Syakir Daulay kembali dipercaya menjadi imam dalam pelaksanaan salat Idul Fitri. Ini merupakan tahun ketiga, bagi aktor sekaligus penyanyi tersebut memimpin jemaah dalam ibadah di hari kemenangan.
Pada awalnya, ia merasa tidak percaya diri untuk mengemban tanggung jawab besar tersebut. Namun, dorongan dari para guru dan ulama besar, membuatnya bersedia menerima amanah sebagai imam meski sempat ada keraguan di dalam hati.
"Syakir juga awalnya gak berani gitu, tapi karena memang guru-guru besar yang nunjuk, ya sudah. Jadi ada kalimat tuh gini: 'Imtisalul amr khairun min sulukil adab'. Jadi di atasnya adab itu adalah ya nurut sama perintah gitu," kata Syakir Daulay saat ditemui di kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan, Sabtu (21/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perjalanan Syakir Daulay menjadi seorang imam tidaklah instan. Ia mengaku, banyak belajar dari para guru mengenai tata cara salat hingga menghafal Al-Qur'an secara mendalam sebelum akhirnya terbiasa tampil di depan jemaah. Dalam proses belajarnya, pria kelahiran Aceh ini tak menampik pernah melakukan kesalahan manusiawi saat memimpin salat.
Salah satu momen yang paling diingatnya adalah ketika lupa jumlah takbir yang seharusnya dilakukan dalam rakaat salat Idul Fitri. Kesalahan itu, justru menjadi pelajaran berharga yang membuatnya kini lebih teliti dan berani memberikan edukasi kepada jemaah sebelum salat dimulai.
"Sempat awal-awal salat Idul Fitri, namanya dulu kan belajar kan pasti pernah ada kurang kan, sempat lupa takbir tujuh kali sama lima kalinya. Tapi gara-gara itu akhirnya setelah itu nggak pernah lupa lagi. Dan akhirnya jadinya ngingetin jemaah juga kan," kenangnya.
Di tahun ketiganya, Syakir Daulay merasa jauh lebih santai dan rileks saat berdiri di depan mik masjid. Baginya, tanggung jawab sebagai imam bukan sekadar rutinitas ibadah tahunan, melainkan sarana untuk memperbaiki diri secara personal di tengah kesibukannya di dunia hiburan.
Ia memandang, posisi imam sebagai pengingat agar dirinya terus menjaga perilaku dan akhlak di kehidupan sehari-hari. Hal ini dianggapnya sebagai kontrol otomatis dalam setiap langkah yang diambilnya agar tetap berada di jalur yang benar.
"Ini juga akhirnya kan jadi rem juga kan, bahan introspeksi buat Syakir. 'Oh, kalau sudah mulai belajar jadi imam segala macam, ya berarti kitanya juga harus tambah lebih baik', gitu," terang Syakir Daulay.
Lebih lanjut, ia menekankan pengalaman ini memberikannya pelajaran berharga tentang kepemimpinan yang lebih luas. Ia ingin, agar perannya bisa menjadi cerminan bagaimana ia memimpin jalan hidupnya sendiri dan mempersiapkan masa depan.
"Jadi sebenarnya sambil jadi imam kan, sambil kita memantaskan diri jadi imam dalam hidup juga. Jadi banyak hal yang dipelajari saat kita sudah bisa mengimami orang dalam beribadah gitu kan," pungkasnya.
(ahs/wes)











































