Seniman Belanda dan Yogyakarta Residensi Soal Air di Surabaya

Jakarta Biennale 2015

Seniman Belanda dan Yogyakarta Residensi Soal Air di Surabaya

Tia Agnes Astuti - detikHot
Rabu, 11 Nov 2015 14:11 WIB
Seniman Belanda dan Yogyakarta Residensi Soal Air di Surabaya
Kurator Jakarta Biennale 2015 (Dok.Tia Agnes/ detikHOT)
Jakarta - Persoalan air menjadi topik terpenting yang diangkat oleh penyelenggara Jakarta Biennale 2015. Salah satu seniman yang akan mempresentasikannya adalah Lifepatch (Yogyakarta) dan Bik Van der Pol (Belanda). Keduanya melakukan residensi singkat di komunitas Paguyuban Warga Strenkali Surabaya.

Salah satu kurator Benny Wicaksono dari Jawa Timur mengatakan karya-karya yang akan ditampilkan oleh dua kelompok seniman nantinya melihat kembali sungai sebagai sesuatu yang penting. "Surabaya jadi venue pas untuk mereka meriset persoalan air," ujarnya kepada detikHOT di Gudang Sarinah Jakarta Selatan, belum lama ini.

Baca Juga: 6 Kurator Muda di Balik Jakarta Biennale 2015

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sungai kerap dianggap sebagai tong sampah. Segala sesuatu dibuang ke kali dan menjadi persoalan yang tak pernah berhenti. "Kita melihat sungai sebagai proses bersama dan masyarakat menjadi yang tidak terperhatikan oleh pemerintah," sambungnya.



Maka, kelompok seniman Lifepatch membuat teknologi tepat guna menggunakan biji pohon kelor. Material tersebut sebagai pembersih atau filterasi sederhana untuk penjernihan air.

Simak: Jakarta Biennale 2015 Angkat Tiga Isu Besar Ibukota

"Mereka bekerja sama juga dengan mikrobiologi dan pakai bahan-bahan sederhana," ungkap pendiri WAFT-Lab, komunitas kolektif kreatif pada 2009.

Sedangkan seniman Bik Van der Pol meruntun ulang sejarah yang ada di paguyuban tersebut. Nantinya, kedua grup seniman akan mempresentasikannya lewat karya seni instalasi yang dipajang di Gudang Sarinah, Jalan Pancoran Timur II, Jakarta Selatan.

Simak terus artikel jelang pembukaan Jakarta Biennale 2015 berikutnya!

(tia/mmu)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads