Rahasia Keluarga di Balik Paspor dalam Karya Seni Tintin Wulia

Laporan dari Singapura

Rahasia Keluarga di Balik Paspor dalam Karya Seni Tintin Wulia

Tia Agnes - detikHot
Jumat, 29 Jan 2016 16:58 WIB
Rahasia Keluarga di Balik Paspor dalam Karya Seni Tintin Wulia
Foto: Tia Agnes
Marina Bay Sands - Ratusan paspor dari 142 negara yang berbeda-beda tergantung rapi di area booth Osage Gallery. Di depannya, terdapat tiga meja yang diisi oleh para pengunjung Art Stage Singapore 2016. Mereka sibuk menggunting, memotong lembaran kertas, dan mewarnai halaman depan paspor tersebut. Aktivitas yang dilakukan oleh pengunjung dan seniman Tintin Wulia menarik perhatian siapa saja.

Lewat 'Make Your Own Pasport' (2014), Tintin mengajak para pengunjung untuk berhenti sejenak, mampir ke booth-nya, dan miliki paspor sendiri berdasarkan keberuntungan mereka. Karya seni instalasi ciptaannya pun sebenarnya, kata Tintin, berasal dari rahasia tersembunyi keluarganya. Ketika ditemui detikHOT di Marina Bay Sands Expo and Convention Level 2 Hall D,E,F pekan lalu, Tintin menceritakan kisahnya.

"Sejak tahun 2007, fokus karyaku di persoalan perbatasan. Tahun 2003, aku juga pernah bikin karya tentang paspor tapi itu karena peristiwa 9/11 karena kontrol paspor kan makin ketat saat itu," ujarnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Baca Juga: Potterhead, Bersiaplah! Malam Buku Harry Potter Ada di Jakarta

Fokus karyanya pun kian konsisten ketika bertemu dengan Sobron Aidit (adik dari DN Aidit) di Prancis. "Tahun-tahun itu semuanya jadi lebih jelas," tutur perempuan kelahiran 1972 silam.



Ditambah dengan rahasia keluarga Tintin yang pernah terjadi di tahun 1965. Salah satu anggota keluarganya ikut diciduk pemerintah saat era tersebut. Sampai usianya menginjak 33 tahun, Tintin tidak berani berbicara blak-blakan ke publik. Sekitar tahun 2003-2005, pengertian tentang 'identitas', 'perbatasan', dan 'negara' dipertanyakannya.

"Tahun 2007, fokus ke border dan latar belakang itu semuanya," kata Tintin yang kini tinggal di Australia.

Lulusan Arsitektur Universitas Parahyangan ini juga memiliki gelar sarjana di bidang musik untuk scoring film dari Berklee College of Music, Boston. Gelar teranyar yang baru saja didapatkannya di tahun 2014 adalah doktor dalam bidang Seni dari RMIT University, Melbourne. Dia pernah menghasilkan karya dalam bentuk video, mural, obyek, teks, instalasi, dan performing arts. Sebelumnya, Tintin pernah berpartisipasi dalam beberapa pameran berskala internasional.

Seperti Istanbul Biennial (2005), Yokohama Triennial (2005), dan Jakarta Biennale (2006 dan 2009). Dia juga pernah terlibat dalam 'Be(com)ing Dutch' di Van Abbemuseum, Eindhoven, Belanda (2008), 'Geopolitics of Animation' di Centro Andaluz de Arte Contemporanea, Seville, Spanyol (2008), 'Transfiguration: Indonesian Mythologies' di Espace Culturel Loius Vuitton, Paris, Prancis (2011), 'Insomnia' di Institute of Contemporary Art, London, Inggris (2005), 'FACT' di Liverpool Biennial, Liverpool, Inggris (2006), Clermont-Ferrand Short Film Festival, Clermont-Ferrand, Prancis (2008), International Film Festival, Rotterdam, Belanda (2005 dan 2009).

(tia/mmu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads