Berawal dari Trilogi, Dee Lestari Beberkan Inspirasi Novel 'Supernova'

ADVERTISEMENT

Berawal dari Trilogi, Dee Lestari Beberkan Inspirasi Novel 'Supernova'

Tia Agnes - detikHot
Senin, 29 Feb 2016 13:20 WIB
Foto: Tia Agnes
Jakarta - 'Supernova' karya Dewi Lestari berawal dari rencana menerbitkan secara trilogi pada 2001 silam. Namun, rencana perempuan yang akrab disapa Dee itu berubah ketika merilis seri berjudul 'Akar', 'Petir', 'Partikel', dan 'Gelombang'.  

Dee mengubah haluannya dari trilogi menjadi heksalogi. Para pembacanya pun menanti setiap kejutan dalam serinya sampai perjalanan yang mencapai usia 15 tahun. Ditemui saat perayaan '15 Tahun Supernova', Dee menceritakan awalnya empat seri setelah 'Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh' merupakan bab sebuah buku.

"Akar, Petir, Partikel, dan Gelombang, adalah bab-bab yang mau saya bikin dalam satu buku. Yang tadinya satu bab, saya jadikan satu buku untuk trilogi," ucapnya kepada detikHOT.

Secara konsep dan jalan ceritanya tidak berubah dan Dee pun sudah memetakannya. "Saya sudah berpikir judul Inteligensi Embun Pagi sejak awal dan memang akan menjadi episode terakhir dari Supernova," lanjutnya.

Baca Juga: Bintang Jatuh Hingga Embun Pagi, Perayaan 15 Tahun Novel 'Supernova'

Perjalanan menulis 'Supernova' diawali dari pengalaman pribadi yang dibungkusnya secara fiksi. Segala pertanyaan tentang spiritualitas terus menghantuinya sampai menginjak usia 23 tahun. "Tapi siapa sih yang mau percaya dengan omongan wanita umur 23 tahun yang mau sharing soal spiritualitas. Menulis lambat laun menjadi wadah aku untuk mengungkapkan ide-ide besar dan jauh fleksibel," tutur istri Reza Gunawan ini.

Baginya, isu spiritualitas dan pencarian jati diri menjadi isu sentral dalam setiap cerita dan karakter yang ada di 'Supernova'. Semakin lama berkembang pula ide cerita 'Supernova' dan diakui Dee ada banyak pertanyaan.

"Saat itu, Indonesia banyak konflik agama dan terjadi peristiwa Ambon 1998. Aku sangat terusik. For me, that doesn't make sense, semua orang menyembah Tuhan tapi karena merasa paling benar dari orang lain, peristiwa itu terjadi."

Pertanyaan tersebut menginspirasi dan menghadirkan beragam karakter. Seperti di seri pertama, dua orang pria yang hubungannya baik-baik saja tapi menyukai sesama jenis, perempuan yang memiliki intelektualitas tinggi namun juga berprofesi sebagai Pekerja Seks Komersil (PSK). Atau karakter Bodhi yang menggemari tato tapi harus mempertanyakan dirinya siapa, serta karakter lainnya yang semuanya termuat dalam seri pertama sampai Supernova ke-6.

Di akhir, lewat jaringan dan misi yang dinamakan 'Para Peretas' semua karakter berjumpa namun di titik tersebut Dee mengakhiri cerita. "Aku hadir bertahun-tahun sama mereka dan tumbuh bareng. Selama ini karakter tunggal ada di satu buku, tapi sekarang semuanya harus jadi satu. Rasanya kayak orkestrasi sekaligus tantangan yang menarik," ujar Dee.

Kini, 'Inteligensi Embun Pagi' sudah hadir di toko buku sejak 26 Februari lalu. Selamat berburu 'Embun Pagi'!

(tia/tia)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT