Yakni, isu mengenai air, sejarah, dan gender. Kurator Charles Esche mengatakan biennale tahun ini memang lebih mengedepankan tiga isu besar tersebut.
"Saya pikir kita seharusnya mulai memikirkan Biennale untuk orang, untuk masyarakat, bukan seniman atau penyelenggara. Dan bagaimana kita mengkomunikasinya dengan baik," ujarnya kepada detikHOT di Gudang Sarinah, Jalan Pancoran Timur II, Jakarta Selatan, Rabu (11/11/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca Juga: 6 Kurator Muda di Balik Jakarta Biennale 2015
Demikian pula dengan persoalan gender dan seksualitas. "Permasalahan ini kompleks tapi bagaimana kurator membuat sederhana yang kompleks itu," tambah Charles.
Sejak 2009 lalu, Jakarta Biennale telah bertransformasi dengan melibatkan publik dan ruang-ruang kota sebagai bagian dari praktik serta strategi artistiknya. "Tujuannya menjadikan Jakarta Biennale sebagai praktik seni rupa yang kritis dan merespons ruang kotanya," ucap Ade Darmawan, Direktur Eksekutif Jakarta Biennale, beberapa waktu silam.
Simak: Puisi Gunung Sampai Kontroversi Gunung Padang Dibahas di BWCF 2015
Jakarta Biennale 2015 tak hanya menampilkan karya seni dari sekitar 70 seniman Tanah Air dan mancanegara saja. Tapi banyak seminar dan simposium yang melibatkan masyarakat luas.
Simak terus artikel jelang pembukaan Jakarta Biennale 2015!
(tia/mmu)











































