Dengan dukungan penuh Japan Foundation, program residensi yang juga akan menjadi kegiatan tahunan ini bertujuan untuk merekatkan hubungan dan membuka pertukaran ide serta pengetahuan antar penulis di negara-negara ASEAN dan negara sahabat.
Direktur ASEAN Literary Festival, Abdul Khalik mengatakan program residensi yang dirancang dalam bentuk tinggal bersama dengan masyarakat di Kampung Muara, Jakarta sekaligus memberi kesempatan penulis untuk melihat dan mengalami langsung kehidupan masyarakat di salah satu negara ASEAN.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lokasi Kampung Muara yang dimaksud di dalam residensi adalah sebuah kampung yang ada di Jakarta Selatan. Kampung tersebut mayoritas penduduknya adalah suku asli ibukota yakni Betawi. Terletak di pinggir Sungai Ciliwung, program ini punya tujuan tertentu. Selain mendekatkan penulis dan masyarakat, residensi ini juga menghadirkan kesadaran untuk melestarikan ligkungan, baik dalam lingkungan atau kehidupan sehari-hari.
Nantinya, di program ini para peserta akan mengasah kemampuan menulis melalui diskusi, workshop, dan interaksi sosial. Serta ada program mengenal Jakarta, mengunjungi sekolah-sekolah negeri di Jakarta, dan berbagai kegiatan lain terkait pertukaran kebudayaan.
Program residensi ASEAN Literary Festival ini terbuka untuk penulis dari sepuluh negara ASEAN, Timor Leste, dan Jepang, yang berusia dari 18-40 tahun. Untuk melamar program ini, calon peserta hanya cukup mengirimkan karya baik yang sudah dipublikasikan ataupun yang belum dipublikasikan ke sekretariat ASEAN Literary Festival. Informasi selengkapnya di Twitter @aseanlitfest.
(tia/tia)











































