahan.

Grafiti 'monster' Darbotz sendiri dibuatnya di bangunan sekolah dasar. "Nggak bisa dibayangkan saya membuatnya di tembok sekolah yang ada 4 lantai. Dan itu diizinkan, pemerintah sana benar-benar mendukung street art," kata Darbotz.

Tak hanya Darbotz, pastinya street artist lainnya ingin 'merusak' tembok tapi dalam artian 'membuat bagus'. "Dirusak tapi jadi lebih bagus lagi dan festival seperti itu yang belum ada!"

Selain itu, terkait persoalan 'ruang' bukan ditandai dengan disediakannya galeri atau tempat untuk membuat grafiti. Karena, street itu tempatnya di jalanan, bukan di galeri-galeri yang keren dan bagus. Kalau pun ada ruang, maka generasi baru mungkin saja akan senang dan mudah mengaksesnya. Namun, bagi Darbotz sendiri setiap street artist harus mencari ruangnya sendiri.

"Karena kebebasan di jalan, sebenarnya kita mencari ruang di jalan, bukan meminta kepada pemerintah. Karena sama aja dengan gambar di jalanan yang kayak advertising, bedanya grafiti dan mural itu digambarnya pakai ego kita, kalau advertising ya brand mereka," pungkasnya. 

(tia/tia)