βSaya memang pengagum Pram, terutama dengan visi kemaritimannya yang tertuang dalam novelnya Arus Balik,β ujar Misbach Tamrin (74) saat ditemui di malam pembukaan pameran tunggalnya di Galeri Nasional akhir pekan lalu. Itulah sebabnya, Misbach meminjam judul novel yang menginspirasinya itu untuk menjadi tajuk pameran lukisannya.
Lalu, apa kaitannya dengan Ceng Ho? βLaksamana Ceng Ho dari Tiongkok adalah simbol gagasan tentang kelautan yang hendak saya sampaikan lewat pameran ini,β ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia pun sempat memuji pilihan orientasi pemerintahan Presiden Jokowi yang memperhatikan kembali potensi kelautan. Kendati demikian, dalam pameran tunggal perdananya tersebut, Misbach yang merupakan anggota Sanggar Bumi Tarung yang dulu berafiliasi dengan Lekra itu tak melulu menampilkan βtema besarβ yang terkesan penuh jargon.
Sebagai pelukis βrealisme revolusionerβ, pengalaman pribadinya yang diwarnai dengan trauma pasca 1965 tetap hadir di kanvas. Salah satunya adalah pengalaman pahit dengan tentara. Dalam beberapa lukisan Misbach, orang-orang berseragam hijau hadir dalam adegan-adegan yang mengesankan sebuah kekerasan dan kekacauan.
Dalam lukisan berjudul βMas Suparmanβ (2009) misalnya, Misbach menggambarkan ketegangan antara tentara dengan seorang sopir becak. Ada kesan humor di balik lukisan yang pedih itu, ketika dilihat bahwa sang tukang becak mengenakan kaos berlogo superhero Hollywood βSupermanβ.
Tumbuh sebagai seniman di zaman βgeger-gegeranβ, bisa berpameran tunggal di era yang sudah jauh berubah tentu mempunyai makna tersendiri bagi Misbach. Ia mengatakan bahwa secara ideologi, tidak ada yang berubah pada dirinya. βIdeologi itu tidak lekang,β ujarnya ketika berbincang dengan detikHOT. Namun, sebagai seniman yang melintasi masa-masa pemerintahan rezim yang berbeda, dirinya terus mengikuti perkembangan.
Masalah tenaga kerja wanita di luar negeri yang kerap memprihatinkan, tak luput dari perhatian Misbach. Juga, perkembangan kota termasuk Jakarta, terekam dalam serial lukisan sketsa berbingkai mungil.
Setelah perjalanan yang panjang, melewati prahara dan ruang penjara, Misbach Tamrin sepertinya memilih untuk berdiri di sisi pemerintah yang sekarang. Hal itu tampak dari perayaannya lewat dua buah lukisan barangka tahun 2015. Satu lukisan berjudul βBerderap Maju demi Kelautan Nusantaraβ dan satu lagi βMembangun Indonesia sebagai Poros Maritim Duniaβ. Yang terakhir ini menggambarkan Jokowi-JK bersama jajaran menterinya tengah berdialog dengan para nelayan di pantai.
Secara simbolis, pameran tunggal Misbach Tamrin selain bersifat retrospektif, sekaligus hendak mengawal pemerintahan saat ini, yang menyadari bahwa βkita telah terlalu lama memunggungi laut...."
(mmu/mmu)











































