Jakarta Biennale 2015 Angkat Tiga Isu Besar Ibukota

Jakarta Biennale 2015

Jakarta Biennale 2015 Angkat Tiga Isu Besar Ibukota

Tia Agnes Astuti - detikHot
Rabu, 11 Nov 2015 12:18 WIB
Jakarta Biennale 2015 Angkat Tiga Isu Besar Ibukota
Persiapan jelang pembukaan Jakarta Biennale 2015 (Dok.Tia Agnes/ detikHOT)
Jakarta - Dengan tema 'Maju Kena Mundu Kena', Jakarta Biennale 2015 ingin meninjau masa kini tanpa harus terjebak nostalgia masa lalu dan mimpi-mimpi masa depan. Tahun ini, Jakarta Biennale mengangkat tiga isu besar ibukota, yang juga menjadi isu nasional. Apa saja?

Yakni, isu mengenai air, sejarah, dan gender. Kurator Charles Esche mengatakan biennale tahun ini memang lebih mengedepankan tiga isu besar tersebut.

"Saya pikir kita seharusnya mulai memikirkan Biennale untuk orang, untuk masyarakat, bukan seniman atau penyelenggara. Dan bagaimana kita mengkomunikasinya dengan baik," ujarnya kepada detikHOT di Gudang Sarinah, Jalan Pancoran Timur II, Jakarta Selatan, Rabu (11/11/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Charles yang merupakan Direktur Van Abbemuseum di Eindhoven, Belanda sejak 2004, bicara soal air semua orang Jakarta punya masalah. "Banyak orang yang hidup di bantaran Kali Ciliwung, permasalahan air bersih yang minim dan air tidak pernah ada habisnya diperbincangkan," lanjutnya lagi.

Baca Juga: 6 Kurator Muda di Balik Jakarta Biennale 2015

Demikian pula dengan persoalan gender dan seksualitas. "Permasalahan ini kompleks tapi bagaimana kurator membuat sederhana yang kompleks itu," tambah Charles.

Sejak 2009 lalu, Jakarta Biennale telah bertransformasi dengan melibatkan publik dan ruang-ruang kota sebagai bagian dari praktik serta strategi artistiknya. "Tujuannya menjadikan Jakarta Biennale sebagai praktik seni rupa yang kritis dan merespons ruang kotanya," ucap Ade Darmawan, Direktur Eksekutif Jakarta Biennale, beberapa waktu silam.

Simak: Puisi Gunung Sampai Kontroversi Gunung Padang Dibahas di BWCF 2015

Jakarta Biennale 2015 tak hanya menampilkan karya seni dari sekitar 70 seniman Tanah Air dan mancanegara saja. Tapi banyak seminar dan simposium yang melibatkan masyarakat luas.

Simak terus artikel jelang pembukaan Jakarta Biennale 2015!

(tia/mmu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads