Salah satu kurator Benny Wicaksono dari Jawa Timur mengatakan karya-karya yang akan ditampilkan oleh dua kelompok seniman nantinya melihat kembali sungai sebagai sesuatu yang penting. "Surabaya jadi venue pas untuk mereka meriset persoalan air," ujarnya kepada detikHOT di Gudang Sarinah Jakarta Selatan, belum lama ini.
Baca Juga: 6 Kurator Muda di Balik Jakarta Biennale 2015
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Maka, kelompok seniman Lifepatch membuat teknologi tepat guna menggunakan biji pohon kelor. Material tersebut sebagai pembersih atau filterasi sederhana untuk penjernihan air.
Simak: Jakarta Biennale 2015 Angkat Tiga Isu Besar Ibukota
"Mereka bekerja sama juga dengan mikrobiologi dan pakai bahan-bahan sederhana," ungkap pendiri WAFT-Lab, komunitas kolektif kreatif pada 2009.
Sedangkan seniman Bik Van der Pol meruntun ulang sejarah yang ada di paguyuban tersebut. Nantinya, kedua grup seniman akan mempresentasikannya lewat karya seni instalasi yang dipajang di Gudang Sarinah, Jalan Pancoran Timur II, Jakarta Selatan.
Simak terus artikel jelang pembukaan Jakarta Biennale 2015 berikutnya!
(tia/mmu)











































