Seniman Yogya Mulai Hindari Kawasan Malioboro untuk Pajang Karya

Seniman Yogya Mulai Hindari Kawasan Malioboro untuk Pajang Karya

Bagus Kurniawan - detikHot
Senin, 07 Des 2015 20:32 WIB
Seniman Yogya Mulai Hindari Kawasan Malioboro untuk Pajang Karya
Foto: Bagus Kurniawan
Yogyakarta - Beberapa seniman patung di Yogyakarta mulai menghindari ruang publik seperti kawasan Jalan Malioboro hingga titik nol kilometer di Simpang Empat Kantor Pos Besar Yogyakarta. Alasannya kawasan tersebut sudah semrawut dan tidak ada ruang publikyangmamadahi untuk memajang sebuah karya seni.

Oleh karena itu beberapa seniman patung yang tergabung dalam Asosiasi Pematung Indonesia (API) memilih menggelar karyanya di kawasan Jl Margo Utomo (Mangkubumi) hingga kawasan Kleringan Kotabaru Yogyakarta. Mereka pun menggelar pameran bertajuk "Antawacana" mulai tanggal 30 Oktober hingga 15 Desember 2015 nanti.

"Kami mempertimbangkan beberapa aspek dalam meletakkan karya para seniman di ruang publik yang berpartisipasi dalam Jogja Street Sculupture Project (JSSP) 2015 ini," ungkap Ketua Asosiasi Pematung Indonesia (API) Anusapati dalam acara diskusi di gedung Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH) Universitas Gadjah Mada (UGM), Senin (7/12/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut dia, panitia sengaja menghindari kawasan Malioboro dan memilih kawasan Jl Margo Utomo (Mangkubumi) hingga Kleringan Kotabaru karena kawasan Malioboro hingga titik nol kilometer sudah penuh dengan berbagai fasilitas publik dan tata ruang kota yang sudah padat.



"Ini yang kami hindari. Kami memilih tempat selain Malioboro agar karya-karya kami yang ada tidak mengganggu fungsi publik yang ada, seperti ramah publik, interaktif dan memberikan akses publik yang baik," katanya.

Sementara itu menurut Ketua Panitia JSSP 2015, Heidi Haryanto pemilihan kawasan Jalan Margo Utomo hingga Kleringan ternyata mendapat respons masyarakat yang luar biasa. Hampir semua karya seniman sebanyak 30-an lebih karya seni direspons positif oleh masyarakat sekitar.

"Semua karya seni mulai dari Plaza Tugu Yogyakarta dan karya yang terpajang di sepanjang Margo Utomo hinggta Kleringan direspons dengan baik oleh masyarakat. Ini menandakan ada komunikasi yang baik antara seniman, tempat dan masyarakat," kata Heidi.

Menurut dia, proposal peserta JSSP 2015 ini sebanyak 67 proposal. Namun kemudian panitia memilih menjadi 32-an karya. Selama proses pembuatan karya, pembuatan maket hingga pameran, panitia terus melakukan pemantauan dan pendampingan.



"Saat ini baru di kawasan Jl Margo Utomo dan sekitarnya. Tahun depan bisa ditempat lain di sekitar Yogyakarta. Tahun ini panitia mendapat dukungan dari Dinas Kebudayaan DIY," katanya.

Dia mencontohkan beberapa karya seni yang terpajang yang mendapat respons masyarakat yang diwujudkan dengan berfoto di dekat beberapa karya tersebut. Karya Amboro Liring dengan patung tokoh Spiderman yang sedang makan nasi menggunakan daun pisang (nasi pincuk) berisi lauk cakar ayam memberikan pesan bahwa di era sekarang ini masih berkutat persoalan perut atau urusan makan.



Demikian pula karya-karya yang lain Teguh S. Priyono berjudul No Parking dengan menempatkan sebuah motor Vespa warna merah dalam kondisi tertanam dan nungging di trotoar yang menggambarkan kesan semrawutnya lalu-lintas dan perparkiran sekarang ini.

"Hampir semua karya menarik sehingga respon publik pun juga baik," kata Heidi.

(ron/ron)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads