Penulis yang mengkritik Xi Jinping itu mengatakan, sekarang publikasi buku tersebut masih ditangguhkan di Hong Kong. "Penerbit takut akan konsekuensi besar dari penerbitan buku karena ada lima penerbit kota yang hilang dalam beberapa bulan terakhir," katanya, dilansir dari Guardian, Jumat (15/1/2016).
Simak: Seniman Thailand Raih Penghargaan Seumur Hidup dari Prudential
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lee Bo merupakan penerbit Mighty Current dan yang kelima hilang tanpa jejak. Sebelumnya pada Oktober 2015, ada lima perwakilan penerbit yang hilang.
Baca Juga: Jakarta Biennale 2015 Ditutup dengan Pasar Loak dan Pentas Musik!
Menurut istrinya, Lee sedang ditahan dan diinvestigasi. "Saya yakin dia sudah menjadi tahanan politik dan secara ilegal diasingkan ke suatu tempat. Kemungkinannya ditangkap karena mau menerbitkan buku yang menguak kehidupan pribadi Presiden Xi," lanjutnya.
The International Publishers Association mengungkapkan keprihatinannya yang mendalam terhadap situasi tersebut. "Penghilangan ini menimbulkan pertanyaan mengerikan tentang kebebasan berekspresi dan mempublikasikan sebuah karya di Tiongkok," lanjut perwakilan asosiasi penerbit internasional, Richard Charkin.
Penulis Yu mengatakan bahwa ia telah menghubungi penerbit lain agar merilis buku tersebut tapi tidak ada yang mau. Namun, rencananya buku 'Nightmare' akan dirilis di Taiwan Februari mendatang.
(tia/mmu)











































