Pram, Ceng Ho dan Jokowi-JK dalam Lukisan Misbach Tamrin

Pameran 'Arus Balik' Misbach Tamrin (3)

Pram, Ceng Ho dan Jokowi-JK dalam Lukisan Misbach Tamrin

Is Mujiarso - detikHot
Senin, 23 Nov 2015 16:10 WIB
Pram, Ceng Ho dan Jokowi-JK dalam Lukisan Misbach Tamrin
Jakarta - Dua potret wajah lelaki itu tak sulit untuk dikenali. Dia adalah Pramoedya Ananta Toer, sastrawan yang terkenal dengan novelnya β€˜Arus Balik’ dan Tetralogi Pulau Buru. Lukisan potret Pram itu ada di antara satu seri lukisan yang berjumlah sepuluh kanvas besar, yang mengambarkan perjalanan kepahlawanan Ceng Ho.

β€œSaya memang pengagum Pram, terutama dengan visi kemaritimannya yang tertuang dalam novelnya Arus Balik,” ujar Misbach Tamrin (74) saat ditemui di malam pembukaan pameran tunggalnya di Galeri Nasional akhir pekan lalu. Itulah sebabnya, Misbach meminjam judul novel yang menginspirasinya itu untuk menjadi tajuk pameran lukisannya.

Lalu, apa kaitannya dengan Ceng Ho? β€œLaksamana Ceng Ho dari Tiongkok adalah simbol gagasan tentang kelautan yang hendak saya sampaikan lewat pameran ini,” ujarnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pameran retrospektif Misbach memang mengemban misi yang berat dan ambisius. Yakni, β€œmembangun negeriku sebagai maritim dunia dan merajut kembali halaman sejarah yang hilang”. Misbach memang terpesona dengan visi kemaritiman, yang dianggapnya sebagai β€œhalaman sejarah yang hilang”, dan lewat pameran tersebut ia ingin merajutnya kembali.

Ia pun sempat memuji pilihan orientasi pemerintahan Presiden Jokowi yang memperhatikan kembali potensi kelautan. Kendati demikian, dalam pameran tunggal perdananya tersebut, Misbach yang merupakan anggota Sanggar Bumi Tarung yang dulu berafiliasi dengan Lekra itu tak melulu menampilkan β€œtema besar” yang terkesan penuh jargon.

Sebagai pelukis β€œrealisme revolusioner”, pengalaman pribadinya yang diwarnai dengan trauma pasca 1965 tetap hadir di kanvas. Salah satunya adalah pengalaman pahit dengan tentara. Dalam beberapa lukisan Misbach, orang-orang berseragam hijau hadir dalam adegan-adegan yang mengesankan sebuah kekerasan dan kekacauan.

Dalam lukisan berjudul β€˜Mas Suparman’ (2009) misalnya, Misbach menggambarkan ketegangan antara tentara dengan seorang sopir becak. Ada kesan humor di balik lukisan yang pedih itu, ketika dilihat bahwa sang tukang becak mengenakan kaos berlogo superhero Hollywood β€œSuperman”.

Tumbuh sebagai seniman di zaman β€œgeger-gegeran”, bisa berpameran tunggal di era yang sudah jauh berubah tentu mempunyai makna tersendiri bagi Misbach. Ia mengatakan bahwa secara ideologi, tidak ada yang berubah pada dirinya. β€œIdeologi itu tidak lekang,” ujarnya ketika berbincang dengan detikHOT. Namun, sebagai seniman yang melintasi masa-masa pemerintahan rezim yang berbeda, dirinya terus mengikuti perkembangan.

Masalah tenaga kerja wanita di luar negeri yang kerap memprihatinkan, tak luput dari perhatian Misbach. Juga, perkembangan kota termasuk Jakarta, terekam dalam serial lukisan sketsa berbingkai mungil.

Setelah perjalanan yang panjang, melewati prahara dan ruang penjara, Misbach Tamrin sepertinya memilih untuk berdiri di sisi pemerintah yang sekarang. Hal itu tampak dari perayaannya lewat dua buah lukisan barangka tahun 2015. Satu lukisan berjudul β€˜Berderap Maju demi Kelautan Nusantara’ dan satu lagi β€˜Membangun Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia’. Yang terakhir ini menggambarkan Jokowi-JK bersama jajaran menterinya tengah berdialog dengan para nelayan di pantai.

Secara simbolis, pameran tunggal Misbach Tamrin selain bersifat retrospektif, sekaligus hendak mengawal pemerintahan saat ini, yang menyadari bahwa β€œkita telah terlalu lama memunggungi laut...."




(mmu/mmu)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads