Mengingat Sejarah Lewat 'Museum Temporer Rekoleksi Memori'

Tia Agnes - detikHot
Jumat, 04 Des 2015 11:52 WIB
Foto: Festival Rekoleksi Memori
Jakarta -

Sejumlah tragedi kemanusiaan dan kasus pelanggaran hak asasi manusia terus terjadi sejak 1965 silam. Di antaranya kasus Tanjung Priok, Penembakan Misterius, Talang Sari, Penghilangan Paksa 1997-1998, Kerusuhan Mei 1998, Trisakti, Semanggi I dan II, Marsinah, Udin sampai kasus Wasior. 

Banyaknya kasus yang tak terselesaikan tersebut, membuat tim penyelenggara untuk pertama kalinya menggelar 'Festival Rekoleksi Memori'. Festival yang berlangsung dimulai pada 4 sampai 12 Desember akan diadakan di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta.

Salah satu inisiator festival, Yulia Evina Bhara mengatakan dengan mengetahui sejarah dan jati diri kita, maka makin besar pula kekuatan untuk menyelesaikan kasus pelanggaran HAM yang terjadi. "Ada banyak rangkaian acara, salah satunya dengan berdirinya Museum Temporer Rekoleksi Memori, pameran foto, diskusi, pemutaran film dalam Festival Film Rekoleksi Memori," ujarnya dalam keterangan pers, Jumat (4/12/2015). 

Nantinya, 'Museum Temporer Rekoleksi Memori' akan memuat memori atau kenangan dari pelaku sejarah yang tidak pernah tercatat di buku sejarah resmi. Bangunan museum sementara yang akan dibangun di area TIM dirancang oleh arsitek muda Indonesia, Stephanie Larassati, Gosha Muhammad dan WEN Urban Office. Museum sementara akan berdiri sejak hari pembukaan 7-12 Desember. 


"Museum ini sekaligus sebagai pernyataan bahwa generasi muda menolak untuk menutup mata atas sejarah pelanggaran HAM dan tragedi kemanusiaan yang terus terjadi di Indonesia," ungkapnya. 

Selain itu, seniman muda juga akan berpartisipasi. Mereka adalah Asrida Elisabeth, Bayu Prihantoro, Steve Pillar Setiabudi, Amerta Kusuma, Adrian Mulya, Lilik HS, Elisabeth Ida Mulyani, Sigit Pratama, Yovi Ahtajida, Kiki Febriyanti, Jompet Kuswidananto, Kelompok Band Merah Bercerita, melalui film, foto, instalasi seni dan musik.

Sebelum malam pembukaan pada 7 Desember nanti, 'Festival Rekoleksi Memori' akan dibuka dengan festival film di KineForum TIM Jakarta. Dari 15 film yang diputar, ada 4 film yang diproduksi khusus untuk 'Festival Rekoleksi Memori' yang ditayangkan untuk pertama kalinya. Ke-4 film tersebut yakni 'Tida Lupa' karya Asrida Elisabeth, 'Saudara Dalam Sejarah' karya Amerta Kusuma, 'Tarung' karya Steve Pillar Setiabudi dan “0990” karya Bayu Prr.


"Bagi generasi muda, kita tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Perbedaan ideologi tidak boleh diselesaikan dengan jalan kekerasan," tambah Yulia. 

Selain Yulia, festival ini juga diinisiasi oleh Amerta Kusuma dari Partisipasi Indonesia. Serta kolaborasi bersama Komisi Hak Asasi Manusia Republik Indonesia (Komnas HAM), Dewan Kesenian Jakarta, serta didukung oleh Movies That Matter, ELSAM, Yayasan IkA, AJAR, LBH-Jakarta, Pamflet, IKOHI, Majalah Historia, Marsinah FM, YCHR, /PLAY, Program Peduli, INFID, AlineaTV.



(tia/doc)