Eksklusif! Intip Wawancara Bareng Jean-Marie Roughol 'Si Penulis-Tunawisma'

Memoar Tunawisma Prancis

Eksklusif! Intip Wawancara Bareng Jean-Marie Roughol 'Si Penulis-Tunawisma'

Tia Agnes - detikHot
Rabu, 30 Des 2015 14:28 WIB
Eksklusif! Intip Wawancara Bareng Jean-Marie Roughol Si Penulis-Tunawisma
Foto: Getty Images
Jakarta - Ketika kisah hidup Jean-Marie Roughol terangkat ke publik sejak tiga bulan lalu, banyak komentar positif tersebar dan pesan persahabatan mengalir di linimasa akun Facebook pribadinya. Bahkan pria yang selama 27 tahun itu hidup di jalanan diundang ke sebuah program stasiun televisi dan makin dikenal publik.

Baca Juga: Jean-Marie Roughol, Kisah Inspiratif Tunawisma yang Bukunya Terlaris di Paris

Bukunya yang berjudul 'Je tape la manche: Une vie dans la rue (My Life As A Panhandler: A Life on the Streets)' dan setebal 176 halaman laku keras di toko-toko buku. Baru tiga bulan diluncurkan, kisah perjalanannya dibeli lebih dari 50 ribu pembaca seluruh dunia, khususnya di Paris.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bagaimana perjalanan hidup Jean-Marie Roughol 'si penulis-tunawisma' tersebut? Berikut petikan wawancara detikHOT bersamanya lewat akun Facebook, Rabu (30/12/2015):


Bagaimana ceritanya perjalanan hidup Anda diterbitkan penerbit ternama Prancis?
Semua berawal dari pertemuan saya dengan Jean Louis DebrΓ©, Kepala Mahkamah Konstitusi. Lalu ada pemberitaan mengenai peristiwa itu. Itulah awal naskah saya dilirik penerbit.

Dalam waktu 3 bulan, terjual lebih dari 50 ribu kopi. Apa yang ingin Anda sampaikan kepada pembaca lewat buku yang ditulis?
Ya, ada pesan yang ingin saya sampaikan dalam buku ini: memberi pemahaman kepada masyarakat bahwa tiap orang memiliki kebutuhan akan tempat tinggal dan kami adalah manusia juga.

Anda menulis buku ini sejak 2 tahun yang lalu, di mana menulisnya dan dari mana datang inspirasinya?
Saya menulis buku ini di jalanan, di trotoar, dan di taman-taman. Inspirasi datang dari kenangan yang terpatri dalam kepala saya.

Hal apa saja yang ingin diceritakan dalam buku ini?
Tentunya ada banyak hal. Dimulai dari masa kecil saya yang suram penuh kekerasan, bagaimana bertahan di jalanan, teman-teman tunawisma, kejahatan-kejahatan yang terjadi di jalanan. Saya ingin membuat orang lain paham bahwa tidak sedikit orang yang berbuat jahat kepada kami gelandangan. Namun, syukurlah masih ada juga yang mau membantu seperti misalnya asosiasi Resto du Coeur yang tak hanya membagikan makanan kepada kami tetapi juga memberikan dorongan moral.

Jadi, ada pesan tersembunyi?
Iya. Pesan positif dalam buku ini membuat tak sedikit orang yang dapat menarik pelajaran untuk kemudian memperlakukan tunawisma secara lebih baik dan lebih manusiawi.

Apa saja perubahan yang terjadi di hidup Anda, sebelum dan sesudah menjadi penulis?
Ya, tentu! Ada perubahan yang terjadi. Sebagian tunawisma telah mendapat tempat tinggal yang layak, orang-orang pun semakin baik dalam memperlakukan tunawisma seperti menyapa dan memberi makanan.

Kapan royalti buku Anda terima?
Saya akan menerimanya Juni 2016.

Untuk sementara, Anda tinggal di jalanan atau bareng dengan saudara laki-laki yang bertemu berkat program stasiun televisi?
Untuk sementara, saya tinggal di hotel namun dalam beberapa waktu lagi saya akan punya rumah yang disediakan oleh walikota. Itu hotel khusus tunawisma. Saya memakai uang hasil meminta-minta agar dapat tidur di tempat yang hangat seperti hotel ini.


(tia/doc)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads